
WAINGAPU — Tiga sekolah di Kabupaten Sumba Timur mulai memperkuat Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN). Ketiga sekolah tersebut adalah SDM Mbatakapidu, SDN Ndapayami, dan SDN Waitama.
Program ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif. Selain itu, sekolah juga didorong untuk mencegah kekerasan, perundungan, diskriminasi, serta berbagai risiko yang dapat mengancam anak dan warga sekolah lainnya.
Pengembangan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Sumba Timur juga mencakup perlindungan anak di ruang digital. Karena itu, sekolah perlu membangun budaya saling menghormati. Setiap warga sekolah memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman.

Perkuat Aturan dan Sistem Perlindungan
Langkah awal pengembangan BSAN dilakukan melalui Workshop Penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), Kode Etik, dan Tata Tertib Sekolah.
Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Sumba Integrated Development (SID) dengan dukungan ChildFund International di Indonesia. Workshop berlangsung pada 8 September 2026 di Aula Program Studi Keperawatan Kemenkes Kota Waingapu.
Kepala SDM Mbatakapidu, Martinus Umbu Tali, mengatakan budaya sekolah aman dan nyaman penting untuk mendukung proses belajar. Menurutnya, sistem yang jelas juga dapat memberikan perlindungan bagi murid, guru, dan seluruh warga sekolah.
“Budaya sekolah aman dan nyaman memberikan arah, pegangan, dan perlindungan bagi murid, guru maupun sekolah demi menciptakan ruang tumbuh yang memuliakan setiap individu,” ujarnya.
Karena itu, sekolah akan terus memberikan edukasi kepada warga sekolah. Edukasi tersebut mencakup penghormatan terhadap sesama dan pencegahan berbagai bentuk kekerasan.
Sekolah juga perlu memahami kekerasan yang dapat terjadi di ruang digital. Dengan pemahaman yang baik, warga sekolah dapat mengambil langkah yang tepat ketika terjadi masalah.

Empat Aspek Utama BSAN
Pandangan serupa disampaikan Kepala SDN Ndapayami, Lingga Wandalu, dan Kepala SDN Waitama, Apner Domianus. Keduanya menilai BSAN penting untuk memperkuat sistem perlindungan anak di sekolah.
Dalam pengembangannya, terdapat empat aspek utama yang menjadi perhatian. Pertama, pemenuhan kebutuhan spiritual. Kedua, perlindungan fisik.
Selanjutnya, sekolah perlu memperhatikan kesejahteraan psikologis dan keamanan sosiokultural. Aspek keempat adalah keadaban dan keamanan digital.
Keempat aspek tersebut saling berkaitan. Dengan demikian, sekolah tidak hanya berfokus pada keamanan fisik. Sekolah juga perlu memperhatikan kondisi psikologis, hubungan sosial, serta keamanan anak saat menggunakan teknologi.


Membangun Pencegahan Sejak Awal
Program Koordinator SID, Anton Jawamara, mengatakan pengembangan BSAN menjadi langkah konkret untuk memperkuat pencegahan kekerasan di satuan pendidikan.
Menurut Anton, pendekatan ini mendorong sekolah untuk tidak hanya bertindak setelah kekerasan terjadi. Sebaliknya, sekolah perlu membangun sistem pencegahan sejak awal.
“Peraturan ini lebih komprehensif dalam pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah. Bukan saja berbicara tentang penanganan kasus kekerasan, tetapi juga bagaimana menciptakan budaya aman dan nyaman melalui empat pilar utama,” jelas Anton.
Saat ini, SID mendampingi ketiga sekolah dalam mengembangkan kebijakan internal. Kebijakan tersebut meliputi SOP, kode etik, dan tata tertib sekolah.
Ketiga sekolah diharapkan dapat menjadi model awal sekolah aman dan nyaman di Sumba Timur. Model ini dapat menjadi contoh bagi sekolah lain dalam memperkuat tata kelola dan perlindungan anak.



Melibatkan Banyak Unsur
Workshop tersebut diikuti 52 peserta. Mereka berasal dari unsur kepala sekolah dan pendidik, kelompok Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat (PABM), Forum Anak, serta perwakilan orang muda.
Selama kegiatan, peserta mengikuti diskusi dan praktik bersama. Mereka memetakan mekanisme rujukan jika terjadi kasus kekerasan. Peserta juga menyusun SOP, tata tertib, dan kode etik sekolah.
Melalui proses ini, sekolah diharapkan memiliki aturan yang jelas. Lebih dari itu, aturan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan penguatan sistem dan budaya sekolah, anak-anak di Sumba Timur diharapkan dapat belajar dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan terlindungi.