Sumba Integrated Development

Berita

Menguatkan Suara dan Perlindungan Anak, Desa Ndapayami Sosialisasikan Peraturan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Anak

Perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga, masyarakat, dan pemerintah desa. Menyadari pentingnya membangun lingkungan yang aman dan ramah bagi anak, SID didukung ChildFund Intenasional di Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Desa Ndapayami, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur melaksanakan kegiatan Sosialisasi Peraturan Kepala Desa Ndapayami Nomor 3 Tahun 2025 tentang Pencegahan, Penanganan, dan Pendampingan Kasus Kekerasan terhadap Anak. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk upaya memperkuat pemahaman masyarakat mengenai hak-hak anak, bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak, langkah pencegahan, serta mekanisme penanganan dan pendampingan apabila terjadi kasus kekerasan terhadap anak. Sosialisasi ini menjadi penting karena masih terdapat tantangan berupa kurangnya pemahaman sebagian masyarakat mengenai perlindungan anak, pola pengasuhan yang positif, pencegahan perkawinan anak, serta peran bersama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Kegiatan yang berlangsung di Desa Ndapayami, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur ini diikuti oleh 38 peserta yang berasal dari unsur pemerintah desa, orang muda, dan pengurus Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat (PABM) serta masyarakat umum. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan adanya komitmen bersama untuk membangun sistem perlindungan anak berbasis masyarakat di tingkat desa. Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman mengenai tiga aspek utama perlindungan anak, yaitu pencegahan, penanganan kasus, dan pendampingan korban. Pencegahan dilakukan melalui peningkatan kesadaran masyarakat, edukasi hak anak, penguatan pengasuhan positif, serta upaya mencegah berbagai risiko yang dapat mengancam anak. Ketika terjadi kasus, masyarakat memahami pentingnya pelaporan, respon awal, koordinasi, dan rujukan kepada pihak terkait. Sementara itu, pendampingan korban menjadi bagian penting agar anak mendapatkan perlindungan, pemulihan, serta dukungan yang dibutuhkan. Diskusi bersama peserta juga memperkuat kesadaran bahwa perlindungan anak tidak hanya menjadi tugas pemerintah desa, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat. Peserta menekankan pentingnya memperluas sosialisasi hingga tingkat dusun, RT/RW, dan keluarga agar semakin banyak masyarakat memahami cara melindungi anak dari kekerasan, perkawinan anak, maupun risiko di dunia digital. Sebagai hasil kegiatan, Pemerintah Desa Ndapayami, orang muda, dan pengurus PABM menyepakati komitmen bersama untuk melanjutkan sosialisasi Peraturan Kepala Desa Nomor 3 Tahun 2025 kepada masyarakat yang lebih luas. Pemerintah desa, orang muda, dan PABM juga akan menjadi penggerak utama dalam menyampaikan informasi dan membangun kesadaran masyarakat, dengan dukungan SID dalam proses penguatan dan pendampingan kegiatan. Melalui langkah bersama ini, Desa Ndapayami terus berupaya mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak, sehingga setiap anak dapat tumbuh dan berkembang dengan perlindungan serta dukungan dari seluruh masyarakat.

Menguatkan Suara dan Perlindungan Anak, Desa Ndapayami Sosialisasikan Peraturan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Anak Read More »

Menumbuhkan Wirausaha Muda dari Desa, SID dan ChildFund Dampingi Pengembangan Agrosilvopastoral di Sumba Timur

Di Desa Mbatakapidu, sekelompok orang muda mulai mengembangkan usaha hortikultura dengan menanam berbagai jenis sayuran seperti kangkung, sawi, tomat, cabai, dan terung. Untuk menjaga kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, mereka memanfaatkan pupuk organik yang berasal dari kotoran kambing yang telah difermentasi. Sistem ini menjadi bagian dari model agrosilvopastoral yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan kehutanan dalam satu kawasan usaha produktif. Selain budidaya tanaman hortikultura, para pemuda di Mbatakapidu juga memperoleh pendampingan dari SID dan ChildFund dalam pengelolaan ternak kambing, penanaman hijauan pakan ternak, serta pengembangan tanaman umur panjang yang berfungsi mendukung konservasi lahan dan sumber daya air. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan yang beragam sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga di pedesaan.       Sementara itu, orang muda di Desa Ndapayami mulai mengembangkan usaha budidaya bawang merah sebagai komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan kewirausahaan kaum muda sekaligus memperkuat sektor pertanian desa. Dengan dukungan pendampingan teknis dan pengelolaan usaha yang difasilitasi oleh SID bersama ChildFund, para peserta diharapkan mampu mengembangkan usaha pertanian yang produktif dan berkelanjutan.         Pengembangan agrosilvopastoral tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya menjaga lingkungan. Melalui integrasi tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan pohon-pohon produktif, sistem ini mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim.         Program yang dilaksanakan oleh SID dengan dukungan ChildFund ini menjadi bukti bahwa orang muda desa memiliki potensi besar untuk menjadi pelaku utama pembangunan ekonomi lokal. Dengan pendampingan yang tepat, inovasi pertanian yang ramah lingkungan, serta semangat kewirausahaan, anak-anak muda di Mbatakapidu dan Ndapayami mulai menunjukkan bahwa sektor pertanian dapat menjadi pilihan usaha yang menjanjikan sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan di Sumba Timur.

Menumbuhkan Wirausaha Muda dari Desa, SID dan ChildFund Dampingi Pengembangan Agrosilvopastoral di Sumba Timur Read More »

SID dan ChildFund Indonesia Akhiri 20 Tahun Pendampingan di Tujuh Desa Sumba Timur

Setelah hampir 20 tahun mendampingi masyarakat di Kecamatan Nggaha Ori Angu, Kabupaten Sumba Timur, Sumba Integrated Development (SID) bersama ChildFund International di Indonesia resmi mengakhiri pendampingan program di tujuh desa dampingan. Momen tersebut ditandai melalui kegiatan bertajuk “Merayakan Dampak, Menginspirasi Masa Depan” yang diselenggarakan pada 13 Mei 2026 di Aula Kantor Kecamatan Nggaha Ori Angu. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang yang telah dilalui bersama masyarakat, pemerintah desa, sekolah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Sebanyak 165 peserta hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk perwakilan pemerintah, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, pemuda, dan anak-anak dari desa dampingan. Dampak Pendampingan Selama Dua Dekade Selama hampir dua dekade, SID dan ChildFund Indonesia menjalankan berbagai program yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup anak dan keluarga. Program-program tersebut mencakup bidang pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, penguatan ekonomi keluarga, pelestarian lingkungan, serta pengembangan kapasitas kelembagaan desa. Berbagai perubahan positif telah terlihat di masyarakat. Akses terhadap layanan dasar semakin baik, kesadaran akan pentingnya perlindungan anak meningkat, dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa semakin kuat. Direktur Eksekutif SID, Anto Kila, mengatakan bahwa perubahan yang terjadi merupakan hasil dari proses panjang yang dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak. “Banyak capaian yang dapat kita lihat hari ini. Semua ini lahir dari kerja sama, komitmen, dan semangat masyarakat untuk terus berkembang,” ujarnya. Investasi untuk Masa Depan Anak Salah satu fokus utama pendampingan adalah memastikan anak-anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Melalui berbagai program yang dijalankan, anak-anak memperoleh akses yang lebih baik terhadap pendidikan, pengembangan keterampilan hidup, serta ruang untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosial mereka. Menurut Anto Kila, banyak anak yang pernah menjadi peserta program kini telah berhasil meniti karier di berbagai bidang. “Anak-anak yang dulu mengikuti program kini ada yang menjadi ASN, guru, anggota TNI, pegawai swasta, hingga wirausahawan. Ini menunjukkan bahwa investasi pada anak akan memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat,” katanya. Ia juga menegaskan pentingnya melanjutkan upaya perlindungan anak di tingkat desa agar setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan mereka. Pembelajaran dan Komitmen Bersama Selain seremoni penutupan, kegiatan ini juga menghadirkan diskusi dan talk show tentang penguatan Desa Layak Anak dan perlindungan anak berbasis masyarakat. Para narasumber berbagi pengalaman mengenai penguatan layanan PAUD, pendidikan kecakapan hidup, literasi keuangan, serta peran Forum Anak dalam mendukung pembangunan sosial di desa. Kepala SMP Negeri 1 Nggaha Ori Angu, Sri Martini Thomas, menyampaikan bahwa Program Pendidikan Kecakapan Hidup dan Literasi Keuangan yang diperkenalkan melalui pendampingan telah menjadi bagian dari proses pembelajaran di sekolah. Menurutnya, program tersebut sejalan dengan semangat Merdeka Belajar dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik. Sementara itu, Camat Nggaha Ori Angu, John Umbu Nggaba Tay, mengapresiasi kontribusi SID dan ChildFund Indonesia dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia di wilayahnya. Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Kepala Dinas DP3AP2KB Kabupaten Sumba Timur, Oktavianus Tamu Ama. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendorong pemenuhan indikator Kabupaten Layak Anak dan mengembangkan praktik-praktik baik yang telah dihasilkan melalui program pendampingan. Merayakan Dampak, Menginspirasi Masa Depan Suasana selebrasi semakin meriah dengan berbagai penampilan seni dan budaya lokal. Anak-anak dan masyarakat menampilkan tarian tradisional, syair adat luluku, serta pembacaan puisi yang menggambarkan perjalanan dan harapan mereka untuk masa depan. Bagi masyarakat Nggaha Ori Angu, kegiatan ini bukan sekadar penutupan program. Momentum ini menjadi perayaan atas berbagai perubahan yang telah dicapai bersama selama hampir 20 tahun. Berakhirnya pendampingan tidak berarti berakhirnya upaya pembangunan masyarakat dan perlindungan anak. Fondasi yang telah dibangun melalui kerja sama antara masyarakat, pemerintah, SID, dan ChildFund Indonesia diharapkan terus berkembang dan memberikan manfaat bagi generasi-generasi berikutnya di Sumba Timur.

SID dan ChildFund Indonesia Akhiri 20 Tahun Pendampingan di Tujuh Desa Sumba Timur Read More »

Tantangan Literasi dan Numerasi di Sumba Timur

Dari Kemampuan Dasar Menuju Pemahaman Mendalam Berdasarkan Hasil Studi INOVASI 2025. Kemampuan literasi dan numerasi merupakan fondasi utama bagi kualitas pendidikan suatu bangsa. Anak yang mampu membaca dengan pemahaman yang baik dan menggunakan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari memiliki peluang lebih besar untuk berhasil dalam pendidikan lanjutan, dunia kerja, serta kehidupan sosial. Oleh karena itu, peningkatan literasi dan numerasi menjadi prioritas penting dalam pembangunan pendidikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Kabupaten Sumba Timur, upaya peningkatan kualitas literasi dan numerasi telah dilakukan melalui berbagai program pendidikan, salah satunya melalui kemitraan dengan program INOVASI. Studi Baseline INOVASI tahun 2025 memberikan gambaran awal mengenai kondisi kemampuan literasi dan numerasi siswa pada kelas awal sekolah dasar. Studi ini menggunakan pendekatan cross-sectional quantitative dengan melibatkan 15 sekolah dasar yang dipilih secara acak. Responden yang terlibat dalam penelitian ini cukup luas, yaitu 600 siswa kelas 1–4, 60 guru kelas, 15 kepala sekolah, 575 orang tua siswa, serta 2 pengawas pendidikan. Data ini memberikan gambaran penting tidak hanya mengenai kemampuan belajar siswa, tetapi juga mengenai praktik pembelajaran, lingkungan belajar di sekolah, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan dasar di Sumba Timur.   Kemajuan pada Literasi Dasar Hasil studi menunjukkan bahwa siswa di Sumba Timur relatif berhasil dalam menguasai literasi dasar, terutama pada kemampuan mengenali huruf, suku kata, dan kata. Kemampuan ini merupakan tahap awal dalam proses belajar membaca yang sangat penting bagi perkembangan literasi anak. Namun demikian, ketika siswa dihadapkan pada kemampuan membaca yang lebih kompleks, seperti memahami hubungan antar informasi dalam teks, menarik kesimpulan, atau menginterpretasikan makna bacaan, capaian mereka masih relatif rendah. Hal ini terlihat dari proporsi siswa yang rendah pada kategori membaca integrasi dan interpretasi, yaitu kemampuan membaca tingkat tinggi yang melibatkan analisis dan pemahaman mendalam terhadap teks. Kemampuan membaca pada tingkat ini termasuk dalam kategori Higher Order Thinking Skills (HOTS), yang juga menjadi fokus dalam berbagai asesmen pendidikan seperti Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Programme for International Student Assessment (PISA).   Tantangan Nasional dalam Literasi Temuan di Sumba Timur sebenarnya mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam sistem pendidikan Indonesia. Data PISA menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional. Dalam PISA 2022, skor membaca Indonesia berada pada kisaran 359 poin, jauh di bawah rata-rata OECD yang berada di atas 480 poin. Selain itu, Bank Dunia mencatat bahwa sekitar 53% anak usia sekolah dasar di Indonesia mengalami “learning poverty”, yaitu tidak mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia 10 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak siswa memang mampu membaca secara mekanis, tetapi belum memiliki kemampuan memahami isi bacaan secara mendalam. Fenomena ini juga terlihat di Sumba Timur. Meskipun kemampuan membaca dasar cukup baik, kemampuan memahami teks dan menginterpretasikan informasi masih menjadi tantangan utama bagi siswa.   Pola yang Sama pada Kemampuan Numerasi Pola yang serupa juga ditemukan pada kemampuan numerasi siswa. Studi baseline menunjukkan bahwa siswa di Sumba Timur relatif berhasil dalam numerasi dasar, seperti mengenal angka dan melakukan operasi matematika sederhana. Namun ketika pembelajaran masuk pada tahap yang lebih kompleks, yaitu memahami konsep matematika dan menerapkannya dalam pemecahan masalah, capaian siswa mengalami penurunan. Kesulitan ini terlihat pada aspek knowing dan applying, yaitu kemampuan memahami konsep matematika serta menggunakan konsep tersebut dalam situasi praktis. Kemampuan ini juga termasuk dalam kategori HOTS yang menuntut siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi mampu berpikir secara logis dan analitis. Penelitian pendidikan matematika menunjukkan bahwa kesulitan ini sering terjadi ketika pembelajaran matematika terlalu menekankan prosedur perhitungan tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami konsep secara mendalam.   Praktik Pembelajaran yang Masih Berpusat pada Guru Salah satu faktor penting yang mempengaruhi rendahnya kemampuan pemahaman siswa adalah praktik pembelajaran di kelas. Studi baseline menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang digunakan oleh guru masih didominasi oleh pendekatan tradisional. Sebanyak 97% guru menggunakan metode ceramah dan 95% menggunakan diskusi dalam pembelajaran. Sebaliknya, metode yang mendorong eksplorasi dan pengalaman belajar aktif masih jarang digunakan, antara lain: Demonstrasi: 37% Eksperimen: 28% Pembelajaran berbasis proyek: 15% Role playing: 23% Kunjungan lapangan: 5% Dominasi metode ceramah menunjukkan bahwa pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher-centered learning). Menurut pakar pendidikan John Hattie, pembelajaran yang efektif terjadi ketika siswa aktif terlibat dalam proses belajar melalui eksplorasi, diskusi mendalam, dan pemecahan masalah. Pembelajaran yang hanya berfokus pada ceramah cenderung menghasilkan hafalan jangka pendek, tetapi tidak selalu menghasilkan pemahaman konseptual yang kuat.   Keterbatasan Akses terhadap Bahan Bacaan Selain metode pembelajaran, ketersediaan bahan bacaan juga menjadi faktor penting dalam pengembangan literasi siswa. Studi baseline menunjukkan bahwa hanya 28,3% ruang kelas yang memiliki pojok baca. Ketersediaan buku bacaan juga masih terbatas. Dari sekolah yang disurvei, hanya: 58,8% memiliki buku teks atau buku pelajaran. 23,5% memiliki buku cerita anak. 29,4% memiliki buku bacaan dengan teks panjang. Penelitian UNESCO menunjukkan bahwa jumlah buku yang tersedia bagi anak merupakan salah satu faktor paling kuat yang mempengaruhi perkembangan literasi. Anak yang memiliki akses terhadap berbagai bahan bacaan cenderung memiliki kosakata yang lebih luas serta kemampuan memahami teks yang lebih baik.   Keterbatasan Media Pembelajaran Media pembelajaran juga memainkan peran penting dalam membantu siswa memahami konsep. Studi baseline menunjukkan bahwa hanya 77% sekolah memiliki alat bantu literasi dan 60% memiliki alat bantu numerasi. Jenis alat bantu yang tersedia pun masih terbatas, seperti kartu huruf atau poster kata yang terdapat pada 68% kelas, sementara media pembelajaran lain seperti puzzle literasi atau pajangan karya siswa masih sangat sedikit. Padahal berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran konkret dapat membantu siswa memahami konsep abstrak dengan lebih mudah, terutama dalam pembelajaran numerasi pada kelas awal.   Peran Kepemimpinan Sekolah Kepemimpinan sekolah juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Studi baseline menunjukkan bahwa supervisi akademik oleh kepala sekolah belum dilakukan secara optimal. Data menunjukkan bahwa: 11,8% kepala sekolah melakukan supervisi setiap tahun 42,6% melakukan supervisi setiap semester 45,6% tidak pernah melakukan supervisi akademik Menurut penelitian pendidikan oleh Leithwood dan koleganya, kepemimpinan sekolah merupakan faktor kedua paling berpengaruh terhadap hasil belajar siswa setelah kualitas guru. Kepala sekolah yang aktif melakukan supervisi dan memberikan umpan balik kepada guru dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.   Hambatan Bahasa dalam Pembelajaran Bahasa juga menjadi faktor yang mempengaruhi proses

Tantangan Literasi dan Numerasi di Sumba Timur Read More »

Wirausaha Agrosilvopastoral Harapan Baru Bagi Anak Muda

Di Desa Mbatakapidu, Sumba Timur, sebuah perubahan nyata sedang tumbuh di tengah masyarakat melalui inisiatif Agrosilvopastoral yang dijalankan oleh Lembaga SID dan ChildFund Intenasional di Indonesia. Program ini bukan sekadar proyek pertanian atau peternakan biasa, ini merupakan harapan baru bagi pemuda putus sekolah yang ingin membangun masa depan dari potensi desa mereka sendiri. Lima anak muda terpilih yang sebelumnya tidak melanjutkan pendidikan, kini aktif terlibat dalam usaha kolektif mengelola peternakan kambing yang terintegrasi dengan kebun pangan, tanaman kayu, dan hortikultura. Di atas lahan seluas 0,5 hektare, mereka belajar membangun kandang, menanam pakan ternak, merawat 50 ekor kambing, dan menanam ratusan pohon tanaman umur panjang. Tidak hanya itu, energi surya dan air bersih kini tersedia di lokasi menunjukkan bahwa pembangunan desa bisa ramah lingkungan dan berkelanjutan.   Antusiasme tak hanya datang dari para peserta, tetapi juga dari masyarakat luas. Sosialisasi program yang digelar menarik perhatian puluhan warga, terutama kelompok perempuan desa yang menunjukkan ketertarikan tinggi untuk ikut serta. Pelatihan-pelatihan yang dilakukan, mulai dari kesehatan ternak hingga pembuatan pupuk bokashi, menjadi ruang belajar baru yang memperkuat keterampilan, kebersamaan, dan kesadaran akan pentingnya mengelola sumber daya lokal secara bijak. Meski dihadapkan pada berbagai tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, keterampilan individu, tetapi semangat gotong royong dan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan. Pemagaran lahan dengan pagar hidup dari pohon gamal, sistem monitoring ternak yang dikembangkan sendiri, hingga kolaborasi dengan tokoh masyarakat dan pemerintah desa, menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah dengan cara yang sederhana, namun berdampak besar.   Program Agrosilvopastoral ini adalah bukti bahwa dengan pendekatan yang tepat, pemuda desa tidak hanya bisa menjadi penerima manfaat, tapi juga agen perubahan yang menanam benih masa depan di tanah mereka sendiri, dengan tangan mereka sendiri. Semoga semangat ini menjalar ke desa-desa lain, menginspirasi anak muda lainnya, membangkitkan harapan baru dari akar rumput, untuk Indonesia yang lebih mandiri dan berdaya.

Wirausaha Agrosilvopastoral Harapan Baru Bagi Anak Muda Read More »

Agrosilvopastoral, Pertanian Terintegrasi Bagi Anak Muda Putus Sekolah

Di Sumba Timur, tidak sedikit anak muda yang terpaksa harus putus sekolah karena berbagai hambatan sosial dan ekonomi. Namun, keterbatasan itu tidak memadamkan semangat mereka untuk bertahan dan terus berjuang menjalani hidup. Menyikapi tantangan ini, SID bekerja sama dengan ChildFund International in Indonesia memfasilitasi program kewirausahaan sosial berbasis pertanian terintegrasi bagi anak-anak muda putus sekolah. Salah satu inisiatif utama kami adalah pengembangan program peternakan kambing berbasis kelompok anak muda di Desa Mbatakapidu. Program ini melibatkan lima anak muda, dengan prioritas pada mereka yang telah putus sekolah, sebagai model pemberdayaan ekonomi yang terintegrasi dengan edukasi kewirausahaan. Melalui program ini, kami bertujuan: • Menciptakan peluang usaha yang berkelanjutan, • Meningkatkan kapasitas kewirausahaan anak muda, • Mendorong kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. Kami mengusung pendekatan agrosilvopastoral, yakni sistem pertanian terintegrasi yang menggabungkan pertanian, kehutanan, dan peternakan secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya memberikan keterampilan dan penghasilan bagi anak muda, tetapi juga melibatkan mereka secara aktif dalam aksi iklim dan pelestarian lingkungan.

Agrosilvopastoral, Pertanian Terintegrasi Bagi Anak Muda Putus Sekolah Read More »

Ekohumanisme Generasi Z

“Kita tanam pohon sekarang, jangan harap hasil saat ini, tapi ini untuk menjaga sumber air bagi masa depan anak cucu kita.” Ucapan ini terdengar sayup di antara bunyi mesin pelubang tanah dan hantaman linggis pada bukit cadas di Desa Praihamboli, Sumba Timur. Sekelompok anak muda terlihat sedang menggali lubang untuk menanam pohon di dekat sumber mata air kecil di desa mereka. Aksi ini merupakan bagian dari upaya menjaga kelestarian sumber air desa yang jumlahnya sangat terbatas. Penanaman pohon ini adalah salah satu inisiatif yang dirancang oleh anggota karang taruna sebagai langkah adaptasi dan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim. Semakin meningkatnya suhu bumi, yang berpengaruh signifikan terhadap menurunnya ketersediaan air bersih termasuk di wilayah Sumba Timur, telah memotivasi mereka untuk bertindak. Agar bibit pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, mereka menerapkan teknik irigasi tetes sederhana. Teknik ini menggunakan botol bekas air mineral yang ditanam di sekitar pohon, dilubangi untuk mengalirkan air secara perlahan. Volume air yang keluar diatur melalui pengencangan tutup botol. Kegiatan ini didukung oleh SID dan ChildFund International in Indonesia melalui program Youth Agency, yang bertujuan mendorong peran aktif anak muda dalam menghadapi isu perubahan iklim.

Ekohumanisme Generasi Z Read More »

Pengurus PATBM Ikuti Pelatihan Pengembangan Mekanisme Pelaporan Dan Rujukan

Pengurus Kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dari tiga desa, yaitu Mbatakapidu, Tandula Jangga, dan Ndapayami, baru saja mengikuti pelatihan penting tentang pengembangan mekanisme pelaporan dan rujukan isu perlindungan anak. Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem perlindungan anak di tingkat komunitas. Mama Ayu, Ketua PATBM Desa Mbatakapidu, mengungkapkan rasa antusiasnya terhadap pelatihan ini. Ia menyebut pengalaman kali ini sangat berbeda dari pelatihan sebelumnya. “Pelatihan kali ini sangat jelas menerangkan langkah-langkah yang harus dilakukan. Kami jadi lebih paham bagaimana mendampingi anak korban kekerasan dengan benar,” ujarnya. Pelatihan ini difasilitasi oleh SID bekerja sama dengan ChildFund International in Indonesia, yang sementara memfasilitasi pembentukan kelompok PATBM di berbagai desa dampingan. Dalam pelatihan ini, peserta diberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menangani laporan kasus kekerasan anak, membuat rujukan yang tepat, mendampingi proses hukum dan pemulihan korban, hingga memastikan pemantauan serta evaluasi yang berkesinambungan. Selain itu, pelatih yang terdiri dari dua staf SID juga membagikan pengetahuan tentang dasar-dasar perlindungan anak dan konsep kesetaraan gender. Kegiatan ini diharapkan dapat memberdayakan pengurus PATBM agar lebih siap menghadapi tantangan perlindungan anak, sekaligus memperkuat sistem perlindungan di tingkat komunitas. Dengan pendekatan yang komprehensif, setiap anak di desa dampingan diharapkan dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman dan mendukung.

Pengurus PATBM Ikuti Pelatihan Pengembangan Mekanisme Pelaporan Dan Rujukan Read More »

Peran Anak Muda Dalam Pengurangan Risiko Bencana

“Saya sangat gembira karena para pemuda di desa ini dilibatkan dalam penilaian ketangguhan desa.” ujar Wati dengan sangat antusias. Ia merupakan salah satu peserta yang mengikuti pelatihan Penilaian Ketangguhan Desa (PKD). Aula kantor Desa Praihamboli menjadi tempat berlangsungnya pelatihan PKD yang diikuti oleh lima anggota pemerintah desa dan tiga puluh anggota karang taruna. Dalam kegiatan yang dilaksanakan selama hari tersebut, para peserta mendapat penjelasan teknis mengenai PKD, pengumpulan data, serta cara input data ke dalam sistem Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Mereka juga langsung diterjunkan untuk melakukan pengumpulan data lapangan di wilayah desa Praihamboli. Kepala Desa Praihamboli, Maria Kalita Mboru, mengapresiasi pelatihan ini. Menurutnya, kegiatan ini sangat baik karena membantu pemerintah desa memahami proses PKD, khususnya komponen-komponen yang dibutuhkan untuk memperkuat ketangguhan desa dalam menghadapi bencana. Pada kesempatan ini, peserta sepakat mengembangkan rencana aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim seperti pembuatan perangkap air hujan, penanaman tanaman umur panjang, pemagaran, dan lainnya. Desa Praihamboli merupakan salah satu desa yang ditargetkan akan menjadi  desa tangguh bencana (Destana) kategori tangguh utama. Untuk mencapai target tersebut, Pemerintah desa akan bekerjasama dengan pemerintah kabupaten, pihak swasta, dan masyarakat desa untuk menjawab indikator-indikator yang dipersyaratkan dalam PKD. Tentang Program Ini, SID dan ChildFund International in Indonesia mendukung keterlibatan orang muda dalam proses pembangunan desa, antara lain melalui aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk pengurangan risiko bencana, pembentukan desa tangguh bencana, dan advokasi kebijakan publik.

Peran Anak Muda Dalam Pengurangan Risiko Bencana Read More »

MATA RAMMU, Membangun Anak usia Dini Tangguh melalui Rancang Ajar, Manajemen Bermutu, dan Pengelolaan Sumber Daya

Penyelenggaraan layanan Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkualitas di daerah-daerah tertinggal memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk generasi berkualitas di masa depan. Anak usia dini, terutama pada usia 0–6 tahun, berada dalam fase perkembangan emas yang berperan besar dalam membentuk kecerdasan, karakter, serta kemampuan sosial mereka di masa mendatang. Apabila layanan PAUD berkualitas diberikan sejak dini, anak-anak di daerah tertinggal akan memiliki peluang yang lebih baik untuk mengembangkan potensi secara maksimal, sehingga mampu mengatasi keterbatasan lingkungan serta kesenjangan akses terhadap pendidikan. Dr. Maria Montessori, seorang pelopor pendidikan anak usia dini, berpendapat bahwa anak-anak pada usia dini memiliki apa yang disebut sebagai “pikiran menyerap” atau absorbent mind. Pada tahap ini, mereka menyerap informasi dari lingkungan sekitar secara cepat dan alami. Oleh karena itu, lingkungan yang aman, mendukung, dan kaya stimulasi menjadi sangat penting bagi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial mereka. Fasilitas PAUD yang berkualitas, tenaga pengajar yang terlatih, serta program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak dapat mewujudkan lingkungan yang demikian. Di daerah-daerah tertinggal, akses terhadap layanan PAUD yang berkualitas seringkali terkendala oleh terbatasnya infrastruktur, kurangnya tenaga pengajar, dan minimnya sumber daya. Namun, jika upaya bersama dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk memperkuat layanan PAUD dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang relevan, dampaknya akan sangat signifikan dalam mengurangi kesenjangan pendidikan. Sebagai bentuk dukungan, SID bekerja sama dengan Yayasan William & Lily serta Adaro Foundation untuk membantu pemerintah daerah Kabupaten Sumba Barat Daya dalam meningkatkan kualitas layanan PAUD. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat 15 PAUD dan 8 Posyandu sebagai model penerapan kurikulum 2013 atau kurikulum Merdeka, serta penyelenggaraan pengasuhan yang baik di kedua institusi tersebut. Program yang direncanakan selama 14 bulan ini diluncurkan pada tanggal 24 Oktober 2024, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan pengembangan anak usia dini di Kabupaten Sumba Barat Daya. Kolaborasi yang solid menjadi salah satu komitmen yang disepakati oleh para peserta untuk mewujudkan impian bersama, yaitu menghasilkan generasi emas Kabupaten Sumba Barat Daya yang sehat, cerdas, ceria, terlindungi dan berakhlak mulia.

MATA RAMMU, Membangun Anak usia Dini Tangguh melalui Rancang Ajar, Manajemen Bermutu, dan Pengelolaan Sumber Daya Read More »