Sumba Integrated Development

Berita

Merdeka untuk Siapa? Refleksi 81 Tahun Indonesia dari Bilik Sempit Perlindungan Anak

(Sebuah Opini di balik Fakta) Ditulis oleh: Anto Kila Kemerdekaan yang Belum Selesai Delapan puluh satu tahun sudah bangsa ini menyatakan diri lepas dari penjajahan. Bendera berkibar, pidato-pidato menggema, meriahnya taman hiburan rakyat (THR) dan karnaval digelar di setiap kecamatan. Namun jika kita meletakkan kacamata anak-anak di atas semua euforia itu, akan tampak sebuah pertanyaan yang jarang diajukan secara serius: merdeka untuk siapa?   Kemerdekaan yang dirayakan hari ini semestinya bukan hanya kemerdekaan dari penjajah asing, melainkan juga kemerdekaan dari bentuk-bentuk penjajahan baru yang jauh lebih dekat dan lebih sunyi: kekerasan dalam rumah, perkawinan anak, pekerja anak, perundungan di sekolah, eksploitasi daring, dan ketidakadilan struktural yang membuat anak-anak dari keluarga miskin, di pelosok, dan di wilayah tertinggal Indonesia jauh lebih rentan kehilangan masa kecilnya. Anak yang masih harus berhenti sekolah karena dinikahkan, akses ke sarana pendidikan yang jauh, anak yang menjadi korban kekerasan seksual oleh orang terdekatnya, anak yang ditelantarkan atau anak yang bekerja demi menyambung hidup keluarga, sesungguhnya belum benar-benar merdeka.   Kekerasan yang Dianggap Wajar Adalah Sebuah Kritik Sosial Yang Serius Salah satu ironi terbesar dalam masyarakat kita adalah betapa mudahnya kekerasan terhadap anak dinormalisasi. “Ah itu cuma cara mendidik”, “sudah biasa, dulu juga begitu”, atau “itu urusan keluarga, jangan ikut campur”. kalimat-kalimat semacam ini masih menjadi tembok tebal yang membuat kekerasan terhadap anak terus bersembunyi di ruang privat. Budaya patriarki, relasi kuasa yang timpang antara orang dewasa dan anak, serta stigma terhadap korban dan keluarganya membuat banyak kasus tidak pernah dilaporkan, apalagi diproses.   Di beberapa desa yang pernah saya datangi, perkawinan anak masih dipandang sebagai solusi ekonomi atau bahkan “penyelamatan kehormatan keluarga”, bukan sebagai bentuk perampasan hak anak atas pendidikan, kesehatan, dan tumbuh kembang. Media sosial dan ruang digital yang semestinya menjadi ruang belajar dan berekspresi, kini justru menjadi arena baru predator anak beroperasi, sementara literasi digital orang tua dan pendidik masih jauh tertinggal. Regulasi Ada tetapi Implementasi Timpang Secara normatif, Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan payung hukum. Undang-Undang Perlindungan Anak, Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak, hingga Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual telah memberikan kerangka yang cukup progresif di atas kertas. Bahkan, Kabupaten Sumba Timur telah mendeklarasikan menjadi salah satu daerah yang menuju kabupaten Layak Anak. Persoalannya bukan pada ketiadaan regulasi, melainkan pada kesenjangan antara regulasi dan implementasi di lapangan.   Anggaran perlindungan anak di banyak daerah masih menjadi pos “sisa“, bukan prioritas. “kita tidak ada dana, karena lagi efisiensi besar-besaran”, selalu menjadi alasan dari para pemangku kepentingan. Lembaga layanan seperti Unit Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (UPTD PPA) di sejumlah kabupaten/kota termasuk di Sumba Timur masih kekurangan sumber daya manusia, dana operasional, bahkan tempat berlindung sementara (shelter) yang  belum terurus dengan baik. Data mengenai kekerasan terhadap anak pun masih terfragmentasi antar-instansi, sehingga sulit dijadikan dasar perencanaan kebijakan yang akurat. Kebijakan perlindungan anak sering kali lahir sebagai respons reaktif terhadap kasus yang viral, bukan sebagai desain sistem yang preventif dan berkelanjutan.   Aparat Penegak Hukum Dianggap Lambat, Berpihak, dan Belum Sepenuhnya Ramah Anak Di sisi penegakan hukum, tantangan tidak kalah besar. Proses hukum yang panjang dan berbelit kerap membuat korban dan keluarganya harus berulang kali menceritakan kembali peristiwa traumatis, tanpa pendampingan psikologis yang memadai. Prinsip kepentingan terbaik bagi anak (the best interest of the child) masih sering kalah oleh kepentingan prosedural, relasi kekuasaan pelaku, atau bahkan negosiasi damai di tingkat keluarga yang justru mengorbankan hak anak atas keadilan.   Aparat penegak hukum di daerah dengan akses terbatas termasuk Sumba Timur  masih menghadapi kendala jarak, minimnya tenaga terlatih dalam pemeriksaan ramah anak, hingga keterbatasan fasilitas pemeriksaan yang traumatis-sensitif. Akibatnya, tidak sedikit kasus yang berhenti di tengah jalan, bukan karena tidak terbukti, tetapi karena sistem tidak cukup kuat menopang proses hingga tuntas. Secercah Harapan dari Sumba Timur Di tengah kritik yang panjang ini, ada catatan yang patut diapresiasi sekaligus dijaga dengan sungguh-sungguh. Tren penurunan kasus kekerasan terhadap anak di Sumba Timur selama lima tahun terakhir, dari 68 kasus pada 2022 menjadi 23 kasus pada 2025. Penurunan ini bukan angka yang datang dengan sendirinya. Ia adalah buah dari kerja kolaboratif, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, lembaga swadaya masyarakat, tokoh adat dan agama, sekolah, serta masyarakat yang mulai berani bersuara dan tidak lagi membiarkan kekerasan terhadap anak dianggap sebagai aib yang harus disembunyikan.   Tetapi tren positif bukanlah garis lurus yang otomatis bertahan selamanya. Penurunan angka kasus yang dilaporkan juga harus terus dibaca secara jujur, apakah ia benar-benar mencerminkan penurunan kejadian, ataukah justru berisiko menyembunyikan kasus yang tidak dilaporkan karena masyarakat kembali kehilangan kepercayaan pada sistem. Di sinilah keberlanjutan komitmen menjadi kunci, capaian Sumba Timur harus dijadikan pembelajaran, bukan alasan untuk mengendurkan kewaspadaan.   Membangun Ekosistem Perlindungan Anak yang Kolaboratif (Call for Action) Merdeka yang sesungguhnya bagi anak Indonesia hanya bisa diwujudkan jika perlindungan anak berhenti menjadi tanggung jawab satu pihak dan menjadi ekosistem bersama di semua level. Beberapa hal yang perlu terus didorong: Penguatan mekanisme perlindungan anak berbasis masyarakat, seperti kelompok perlindungan anak berbasis masyarakat di tingkat desa/kelurahan (PABM), forum anak, dan kader posyandu/PKK yang dilatih untuk mendeteksi dini dan merespons kasus kekerasan, sehingga perlindungan tidak hanya bertumpu pada lembaga formal yang jauh dan terbatas jangkauannya. Integrasi data dan sistem rujukan antar-lembaga, agar kasus yang dilaporkan di satu pintu layanan dapat ditindaklanjuti secara cepat, konsisten, dan tidak hilang di tengah birokrasi. Penganggaran perlindungan anak sebagai prioritas, bukan residu, termasuk penguatan UPTD PPA, shelter, dan tenaga pendamping psikososial di tingkat kabupaten. Pelatihan berkelanjutan bagi aparat penegak hukum dalam pemeriksaan yang ramah anak dan berperspektif korban, agar proses hukum tidak menambah trauma baru. Pelibatan tokoh adat Marapu dan Tokoh Masyarakat Adat lainnya yang ada di Sumba Timur, Tokoh agama, dan pemuka masyarakat sebagai mitra strategis, mengingat perubahan norma sosial soal kekerasan dan perkawinan anak sering kali lebih efektif digerakkan dari dalam struktur budaya itu sendiri, seperti yang terbukti berkontribusi pada capaian Sumba Timur. Menjaga keberlanjutan capaian, dengan evaluasi rutin, pendampingan pascakasus bagi korban dan keluarganya, serta memastikan penurunan angka kasus di daerah seperti Sumba Timur tidak berhenti sebagai prestasi sesaat, melainkan menjadi model yang direplikasi dan terus dirawat di tahun-tahun mendatang.   Refleksi Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka adalah momentum

Merdeka untuk Siapa? Refleksi 81 Tahun Indonesia dari Bilik Sempit Perlindungan Anak Read More »

Audiensi Orang Muda dan Seleksi Delegasi Nasional Youth Assembly: Saatnya Orang Muda Desa Menyusun Aksi Nyata

  Waingapu – Semangat kolaborasi terasa sejak awal Audiensi Orang Muda dan Seleksi Delegasi Nasional Youth Assembly. Perwakilan orang muda dari Desa Mbatakapidu, Pambotanjara, Ndapayami, Tandula Jangga, Binudita, Pahomba, Matawai Pawali, Kambuhapang, serta komunitas di Waingapu berkumpul untuk belajar bersama, bertukar gagasan, dan menunjukkan bahwa perubahan desa bisa dimulai dari orang muda. Kegiatan dibuka dengan sesi perkenalan yang mencairkan suasana. Meski berasal dari desa yang berbeda, para peserta dengan cepat saling mengenal, berbagi cerita, dan menemukan banyak pengalaman yang ternyata sama. Dari obrolan-obrolan sederhana itu, tumbuh rasa percaya dan semangat untuk saling mendukung selama kegiatan berlangsung. Setelah itu, peserta diajak melihat lebih dekat kondisi desa masing-masing. Mereka memetakan persoalan yang masih menjadi tantangan sekaligus menggali potensi yang bisa dikembangkan. Diskusi berlangsung aktif karena setiap peserta membawa cerita dan sudut pandang yang berbeda, mulai dari isu kesehatan, pendidikan, perubahan iklim, hingga ekonomi.     Tantangan berikutnya adalah menyusun solusi. Peserta dibagi ke dalam empat kelompok dan diminta merancang program kepemudaan selama tiga bulan. Setiap kelompok berfokus pada satu isu utama: kesehatan, pendidikan, perubahan iklim, atau ekonomi. Melalui proses diskusi, adu gagasan, dan kerja sama tim, mereka menyusun program yang realistis sekaligus relevan dengan kebutuhan masyarakat di desa masing-masing. Lebih dari sekadar simulasi, sesi ini menjadi ruang bagi peserta untuk melatih kepemimpinan, komunikasi, berpikir kritis, dan kemampuan berkolaborasi. Setiap ide yang disampaikan menunjukkan bahwa orang muda tidak hanya mampu mengidentifikasi masalah, tetapi juga menawarkan solusi yang lahir dari pengalaman dan kondisi di lapangan.   Audiensi Orang Muda dan Seleksi Delegasi Nasional Youth Assembly menjadi pengingat bahwa orang muda desa memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan. Ketika diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi dan dipercaya mengambil peran, mereka mampu membangun kolaborasi, melahirkan gagasan yang berdampak, serta membuktikan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kota besar. Perubahan juga bisa tumbuh dari desa, melalui langkah-langkah kecil yang digerakkan oleh orang muda yang peduli terhadap masa depan komunitasnya.

Audiensi Orang Muda dan Seleksi Delegasi Nasional Youth Assembly: Saatnya Orang Muda Desa Menyusun Aksi Nyata Read More »

Hi, Teman-Teman! Masa Depan Desa Ada di Tangan Orang Muda

Bagaimana kalau ide-ide yang selama ini hanya dibicarakan di tongkrongan ternyata bisa menjadi solusi untuk desa? Bagaimana kalau suara orang muda benar-benar didengar dalam pembangunan? Kabar baiknya, itu sedang dimulai. Sebanyak 32 orang muda berkumpul dalam Pertemuan Orang Muda Tingkat Kabupaten yang diselenggarakan oleh Sumba Integrated Development (SID) bersama ChildFund International di Indonesia. Para peserta merupakan perwakilan orang muda dari Desa Mbatakapidu, Komunitas Ana Humba, dan Koalisi KOPI yang memiliki semangat yang sama untuk belajar, berbagi pengalaman, serta merancang aksi nyata bagi kemajuan masyarakat dan desa mereka. Selama kegiatan berlangsung, para peserta tidak hanya berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda, tetapi juga saling bertukar gagasan, memperluas jejaring, dan menyusun berbagai solusi yang dapat diwujudkan secara bersama-sama. Pertemuan ini menjadi bukti bahwa ketika orang muda diberikan ruang untuk berbicara dan berkolaborasi, mereka mampu menghadirkan ide-ide segar yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kenapa Kegiatan Ini Penting? Saat ini dunia sedang menghadapi berbagai tantangan besar. Perubahan iklim menyebabkan cuaca semakin tidak menentu. Kesempatan kerja semakin kompetitif karena perkembangan teknologi dan digitalisasi. Persoalan kesehatan mental semakin banyak dialami anak muda. Di sisi lain, ketimpangan akses pendidikan dan ekonomi masih menjadi kenyataan di banyak daerah, termasuk di wilayah pedesaan. Indonesia juga sedang mempersiapkan Generasi Emas 2045, sebuah cita-cita besar agar generasi muda hari ini menjadi generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan mampu membawa bangsa menjadi negara maju. Namun pertanyaannya adalah: Siapa yang akan membangun desa jika bukan orang mudanya sendiri? Sayangnya, hingga saat ini masih banyak orang muda yang belum mendapatkan ruang untuk terlibat dalam proses pembangunan. Tidak sedikit yang masih dianggap belum memiliki pengalaman, belum cukup mampu mengambil keputusan, atau hanya dipandang sebagai kelompok yang senang berkumpul tanpa memberikan kontribusi. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Orang muda memiliki energi, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta keberanian mencoba hal-hal baru. Mereka memahami perkembangan teknologi, mampu melihat peluang, dan memiliki semangat untuk menciptakan perubahan apabila diberikan kesempatan. Karena itulah SID bersama ChildFund International di Indonesia berkomitmen membuka lebih banyak ruang agar orang muda dapat berkembang, berpartisipasi, dan menjadi bagian penting dalam pembangunan desa. Belajar Bersama, Bukan Sekadar Mendengar Materi Pertemuan ini bukan seminar yang pesertanya hanya duduk mendengarkan. Seluruh peserta diajak berdiskusi, berpikir kritis, berbagi pengalaman, bahkan memetakan berbagai persoalan yang mereka temui di lingkungan masing-masing. Dalam sambutannya, Koordinator Program SID, Anton Jawamara, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar bersama agar orang muda mampu mengenali berbagai isu yang terjadi di sekitar mereka sekaligus menemukan solusi yang dapat dilakukan secara kolaboratif. Sementara itu, Direktur Eksekutif SID, Anto Kila, menegaskan bahwa dalam strategi program SID bersama ChildFund International di Indonesia periode 2026–2027, penguatan peran orang muda menjadi salah satu prioritas utama. Menurut beliau, orang muda bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi juga aktor utama yang mampu membawa perubahan bagi masyarakat melalui inovasi, kepemimpinan, dan aksi nyata. Empat Isu Besar yang Dibahas Orang Muda Peserta kemudian dibagi ke dalam empat kelompok diskusi yang membahas isu-isu paling dekat dengan kehidupan mereka. 🌱 Perubahan Iklim Teman-teman muda melihat sendiri bagaimana perubahan iklim mulai memengaruhi kehidupan masyarakat. Mulai dari musim yang sulit diprediksi, hasil pertanian yang menurun, abrasi di wilayah pesisir, hingga meningkatnya sampah plastik yang mencemari lingkungan. Mereka kemudian menawarkan berbagai solusi seperti: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai; memperkuat edukasi lingkungan; mengembangkan pengelolaan sampah, termasuk ecobrick; serta mendorong agar isu lingkungan menjadi bagian penting dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes). Pesan mereka sederhana: Kalau bukan kita yang menjaga lingkungan, siapa lagi? 📚 Pendidikan Kelompok pendidikan membahas tantangan yang masih dihadapi banyak anak muda. Mulai dari pola pengasuhan yang belum mendukung perkembangan anak, keterbatasan akses pendidikan, hingga kurangnya ruang untuk mengembangkan keterampilan. Peserta percaya bahwa pendidikan hari ini tidak cukup hanya belajar di ruang kelas. Orang muda juga membutuhkan: ruang belajar bersama; pelatihan teknologi digital; pengembangan soft skills; kepemimpinan; dan kewirausahaan. Karena masa depan membutuhkan lebih dari sekadar ijazah. 💼 Ekonomi Banyak anak muda sebenarnya ingin berwirausaha. Sayangnya, mereka masih menghadapi berbagai hambatan seperti keterbatasan modal, akses pasar, pengalaman usaha, dan keterampilan bisnis. Padahal Sumba Timur memiliki begitu banyak potensi yang dapat dikembangkan, seperti: tenun ikat; pertanian; peternakan; pariwisata desa; kuliner lokal; hingga pemasaran digital melalui media sosial. Peserta sepakat bahwa anak muda membutuhkan lebih banyak pelatihan, akses informasi, pendampingan usaha, dukungan teknologi, dan kesempatan untuk mengembangkan bisnis mereka sendiri. ❤️ Kesehatan Topik kesehatan menjadi salah satu diskusi yang paling hidup. Peserta membahas kesehatan mental, bullying, kekerasan dalam rumah tangga, pernikahan dini, kesehatan reproduksi, hingga pentingnya layanan kesehatan yang ramah bagi remaja. Mereka menyampaikan bahwa masih banyak orang muda yang takut mencari bantuan karena stigma. Karena itu mereka berharap tersedia: edukasi kesehatan mental yang berkelanjutan; layanan konseling yang mudah diakses; layanan kesehatan ramah remaja; serta lingkungan yang aman untuk berbicara tanpa takut dihakimi. Youth Hub: Ruang yang Diimpikan Orang Muda Salah satu hasil paling menarik dari kegiatan ini adalah munculnya harapan besar terhadap keberadaan Youth Hub. Menurut peserta, Youth Hub bukan sekadar tempat berkumpul. Mereka membayangkan Youth Hub sebagai: pusat belajar dan pengembangan kapasitas; ruang diskusi berbagai isu anak muda; tempat berbagi pengalaman dan inspirasi; wadah pelatihan kepemimpinan dan kewirausahaan; ruang kolaborasi merancang aksi sosial; sekaligus jaringan orang muda yang saling mendukung untuk menciptakan perubahan positif. Dengan kata lain, Youth Hub diharapkan menjadi rumah bersama bagi lahirnya berbagai ide dan aksi orang muda di Sumba Timur. Dari Diskusi Menuju Aksi Nyata Yang paling membanggakan dari kegiatan ini adalah semangat para peserta. Mereka tidak hanya mampu mengidentifikasi masalah, tetapi juga menganalisis akar persoalan, memahami dampaknya, dan menawarkan solusi yang realistis. Hal ini menunjukkan bahwa ketika diberi ruang, kepercayaan, dan kesempatan, orang muda mampu berpikir kritis, bekerja sama, dan berkontribusi bagi masyarakat. Perubahan Dimulai dari Kita Membangun desa bukan hanya tugas pemerintah. Bukan juga hanya tugas orang dewasa. Pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk orang muda. Setiap ide yang disampaikan, setiap diskusi yang dilakukan, dan setiap aksi kecil yang dimulai hari ini dapat menjadi langkah besar menuju masa depan yang lebih baik. SID percaya bahwa setiap orang muda memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan. Kini saatnya bukan lagi bertanya “Apakah orang muda mampu?”, tetapi mulai memberi ruang agar mereka dapat

Hi, Teman-Teman! Masa Depan Desa Ada di Tangan Orang Muda Read More »

Menguatkan Suara dan Perlindungan Anak, Desa Ndapayami Sosialisasikan Peraturan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Anak

Perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga, masyarakat, dan pemerintah desa. Menyadari pentingnya membangun lingkungan yang aman dan ramah bagi anak, SID didukung ChildFund Intenasional di Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Desa Ndapayami, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur melaksanakan kegiatan Sosialisasi Peraturan Kepala Desa Ndapayami Nomor 3 Tahun 2025 tentang Pencegahan, Penanganan, dan Pendampingan Kasus Kekerasan terhadap Anak. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk upaya memperkuat pemahaman masyarakat mengenai hak-hak anak, bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak, langkah pencegahan, serta mekanisme penanganan dan pendampingan apabila terjadi kasus kekerasan terhadap anak. Sosialisasi ini menjadi penting karena masih terdapat tantangan berupa kurangnya pemahaman sebagian masyarakat mengenai perlindungan anak, pola pengasuhan yang positif, pencegahan perkawinan anak, serta peran bersama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Kegiatan yang berlangsung di Desa Ndapayami, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur ini diikuti oleh 38 peserta yang berasal dari unsur pemerintah desa, orang muda, dan pengurus Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat (PABM) serta masyarakat umum. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan adanya komitmen bersama untuk membangun sistem perlindungan anak berbasis masyarakat di tingkat desa. Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman mengenai tiga aspek utama perlindungan anak, yaitu pencegahan, penanganan kasus, dan pendampingan korban. Pencegahan dilakukan melalui peningkatan kesadaran masyarakat, edukasi hak anak, penguatan pengasuhan positif, serta upaya mencegah berbagai risiko yang dapat mengancam anak. Ketika terjadi kasus, masyarakat memahami pentingnya pelaporan, respon awal, koordinasi, dan rujukan kepada pihak terkait. Sementara itu, pendampingan korban menjadi bagian penting agar anak mendapatkan perlindungan, pemulihan, serta dukungan yang dibutuhkan. Diskusi bersama peserta juga memperkuat kesadaran bahwa perlindungan anak tidak hanya menjadi tugas pemerintah desa, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat. Peserta menekankan pentingnya memperluas sosialisasi hingga tingkat dusun, RT/RW, dan keluarga agar semakin banyak masyarakat memahami cara melindungi anak dari kekerasan, perkawinan anak, maupun risiko di dunia digital. Sebagai hasil kegiatan, Pemerintah Desa Ndapayami, orang muda, dan pengurus PABM menyepakati komitmen bersama untuk melanjutkan sosialisasi Peraturan Kepala Desa Nomor 3 Tahun 2025 kepada masyarakat yang lebih luas. Pemerintah desa, orang muda, dan PABM juga akan menjadi penggerak utama dalam menyampaikan informasi dan membangun kesadaran masyarakat, dengan dukungan SID dalam proses penguatan dan pendampingan kegiatan. Melalui langkah bersama ini, Desa Ndapayami terus berupaya mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak, sehingga setiap anak dapat tumbuh dan berkembang dengan perlindungan serta dukungan dari seluruh masyarakat.

Menguatkan Suara dan Perlindungan Anak, Desa Ndapayami Sosialisasikan Peraturan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Anak Read More »

Menumbuhkan Wirausaha Muda dari Desa, SID dan ChildFund Dampingi Pengembangan Agrosilvopastoral di Sumba Timur

Di Desa Mbatakapidu, sekelompok orang muda mulai mengembangkan usaha hortikultura dengan menanam berbagai jenis sayuran seperti kangkung, sawi, tomat, cabai, dan terung. Untuk menjaga kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, mereka memanfaatkan pupuk organik yang berasal dari kotoran kambing yang telah difermentasi. Sistem ini menjadi bagian dari model agrosilvopastoral yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan kehutanan dalam satu kawasan usaha produktif. Selain budidaya tanaman hortikultura, para pemuda di Mbatakapidu juga memperoleh pendampingan dari SID dan ChildFund dalam pengelolaan ternak kambing, penanaman hijauan pakan ternak, serta pengembangan tanaman umur panjang yang berfungsi mendukung konservasi lahan dan sumber daya air. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan yang beragam sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga di pedesaan.       Sementara itu, orang muda di Desa Ndapayami mulai mengembangkan usaha budidaya bawang merah sebagai komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan kewirausahaan kaum muda sekaligus memperkuat sektor pertanian desa. Dengan dukungan pendampingan teknis dan pengelolaan usaha yang difasilitasi oleh SID bersama ChildFund, para peserta diharapkan mampu mengembangkan usaha pertanian yang produktif dan berkelanjutan.         Pengembangan agrosilvopastoral tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya menjaga lingkungan. Melalui integrasi tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan pohon-pohon produktif, sistem ini mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim.         Program yang dilaksanakan oleh SID dengan dukungan ChildFund ini menjadi bukti bahwa orang muda desa memiliki potensi besar untuk menjadi pelaku utama pembangunan ekonomi lokal. Dengan pendampingan yang tepat, inovasi pertanian yang ramah lingkungan, serta semangat kewirausahaan, anak-anak muda di Mbatakapidu dan Ndapayami mulai menunjukkan bahwa sektor pertanian dapat menjadi pilihan usaha yang menjanjikan sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan di Sumba Timur.

Menumbuhkan Wirausaha Muda dari Desa, SID dan ChildFund Dampingi Pengembangan Agrosilvopastoral di Sumba Timur Read More »

SID dan ChildFund Indonesia Akhiri 20 Tahun Pendampingan di Tujuh Desa Sumba Timur

Setelah hampir 20 tahun mendampingi masyarakat di Kecamatan Nggaha Ori Angu, Kabupaten Sumba Timur, Sumba Integrated Development (SID) bersama ChildFund International di Indonesia resmi mengakhiri pendampingan program di tujuh desa dampingan. Momen tersebut ditandai melalui kegiatan bertajuk “Merayakan Dampak, Menginspirasi Masa Depan” yang diselenggarakan pada 13 Mei 2026 di Aula Kantor Kecamatan Nggaha Ori Angu. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang yang telah dilalui bersama masyarakat, pemerintah desa, sekolah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Sebanyak 165 peserta hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk perwakilan pemerintah, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, pemuda, dan anak-anak dari desa dampingan. Dampak Pendampingan Selama Dua Dekade Selama hampir dua dekade, SID dan ChildFund Indonesia menjalankan berbagai program yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup anak dan keluarga. Program-program tersebut mencakup bidang pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, penguatan ekonomi keluarga, pelestarian lingkungan, serta pengembangan kapasitas kelembagaan desa. Berbagai perubahan positif telah terlihat di masyarakat. Akses terhadap layanan dasar semakin baik, kesadaran akan pentingnya perlindungan anak meningkat, dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa semakin kuat. Direktur Eksekutif SID, Anto Kila, mengatakan bahwa perubahan yang terjadi merupakan hasil dari proses panjang yang dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak. “Banyak capaian yang dapat kita lihat hari ini. Semua ini lahir dari kerja sama, komitmen, dan semangat masyarakat untuk terus berkembang,” ujarnya. Investasi untuk Masa Depan Anak Salah satu fokus utama pendampingan adalah memastikan anak-anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Melalui berbagai program yang dijalankan, anak-anak memperoleh akses yang lebih baik terhadap pendidikan, pengembangan keterampilan hidup, serta ruang untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosial mereka. Menurut Anto Kila, banyak anak yang pernah menjadi peserta program kini telah berhasil meniti karier di berbagai bidang. “Anak-anak yang dulu mengikuti program kini ada yang menjadi ASN, guru, anggota TNI, pegawai swasta, hingga wirausahawan. Ini menunjukkan bahwa investasi pada anak akan memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat,” katanya. Ia juga menegaskan pentingnya melanjutkan upaya perlindungan anak di tingkat desa agar setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan mereka. Pembelajaran dan Komitmen Bersama Selain seremoni penutupan, kegiatan ini juga menghadirkan diskusi dan talk show tentang penguatan Desa Layak Anak dan perlindungan anak berbasis masyarakat. Para narasumber berbagi pengalaman mengenai penguatan layanan PAUD, pendidikan kecakapan hidup, literasi keuangan, serta peran Forum Anak dalam mendukung pembangunan sosial di desa. Kepala SMP Negeri 1 Nggaha Ori Angu, Sri Martini Thomas, menyampaikan bahwa Program Pendidikan Kecakapan Hidup dan Literasi Keuangan yang diperkenalkan melalui pendampingan telah menjadi bagian dari proses pembelajaran di sekolah. Menurutnya, program tersebut sejalan dengan semangat Merdeka Belajar dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik. Sementara itu, Camat Nggaha Ori Angu, John Umbu Nggaba Tay, mengapresiasi kontribusi SID dan ChildFund Indonesia dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia di wilayahnya. Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Kepala Dinas DP3AP2KB Kabupaten Sumba Timur, Oktavianus Tamu Ama. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendorong pemenuhan indikator Kabupaten Layak Anak dan mengembangkan praktik-praktik baik yang telah dihasilkan melalui program pendampingan. Merayakan Dampak, Menginspirasi Masa Depan Suasana selebrasi semakin meriah dengan berbagai penampilan seni dan budaya lokal. Anak-anak dan masyarakat menampilkan tarian tradisional, syair adat luluku, serta pembacaan puisi yang menggambarkan perjalanan dan harapan mereka untuk masa depan. Bagi masyarakat Nggaha Ori Angu, kegiatan ini bukan sekadar penutupan program. Momentum ini menjadi perayaan atas berbagai perubahan yang telah dicapai bersama selama hampir 20 tahun. Berakhirnya pendampingan tidak berarti berakhirnya upaya pembangunan masyarakat dan perlindungan anak. Fondasi yang telah dibangun melalui kerja sama antara masyarakat, pemerintah, SID, dan ChildFund Indonesia diharapkan terus berkembang dan memberikan manfaat bagi generasi-generasi berikutnya di Sumba Timur.

SID dan ChildFund Indonesia Akhiri 20 Tahun Pendampingan di Tujuh Desa Sumba Timur Read More »

Tantangan Literasi dan Numerasi di Sumba Timur

Dari Kemampuan Dasar Menuju Pemahaman Mendalam Berdasarkan Hasil Studi INOVASI 2025. Kemampuan literasi dan numerasi merupakan fondasi utama bagi kualitas pendidikan suatu bangsa. Anak yang mampu membaca dengan pemahaman yang baik dan menggunakan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari memiliki peluang lebih besar untuk berhasil dalam pendidikan lanjutan, dunia kerja, serta kehidupan sosial. Oleh karena itu, peningkatan literasi dan numerasi menjadi prioritas penting dalam pembangunan pendidikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Kabupaten Sumba Timur, upaya peningkatan kualitas literasi dan numerasi telah dilakukan melalui berbagai program pendidikan, salah satunya melalui kemitraan dengan program INOVASI. Studi Baseline INOVASI tahun 2025 memberikan gambaran awal mengenai kondisi kemampuan literasi dan numerasi siswa pada kelas awal sekolah dasar. Studi ini menggunakan pendekatan cross-sectional quantitative dengan melibatkan 15 sekolah dasar yang dipilih secara acak. Responden yang terlibat dalam penelitian ini cukup luas, yaitu 600 siswa kelas 1–4, 60 guru kelas, 15 kepala sekolah, 575 orang tua siswa, serta 2 pengawas pendidikan. Data ini memberikan gambaran penting tidak hanya mengenai kemampuan belajar siswa, tetapi juga mengenai praktik pembelajaran, lingkungan belajar di sekolah, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan dasar di Sumba Timur.   Kemajuan pada Literasi Dasar Hasil studi menunjukkan bahwa siswa di Sumba Timur relatif berhasil dalam menguasai literasi dasar, terutama pada kemampuan mengenali huruf, suku kata, dan kata. Kemampuan ini merupakan tahap awal dalam proses belajar membaca yang sangat penting bagi perkembangan literasi anak. Namun demikian, ketika siswa dihadapkan pada kemampuan membaca yang lebih kompleks, seperti memahami hubungan antar informasi dalam teks, menarik kesimpulan, atau menginterpretasikan makna bacaan, capaian mereka masih relatif rendah. Hal ini terlihat dari proporsi siswa yang rendah pada kategori membaca integrasi dan interpretasi, yaitu kemampuan membaca tingkat tinggi yang melibatkan analisis dan pemahaman mendalam terhadap teks. Kemampuan membaca pada tingkat ini termasuk dalam kategori Higher Order Thinking Skills (HOTS), yang juga menjadi fokus dalam berbagai asesmen pendidikan seperti Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Programme for International Student Assessment (PISA).   Tantangan Nasional dalam Literasi Temuan di Sumba Timur sebenarnya mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam sistem pendidikan Indonesia. Data PISA menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional. Dalam PISA 2022, skor membaca Indonesia berada pada kisaran 359 poin, jauh di bawah rata-rata OECD yang berada di atas 480 poin. Selain itu, Bank Dunia mencatat bahwa sekitar 53% anak usia sekolah dasar di Indonesia mengalami “learning poverty”, yaitu tidak mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia 10 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak siswa memang mampu membaca secara mekanis, tetapi belum memiliki kemampuan memahami isi bacaan secara mendalam. Fenomena ini juga terlihat di Sumba Timur. Meskipun kemampuan membaca dasar cukup baik, kemampuan memahami teks dan menginterpretasikan informasi masih menjadi tantangan utama bagi siswa.   Pola yang Sama pada Kemampuan Numerasi Pola yang serupa juga ditemukan pada kemampuan numerasi siswa. Studi baseline menunjukkan bahwa siswa di Sumba Timur relatif berhasil dalam numerasi dasar, seperti mengenal angka dan melakukan operasi matematika sederhana. Namun ketika pembelajaran masuk pada tahap yang lebih kompleks, yaitu memahami konsep matematika dan menerapkannya dalam pemecahan masalah, capaian siswa mengalami penurunan. Kesulitan ini terlihat pada aspek knowing dan applying, yaitu kemampuan memahami konsep matematika serta menggunakan konsep tersebut dalam situasi praktis. Kemampuan ini juga termasuk dalam kategori HOTS yang menuntut siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi mampu berpikir secara logis dan analitis. Penelitian pendidikan matematika menunjukkan bahwa kesulitan ini sering terjadi ketika pembelajaran matematika terlalu menekankan prosedur perhitungan tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami konsep secara mendalam.   Praktik Pembelajaran yang Masih Berpusat pada Guru Salah satu faktor penting yang mempengaruhi rendahnya kemampuan pemahaman siswa adalah praktik pembelajaran di kelas. Studi baseline menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang digunakan oleh guru masih didominasi oleh pendekatan tradisional. Sebanyak 97% guru menggunakan metode ceramah dan 95% menggunakan diskusi dalam pembelajaran. Sebaliknya, metode yang mendorong eksplorasi dan pengalaman belajar aktif masih jarang digunakan, antara lain: Demonstrasi: 37% Eksperimen: 28% Pembelajaran berbasis proyek: 15% Role playing: 23% Kunjungan lapangan: 5% Dominasi metode ceramah menunjukkan bahwa pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher-centered learning). Menurut pakar pendidikan John Hattie, pembelajaran yang efektif terjadi ketika siswa aktif terlibat dalam proses belajar melalui eksplorasi, diskusi mendalam, dan pemecahan masalah. Pembelajaran yang hanya berfokus pada ceramah cenderung menghasilkan hafalan jangka pendek, tetapi tidak selalu menghasilkan pemahaman konseptual yang kuat.   Keterbatasan Akses terhadap Bahan Bacaan Selain metode pembelajaran, ketersediaan bahan bacaan juga menjadi faktor penting dalam pengembangan literasi siswa. Studi baseline menunjukkan bahwa hanya 28,3% ruang kelas yang memiliki pojok baca. Ketersediaan buku bacaan juga masih terbatas. Dari sekolah yang disurvei, hanya: 58,8% memiliki buku teks atau buku pelajaran. 23,5% memiliki buku cerita anak. 29,4% memiliki buku bacaan dengan teks panjang. Penelitian UNESCO menunjukkan bahwa jumlah buku yang tersedia bagi anak merupakan salah satu faktor paling kuat yang mempengaruhi perkembangan literasi. Anak yang memiliki akses terhadap berbagai bahan bacaan cenderung memiliki kosakata yang lebih luas serta kemampuan memahami teks yang lebih baik.   Keterbatasan Media Pembelajaran Media pembelajaran juga memainkan peran penting dalam membantu siswa memahami konsep. Studi baseline menunjukkan bahwa hanya 77% sekolah memiliki alat bantu literasi dan 60% memiliki alat bantu numerasi. Jenis alat bantu yang tersedia pun masih terbatas, seperti kartu huruf atau poster kata yang terdapat pada 68% kelas, sementara media pembelajaran lain seperti puzzle literasi atau pajangan karya siswa masih sangat sedikit. Padahal berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran konkret dapat membantu siswa memahami konsep abstrak dengan lebih mudah, terutama dalam pembelajaran numerasi pada kelas awal.   Peran Kepemimpinan Sekolah Kepemimpinan sekolah juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Studi baseline menunjukkan bahwa supervisi akademik oleh kepala sekolah belum dilakukan secara optimal. Data menunjukkan bahwa: 11,8% kepala sekolah melakukan supervisi setiap tahun 42,6% melakukan supervisi setiap semester 45,6% tidak pernah melakukan supervisi akademik Menurut penelitian pendidikan oleh Leithwood dan koleganya, kepemimpinan sekolah merupakan faktor kedua paling berpengaruh terhadap hasil belajar siswa setelah kualitas guru. Kepala sekolah yang aktif melakukan supervisi dan memberikan umpan balik kepada guru dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.   Hambatan Bahasa dalam Pembelajaran Bahasa juga menjadi faktor yang mempengaruhi proses

Tantangan Literasi dan Numerasi di Sumba Timur Read More »

Wirausaha Agrosilvopastoral Harapan Baru Bagi Anak Muda

Di Desa Mbatakapidu, Sumba Timur, sebuah perubahan nyata sedang tumbuh di tengah masyarakat melalui inisiatif Agrosilvopastoral yang dijalankan oleh Lembaga SID dan ChildFund Intenasional di Indonesia. Program ini bukan sekadar proyek pertanian atau peternakan biasa, ini merupakan harapan baru bagi pemuda putus sekolah yang ingin membangun masa depan dari potensi desa mereka sendiri. Lima anak muda terpilih yang sebelumnya tidak melanjutkan pendidikan, kini aktif terlibat dalam usaha kolektif mengelola peternakan kambing yang terintegrasi dengan kebun pangan, tanaman kayu, dan hortikultura. Di atas lahan seluas 0,5 hektare, mereka belajar membangun kandang, menanam pakan ternak, merawat 50 ekor kambing, dan menanam ratusan pohon tanaman umur panjang. Tidak hanya itu, energi surya dan air bersih kini tersedia di lokasi menunjukkan bahwa pembangunan desa bisa ramah lingkungan dan berkelanjutan.   Antusiasme tak hanya datang dari para peserta, tetapi juga dari masyarakat luas. Sosialisasi program yang digelar menarik perhatian puluhan warga, terutama kelompok perempuan desa yang menunjukkan ketertarikan tinggi untuk ikut serta. Pelatihan-pelatihan yang dilakukan, mulai dari kesehatan ternak hingga pembuatan pupuk bokashi, menjadi ruang belajar baru yang memperkuat keterampilan, kebersamaan, dan kesadaran akan pentingnya mengelola sumber daya lokal secara bijak. Meski dihadapkan pada berbagai tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, keterampilan individu, tetapi semangat gotong royong dan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan. Pemagaran lahan dengan pagar hidup dari pohon gamal, sistem monitoring ternak yang dikembangkan sendiri, hingga kolaborasi dengan tokoh masyarakat dan pemerintah desa, menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah dengan cara yang sederhana, namun berdampak besar.   Program Agrosilvopastoral ini adalah bukti bahwa dengan pendekatan yang tepat, pemuda desa tidak hanya bisa menjadi penerima manfaat, tapi juga agen perubahan yang menanam benih masa depan di tanah mereka sendiri, dengan tangan mereka sendiri. Semoga semangat ini menjalar ke desa-desa lain, menginspirasi anak muda lainnya, membangkitkan harapan baru dari akar rumput, untuk Indonesia yang lebih mandiri dan berdaya.

Wirausaha Agrosilvopastoral Harapan Baru Bagi Anak Muda Read More »

Agrosilvopastoral, Pertanian Terintegrasi Bagi Anak Muda Putus Sekolah

Di Sumba Timur, tidak sedikit anak muda yang terpaksa harus putus sekolah karena berbagai hambatan sosial dan ekonomi. Namun, keterbatasan itu tidak memadamkan semangat mereka untuk bertahan dan terus berjuang menjalani hidup. Menyikapi tantangan ini, SID bekerja sama dengan ChildFund International in Indonesia memfasilitasi program kewirausahaan sosial berbasis pertanian terintegrasi bagi anak-anak muda putus sekolah. Salah satu inisiatif utama kami adalah pengembangan program peternakan kambing berbasis kelompok anak muda di Desa Mbatakapidu. Program ini melibatkan lima anak muda, dengan prioritas pada mereka yang telah putus sekolah, sebagai model pemberdayaan ekonomi yang terintegrasi dengan edukasi kewirausahaan. Melalui program ini, kami bertujuan: • Menciptakan peluang usaha yang berkelanjutan, • Meningkatkan kapasitas kewirausahaan anak muda, • Mendorong kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. Kami mengusung pendekatan agrosilvopastoral, yakni sistem pertanian terintegrasi yang menggabungkan pertanian, kehutanan, dan peternakan secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya memberikan keterampilan dan penghasilan bagi anak muda, tetapi juga melibatkan mereka secara aktif dalam aksi iklim dan pelestarian lingkungan.

Agrosilvopastoral, Pertanian Terintegrasi Bagi Anak Muda Putus Sekolah Read More »

Ekohumanisme Generasi Z

“Kita tanam pohon sekarang, jangan harap hasil saat ini, tapi ini untuk menjaga sumber air bagi masa depan anak cucu kita.” Ucapan ini terdengar sayup di antara bunyi mesin pelubang tanah dan hantaman linggis pada bukit cadas di Desa Praihamboli, Sumba Timur. Sekelompok anak muda terlihat sedang menggali lubang untuk menanam pohon di dekat sumber mata air kecil di desa mereka. Aksi ini merupakan bagian dari upaya menjaga kelestarian sumber air desa yang jumlahnya sangat terbatas. Penanaman pohon ini adalah salah satu inisiatif yang dirancang oleh anggota karang taruna sebagai langkah adaptasi dan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim. Semakin meningkatnya suhu bumi, yang berpengaruh signifikan terhadap menurunnya ketersediaan air bersih termasuk di wilayah Sumba Timur, telah memotivasi mereka untuk bertindak. Agar bibit pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, mereka menerapkan teknik irigasi tetes sederhana. Teknik ini menggunakan botol bekas air mineral yang ditanam di sekitar pohon, dilubangi untuk mengalirkan air secara perlahan. Volume air yang keluar diatur melalui pengencangan tutup botol. Kegiatan ini didukung oleh SID dan ChildFund International in Indonesia melalui program Youth Agency, yang bertujuan mendorong peran aktif anak muda dalam menghadapi isu perubahan iklim.

Ekohumanisme Generasi Z Read More »