Sumba Integrated Development

sidsumba

Merdeka untuk Siapa? Refleksi 81 Tahun Indonesia dari Bilik Sempit Perlindungan Anak

(Sebuah Opini di balik Fakta) Ditulis oleh: Anto Kila Kemerdekaan yang Belum Selesai Delapan puluh satu tahun sudah bangsa ini menyatakan diri lepas dari penjajahan. Bendera berkibar, pidato-pidato menggema, meriahnya taman hiburan rakyat (THR) dan karnaval digelar di setiap kecamatan. Namun jika kita meletakkan kacamata anak-anak di atas semua euforia itu, akan tampak sebuah pertanyaan yang jarang diajukan secara serius: merdeka untuk siapa?   Kemerdekaan yang dirayakan hari ini semestinya bukan hanya kemerdekaan dari penjajah asing, melainkan juga kemerdekaan dari bentuk-bentuk penjajahan baru yang jauh lebih dekat dan lebih sunyi: kekerasan dalam rumah, perkawinan anak, pekerja anak, perundungan di sekolah, eksploitasi daring, dan ketidakadilan struktural yang membuat anak-anak dari keluarga miskin, di pelosok, dan di wilayah tertinggal Indonesia jauh lebih rentan kehilangan masa kecilnya. Anak yang masih harus berhenti sekolah karena dinikahkan, akses ke sarana pendidikan yang jauh, anak yang menjadi korban kekerasan seksual oleh orang terdekatnya, anak yang ditelantarkan atau anak yang bekerja demi menyambung hidup keluarga, sesungguhnya belum benar-benar merdeka.   Kekerasan yang Dianggap Wajar Adalah Sebuah Kritik Sosial Yang Serius Salah satu ironi terbesar dalam masyarakat kita adalah betapa mudahnya kekerasan terhadap anak dinormalisasi. “Ah itu cuma cara mendidik”, “sudah biasa, dulu juga begitu”, atau “itu urusan keluarga, jangan ikut campur”. kalimat-kalimat semacam ini masih menjadi tembok tebal yang membuat kekerasan terhadap anak terus bersembunyi di ruang privat. Budaya patriarki, relasi kuasa yang timpang antara orang dewasa dan anak, serta stigma terhadap korban dan keluarganya membuat banyak kasus tidak pernah dilaporkan, apalagi diproses.   Di beberapa desa yang pernah saya datangi, perkawinan anak masih dipandang sebagai solusi ekonomi atau bahkan “penyelamatan kehormatan keluarga”, bukan sebagai bentuk perampasan hak anak atas pendidikan, kesehatan, dan tumbuh kembang. Media sosial dan ruang digital yang semestinya menjadi ruang belajar dan berekspresi, kini justru menjadi arena baru predator anak beroperasi, sementara literasi digital orang tua dan pendidik masih jauh tertinggal. Regulasi Ada tetapi Implementasi Timpang Secara normatif, Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan payung hukum. Undang-Undang Perlindungan Anak, Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak, hingga Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual telah memberikan kerangka yang cukup progresif di atas kertas. Bahkan, Kabupaten Sumba Timur telah mendeklarasikan menjadi salah satu daerah yang menuju kabupaten Layak Anak. Persoalannya bukan pada ketiadaan regulasi, melainkan pada kesenjangan antara regulasi dan implementasi di lapangan.   Anggaran perlindungan anak di banyak daerah masih menjadi pos “sisa“, bukan prioritas. “kita tidak ada dana, karena lagi efisiensi besar-besaran”, selalu menjadi alasan dari para pemangku kepentingan. Lembaga layanan seperti Unit Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (UPTD PPA) di sejumlah kabupaten/kota termasuk di Sumba Timur masih kekurangan sumber daya manusia, dana operasional, bahkan tempat berlindung sementara (shelter) yang  belum terurus dengan baik. Data mengenai kekerasan terhadap anak pun masih terfragmentasi antar-instansi, sehingga sulit dijadikan dasar perencanaan kebijakan yang akurat. Kebijakan perlindungan anak sering kali lahir sebagai respons reaktif terhadap kasus yang viral, bukan sebagai desain sistem yang preventif dan berkelanjutan.   Aparat Penegak Hukum Dianggap Lambat, Berpihak, dan Belum Sepenuhnya Ramah Anak Di sisi penegakan hukum, tantangan tidak kalah besar. Proses hukum yang panjang dan berbelit kerap membuat korban dan keluarganya harus berulang kali menceritakan kembali peristiwa traumatis, tanpa pendampingan psikologis yang memadai. Prinsip kepentingan terbaik bagi anak (the best interest of the child) masih sering kalah oleh kepentingan prosedural, relasi kekuasaan pelaku, atau bahkan negosiasi damai di tingkat keluarga yang justru mengorbankan hak anak atas keadilan.   Aparat penegak hukum di daerah dengan akses terbatas termasuk Sumba Timur  masih menghadapi kendala jarak, minimnya tenaga terlatih dalam pemeriksaan ramah anak, hingga keterbatasan fasilitas pemeriksaan yang traumatis-sensitif. Akibatnya, tidak sedikit kasus yang berhenti di tengah jalan, bukan karena tidak terbukti, tetapi karena sistem tidak cukup kuat menopang proses hingga tuntas. Secercah Harapan dari Sumba Timur Di tengah kritik yang panjang ini, ada catatan yang patut diapresiasi sekaligus dijaga dengan sungguh-sungguh. Tren penurunan kasus kekerasan terhadap anak di Sumba Timur selama lima tahun terakhir, dari 68 kasus pada 2022 menjadi 23 kasus pada 2025. Penurunan ini bukan angka yang datang dengan sendirinya. Ia adalah buah dari kerja kolaboratif, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, lembaga swadaya masyarakat, tokoh adat dan agama, sekolah, serta masyarakat yang mulai berani bersuara dan tidak lagi membiarkan kekerasan terhadap anak dianggap sebagai aib yang harus disembunyikan.   Tetapi tren positif bukanlah garis lurus yang otomatis bertahan selamanya. Penurunan angka kasus yang dilaporkan juga harus terus dibaca secara jujur, apakah ia benar-benar mencerminkan penurunan kejadian, ataukah justru berisiko menyembunyikan kasus yang tidak dilaporkan karena masyarakat kembali kehilangan kepercayaan pada sistem. Di sinilah keberlanjutan komitmen menjadi kunci, capaian Sumba Timur harus dijadikan pembelajaran, bukan alasan untuk mengendurkan kewaspadaan.   Membangun Ekosistem Perlindungan Anak yang Kolaboratif (Call for Action) Merdeka yang sesungguhnya bagi anak Indonesia hanya bisa diwujudkan jika perlindungan anak berhenti menjadi tanggung jawab satu pihak dan menjadi ekosistem bersama di semua level. Beberapa hal yang perlu terus didorong: Penguatan mekanisme perlindungan anak berbasis masyarakat, seperti kelompok perlindungan anak berbasis masyarakat di tingkat desa/kelurahan (PABM), forum anak, dan kader posyandu/PKK yang dilatih untuk mendeteksi dini dan merespons kasus kekerasan, sehingga perlindungan tidak hanya bertumpu pada lembaga formal yang jauh dan terbatas jangkauannya. Integrasi data dan sistem rujukan antar-lembaga, agar kasus yang dilaporkan di satu pintu layanan dapat ditindaklanjuti secara cepat, konsisten, dan tidak hilang di tengah birokrasi. Penganggaran perlindungan anak sebagai prioritas, bukan residu, termasuk penguatan UPTD PPA, shelter, dan tenaga pendamping psikososial di tingkat kabupaten. Pelatihan berkelanjutan bagi aparat penegak hukum dalam pemeriksaan yang ramah anak dan berperspektif korban, agar proses hukum tidak menambah trauma baru. Pelibatan tokoh adat Marapu dan Tokoh Masyarakat Adat lainnya yang ada di Sumba Timur, Tokoh agama, dan pemuka masyarakat sebagai mitra strategis, mengingat perubahan norma sosial soal kekerasan dan perkawinan anak sering kali lebih efektif digerakkan dari dalam struktur budaya itu sendiri, seperti yang terbukti berkontribusi pada capaian Sumba Timur. Menjaga keberlanjutan capaian, dengan evaluasi rutin, pendampingan pascakasus bagi korban dan keluarganya, serta memastikan penurunan angka kasus di daerah seperti Sumba Timur tidak berhenti sebagai prestasi sesaat, melainkan menjadi model yang direplikasi dan terus dirawat di tahun-tahun mendatang.   Refleksi Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka adalah momentum

Merdeka untuk Siapa? Refleksi 81 Tahun Indonesia dari Bilik Sempit Perlindungan Anak Read More »

Audiensi Orang Muda dan Seleksi Delegasi Nasional Youth Assembly: Saatnya Orang Muda Desa Menyusun Aksi Nyata

  Waingapu – Semangat kolaborasi terasa sejak awal Audiensi Orang Muda dan Seleksi Delegasi Nasional Youth Assembly. Perwakilan orang muda dari Desa Mbatakapidu, Pambotanjara, Ndapayami, Tandula Jangga, Binudita, Pahomba, Matawai Pawali, Kambuhapang, serta komunitas di Waingapu berkumpul untuk belajar bersama, bertukar gagasan, dan menunjukkan bahwa perubahan desa bisa dimulai dari orang muda. Kegiatan dibuka dengan sesi perkenalan yang mencairkan suasana. Meski berasal dari desa yang berbeda, para peserta dengan cepat saling mengenal, berbagi cerita, dan menemukan banyak pengalaman yang ternyata sama. Dari obrolan-obrolan sederhana itu, tumbuh rasa percaya dan semangat untuk saling mendukung selama kegiatan berlangsung. Setelah itu, peserta diajak melihat lebih dekat kondisi desa masing-masing. Mereka memetakan persoalan yang masih menjadi tantangan sekaligus menggali potensi yang bisa dikembangkan. Diskusi berlangsung aktif karena setiap peserta membawa cerita dan sudut pandang yang berbeda, mulai dari isu kesehatan, pendidikan, perubahan iklim, hingga ekonomi.     Tantangan berikutnya adalah menyusun solusi. Peserta dibagi ke dalam empat kelompok dan diminta merancang program kepemudaan selama tiga bulan. Setiap kelompok berfokus pada satu isu utama: kesehatan, pendidikan, perubahan iklim, atau ekonomi. Melalui proses diskusi, adu gagasan, dan kerja sama tim, mereka menyusun program yang realistis sekaligus relevan dengan kebutuhan masyarakat di desa masing-masing. Lebih dari sekadar simulasi, sesi ini menjadi ruang bagi peserta untuk melatih kepemimpinan, komunikasi, berpikir kritis, dan kemampuan berkolaborasi. Setiap ide yang disampaikan menunjukkan bahwa orang muda tidak hanya mampu mengidentifikasi masalah, tetapi juga menawarkan solusi yang lahir dari pengalaman dan kondisi di lapangan.   Audiensi Orang Muda dan Seleksi Delegasi Nasional Youth Assembly menjadi pengingat bahwa orang muda desa memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan. Ketika diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi dan dipercaya mengambil peran, mereka mampu membangun kolaborasi, melahirkan gagasan yang berdampak, serta membuktikan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kota besar. Perubahan juga bisa tumbuh dari desa, melalui langkah-langkah kecil yang digerakkan oleh orang muda yang peduli terhadap masa depan komunitasnya.

Audiensi Orang Muda dan Seleksi Delegasi Nasional Youth Assembly: Saatnya Orang Muda Desa Menyusun Aksi Nyata Read More »

Hi, Teman-Teman! Masa Depan Desa Ada di Tangan Orang Muda

Bagaimana kalau ide-ide yang selama ini hanya dibicarakan di tongkrongan ternyata bisa menjadi solusi untuk desa? Bagaimana kalau suara orang muda benar-benar didengar dalam pembangunan? Kabar baiknya, itu sedang dimulai. Sebanyak 32 orang muda berkumpul dalam Pertemuan Orang Muda Tingkat Kabupaten yang diselenggarakan oleh Sumba Integrated Development (SID) bersama ChildFund International di Indonesia. Para peserta merupakan perwakilan orang muda dari Desa Mbatakapidu, Komunitas Ana Humba, dan Koalisi KOPI yang memiliki semangat yang sama untuk belajar, berbagi pengalaman, serta merancang aksi nyata bagi kemajuan masyarakat dan desa mereka. Selama kegiatan berlangsung, para peserta tidak hanya berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda, tetapi juga saling bertukar gagasan, memperluas jejaring, dan menyusun berbagai solusi yang dapat diwujudkan secara bersama-sama. Pertemuan ini menjadi bukti bahwa ketika orang muda diberikan ruang untuk berbicara dan berkolaborasi, mereka mampu menghadirkan ide-ide segar yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kenapa Kegiatan Ini Penting? Saat ini dunia sedang menghadapi berbagai tantangan besar. Perubahan iklim menyebabkan cuaca semakin tidak menentu. Kesempatan kerja semakin kompetitif karena perkembangan teknologi dan digitalisasi. Persoalan kesehatan mental semakin banyak dialami anak muda. Di sisi lain, ketimpangan akses pendidikan dan ekonomi masih menjadi kenyataan di banyak daerah, termasuk di wilayah pedesaan. Indonesia juga sedang mempersiapkan Generasi Emas 2045, sebuah cita-cita besar agar generasi muda hari ini menjadi generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan mampu membawa bangsa menjadi negara maju. Namun pertanyaannya adalah: Siapa yang akan membangun desa jika bukan orang mudanya sendiri? Sayangnya, hingga saat ini masih banyak orang muda yang belum mendapatkan ruang untuk terlibat dalam proses pembangunan. Tidak sedikit yang masih dianggap belum memiliki pengalaman, belum cukup mampu mengambil keputusan, atau hanya dipandang sebagai kelompok yang senang berkumpul tanpa memberikan kontribusi. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Orang muda memiliki energi, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta keberanian mencoba hal-hal baru. Mereka memahami perkembangan teknologi, mampu melihat peluang, dan memiliki semangat untuk menciptakan perubahan apabila diberikan kesempatan. Karena itulah SID bersama ChildFund International di Indonesia berkomitmen membuka lebih banyak ruang agar orang muda dapat berkembang, berpartisipasi, dan menjadi bagian penting dalam pembangunan desa. Belajar Bersama, Bukan Sekadar Mendengar Materi Pertemuan ini bukan seminar yang pesertanya hanya duduk mendengarkan. Seluruh peserta diajak berdiskusi, berpikir kritis, berbagi pengalaman, bahkan memetakan berbagai persoalan yang mereka temui di lingkungan masing-masing. Dalam sambutannya, Koordinator Program SID, Anton Jawamara, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar bersama agar orang muda mampu mengenali berbagai isu yang terjadi di sekitar mereka sekaligus menemukan solusi yang dapat dilakukan secara kolaboratif. Sementara itu, Direktur Eksekutif SID, Anto Kila, menegaskan bahwa dalam strategi program SID bersama ChildFund International di Indonesia periode 2026–2027, penguatan peran orang muda menjadi salah satu prioritas utama. Menurut beliau, orang muda bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi juga aktor utama yang mampu membawa perubahan bagi masyarakat melalui inovasi, kepemimpinan, dan aksi nyata. Empat Isu Besar yang Dibahas Orang Muda Peserta kemudian dibagi ke dalam empat kelompok diskusi yang membahas isu-isu paling dekat dengan kehidupan mereka. 🌱 Perubahan Iklim Teman-teman muda melihat sendiri bagaimana perubahan iklim mulai memengaruhi kehidupan masyarakat. Mulai dari musim yang sulit diprediksi, hasil pertanian yang menurun, abrasi di wilayah pesisir, hingga meningkatnya sampah plastik yang mencemari lingkungan. Mereka kemudian menawarkan berbagai solusi seperti: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai; memperkuat edukasi lingkungan; mengembangkan pengelolaan sampah, termasuk ecobrick; serta mendorong agar isu lingkungan menjadi bagian penting dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes). Pesan mereka sederhana: Kalau bukan kita yang menjaga lingkungan, siapa lagi? 📚 Pendidikan Kelompok pendidikan membahas tantangan yang masih dihadapi banyak anak muda. Mulai dari pola pengasuhan yang belum mendukung perkembangan anak, keterbatasan akses pendidikan, hingga kurangnya ruang untuk mengembangkan keterampilan. Peserta percaya bahwa pendidikan hari ini tidak cukup hanya belajar di ruang kelas. Orang muda juga membutuhkan: ruang belajar bersama; pelatihan teknologi digital; pengembangan soft skills; kepemimpinan; dan kewirausahaan. Karena masa depan membutuhkan lebih dari sekadar ijazah. 💼 Ekonomi Banyak anak muda sebenarnya ingin berwirausaha. Sayangnya, mereka masih menghadapi berbagai hambatan seperti keterbatasan modal, akses pasar, pengalaman usaha, dan keterampilan bisnis. Padahal Sumba Timur memiliki begitu banyak potensi yang dapat dikembangkan, seperti: tenun ikat; pertanian; peternakan; pariwisata desa; kuliner lokal; hingga pemasaran digital melalui media sosial. Peserta sepakat bahwa anak muda membutuhkan lebih banyak pelatihan, akses informasi, pendampingan usaha, dukungan teknologi, dan kesempatan untuk mengembangkan bisnis mereka sendiri. ❤️ Kesehatan Topik kesehatan menjadi salah satu diskusi yang paling hidup. Peserta membahas kesehatan mental, bullying, kekerasan dalam rumah tangga, pernikahan dini, kesehatan reproduksi, hingga pentingnya layanan kesehatan yang ramah bagi remaja. Mereka menyampaikan bahwa masih banyak orang muda yang takut mencari bantuan karena stigma. Karena itu mereka berharap tersedia: edukasi kesehatan mental yang berkelanjutan; layanan konseling yang mudah diakses; layanan kesehatan ramah remaja; serta lingkungan yang aman untuk berbicara tanpa takut dihakimi. Youth Hub: Ruang yang Diimpikan Orang Muda Salah satu hasil paling menarik dari kegiatan ini adalah munculnya harapan besar terhadap keberadaan Youth Hub. Menurut peserta, Youth Hub bukan sekadar tempat berkumpul. Mereka membayangkan Youth Hub sebagai: pusat belajar dan pengembangan kapasitas; ruang diskusi berbagai isu anak muda; tempat berbagi pengalaman dan inspirasi; wadah pelatihan kepemimpinan dan kewirausahaan; ruang kolaborasi merancang aksi sosial; sekaligus jaringan orang muda yang saling mendukung untuk menciptakan perubahan positif. Dengan kata lain, Youth Hub diharapkan menjadi rumah bersama bagi lahirnya berbagai ide dan aksi orang muda di Sumba Timur. Dari Diskusi Menuju Aksi Nyata Yang paling membanggakan dari kegiatan ini adalah semangat para peserta. Mereka tidak hanya mampu mengidentifikasi masalah, tetapi juga menganalisis akar persoalan, memahami dampaknya, dan menawarkan solusi yang realistis. Hal ini menunjukkan bahwa ketika diberi ruang, kepercayaan, dan kesempatan, orang muda mampu berpikir kritis, bekerja sama, dan berkontribusi bagi masyarakat. Perubahan Dimulai dari Kita Membangun desa bukan hanya tugas pemerintah. Bukan juga hanya tugas orang dewasa. Pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk orang muda. Setiap ide yang disampaikan, setiap diskusi yang dilakukan, dan setiap aksi kecil yang dimulai hari ini dapat menjadi langkah besar menuju masa depan yang lebih baik. SID percaya bahwa setiap orang muda memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan. Kini saatnya bukan lagi bertanya “Apakah orang muda mampu?”, tetapi mulai memberi ruang agar mereka dapat

Hi, Teman-Teman! Masa Depan Desa Ada di Tangan Orang Muda Read More »

Menguatkan Suara dan Perlindungan Anak, Desa Ndapayami Sosialisasikan Peraturan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Anak

Perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga, masyarakat, dan pemerintah desa. Menyadari pentingnya membangun lingkungan yang aman dan ramah bagi anak, SID didukung ChildFund Intenasional di Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Desa Ndapayami, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur melaksanakan kegiatan Sosialisasi Peraturan Kepala Desa Ndapayami Nomor 3 Tahun 2025 tentang Pencegahan, Penanganan, dan Pendampingan Kasus Kekerasan terhadap Anak. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk upaya memperkuat pemahaman masyarakat mengenai hak-hak anak, bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak, langkah pencegahan, serta mekanisme penanganan dan pendampingan apabila terjadi kasus kekerasan terhadap anak. Sosialisasi ini menjadi penting karena masih terdapat tantangan berupa kurangnya pemahaman sebagian masyarakat mengenai perlindungan anak, pola pengasuhan yang positif, pencegahan perkawinan anak, serta peran bersama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Kegiatan yang berlangsung di Desa Ndapayami, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur ini diikuti oleh 38 peserta yang berasal dari unsur pemerintah desa, orang muda, dan pengurus Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat (PABM) serta masyarakat umum. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan adanya komitmen bersama untuk membangun sistem perlindungan anak berbasis masyarakat di tingkat desa. Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman mengenai tiga aspek utama perlindungan anak, yaitu pencegahan, penanganan kasus, dan pendampingan korban. Pencegahan dilakukan melalui peningkatan kesadaran masyarakat, edukasi hak anak, penguatan pengasuhan positif, serta upaya mencegah berbagai risiko yang dapat mengancam anak. Ketika terjadi kasus, masyarakat memahami pentingnya pelaporan, respon awal, koordinasi, dan rujukan kepada pihak terkait. Sementara itu, pendampingan korban menjadi bagian penting agar anak mendapatkan perlindungan, pemulihan, serta dukungan yang dibutuhkan. Diskusi bersama peserta juga memperkuat kesadaran bahwa perlindungan anak tidak hanya menjadi tugas pemerintah desa, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat. Peserta menekankan pentingnya memperluas sosialisasi hingga tingkat dusun, RT/RW, dan keluarga agar semakin banyak masyarakat memahami cara melindungi anak dari kekerasan, perkawinan anak, maupun risiko di dunia digital. Sebagai hasil kegiatan, Pemerintah Desa Ndapayami, orang muda, dan pengurus PABM menyepakati komitmen bersama untuk melanjutkan sosialisasi Peraturan Kepala Desa Nomor 3 Tahun 2025 kepada masyarakat yang lebih luas. Pemerintah desa, orang muda, dan PABM juga akan menjadi penggerak utama dalam menyampaikan informasi dan membangun kesadaran masyarakat, dengan dukungan SID dalam proses penguatan dan pendampingan kegiatan. Melalui langkah bersama ini, Desa Ndapayami terus berupaya mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak, sehingga setiap anak dapat tumbuh dan berkembang dengan perlindungan serta dukungan dari seluruh masyarakat.

Menguatkan Suara dan Perlindungan Anak, Desa Ndapayami Sosialisasikan Peraturan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Anak Read More »

Menumbuhkan Wirausaha Muda dari Desa, SID dan ChildFund Dampingi Pengembangan Agrosilvopastoral di Sumba Timur

Di Desa Mbatakapidu, sekelompok orang muda mulai mengembangkan usaha hortikultura dengan menanam berbagai jenis sayuran seperti kangkung, sawi, tomat, cabai, dan terung. Untuk menjaga kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, mereka memanfaatkan pupuk organik yang berasal dari kotoran kambing yang telah difermentasi. Sistem ini menjadi bagian dari model agrosilvopastoral yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan kehutanan dalam satu kawasan usaha produktif. Selain budidaya tanaman hortikultura, para pemuda di Mbatakapidu juga memperoleh pendampingan dari SID dan ChildFund dalam pengelolaan ternak kambing, penanaman hijauan pakan ternak, serta pengembangan tanaman umur panjang yang berfungsi mendukung konservasi lahan dan sumber daya air. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan yang beragam sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga di pedesaan.       Sementara itu, orang muda di Desa Ndapayami mulai mengembangkan usaha budidaya bawang merah sebagai komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan kewirausahaan kaum muda sekaligus memperkuat sektor pertanian desa. Dengan dukungan pendampingan teknis dan pengelolaan usaha yang difasilitasi oleh SID bersama ChildFund, para peserta diharapkan mampu mengembangkan usaha pertanian yang produktif dan berkelanjutan.         Pengembangan agrosilvopastoral tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya menjaga lingkungan. Melalui integrasi tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan pohon-pohon produktif, sistem ini mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim.         Program yang dilaksanakan oleh SID dengan dukungan ChildFund ini menjadi bukti bahwa orang muda desa memiliki potensi besar untuk menjadi pelaku utama pembangunan ekonomi lokal. Dengan pendampingan yang tepat, inovasi pertanian yang ramah lingkungan, serta semangat kewirausahaan, anak-anak muda di Mbatakapidu dan Ndapayami mulai menunjukkan bahwa sektor pertanian dapat menjadi pilihan usaha yang menjanjikan sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan di Sumba Timur.

Menumbuhkan Wirausaha Muda dari Desa, SID dan ChildFund Dampingi Pengembangan Agrosilvopastoral di Sumba Timur Read More »

SID dan ChildFund Indonesia Akhiri 20 Tahun Pendampingan di Tujuh Desa Sumba Timur

Setelah hampir 20 tahun mendampingi masyarakat di Kecamatan Nggaha Ori Angu, Kabupaten Sumba Timur, Sumba Integrated Development (SID) bersama ChildFund International di Indonesia resmi mengakhiri pendampingan program di tujuh desa dampingan. Momen tersebut ditandai melalui kegiatan bertajuk “Merayakan Dampak, Menginspirasi Masa Depan” yang diselenggarakan pada 13 Mei 2026 di Aula Kantor Kecamatan Nggaha Ori Angu. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang yang telah dilalui bersama masyarakat, pemerintah desa, sekolah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Sebanyak 165 peserta hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk perwakilan pemerintah, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, pemuda, dan anak-anak dari desa dampingan. Dampak Pendampingan Selama Dua Dekade Selama hampir dua dekade, SID dan ChildFund Indonesia menjalankan berbagai program yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup anak dan keluarga. Program-program tersebut mencakup bidang pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, penguatan ekonomi keluarga, pelestarian lingkungan, serta pengembangan kapasitas kelembagaan desa. Berbagai perubahan positif telah terlihat di masyarakat. Akses terhadap layanan dasar semakin baik, kesadaran akan pentingnya perlindungan anak meningkat, dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa semakin kuat. Direktur Eksekutif SID, Anto Kila, mengatakan bahwa perubahan yang terjadi merupakan hasil dari proses panjang yang dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak. “Banyak capaian yang dapat kita lihat hari ini. Semua ini lahir dari kerja sama, komitmen, dan semangat masyarakat untuk terus berkembang,” ujarnya. Investasi untuk Masa Depan Anak Salah satu fokus utama pendampingan adalah memastikan anak-anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Melalui berbagai program yang dijalankan, anak-anak memperoleh akses yang lebih baik terhadap pendidikan, pengembangan keterampilan hidup, serta ruang untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosial mereka. Menurut Anto Kila, banyak anak yang pernah menjadi peserta program kini telah berhasil meniti karier di berbagai bidang. “Anak-anak yang dulu mengikuti program kini ada yang menjadi ASN, guru, anggota TNI, pegawai swasta, hingga wirausahawan. Ini menunjukkan bahwa investasi pada anak akan memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat,” katanya. Ia juga menegaskan pentingnya melanjutkan upaya perlindungan anak di tingkat desa agar setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan mereka. Pembelajaran dan Komitmen Bersama Selain seremoni penutupan, kegiatan ini juga menghadirkan diskusi dan talk show tentang penguatan Desa Layak Anak dan perlindungan anak berbasis masyarakat. Para narasumber berbagi pengalaman mengenai penguatan layanan PAUD, pendidikan kecakapan hidup, literasi keuangan, serta peran Forum Anak dalam mendukung pembangunan sosial di desa. Kepala SMP Negeri 1 Nggaha Ori Angu, Sri Martini Thomas, menyampaikan bahwa Program Pendidikan Kecakapan Hidup dan Literasi Keuangan yang diperkenalkan melalui pendampingan telah menjadi bagian dari proses pembelajaran di sekolah. Menurutnya, program tersebut sejalan dengan semangat Merdeka Belajar dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik. Sementara itu, Camat Nggaha Ori Angu, John Umbu Nggaba Tay, mengapresiasi kontribusi SID dan ChildFund Indonesia dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia di wilayahnya. Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Kepala Dinas DP3AP2KB Kabupaten Sumba Timur, Oktavianus Tamu Ama. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendorong pemenuhan indikator Kabupaten Layak Anak dan mengembangkan praktik-praktik baik yang telah dihasilkan melalui program pendampingan. Merayakan Dampak, Menginspirasi Masa Depan Suasana selebrasi semakin meriah dengan berbagai penampilan seni dan budaya lokal. Anak-anak dan masyarakat menampilkan tarian tradisional, syair adat luluku, serta pembacaan puisi yang menggambarkan perjalanan dan harapan mereka untuk masa depan. Bagi masyarakat Nggaha Ori Angu, kegiatan ini bukan sekadar penutupan program. Momentum ini menjadi perayaan atas berbagai perubahan yang telah dicapai bersama selama hampir 20 tahun. Berakhirnya pendampingan tidak berarti berakhirnya upaya pembangunan masyarakat dan perlindungan anak. Fondasi yang telah dibangun melalui kerja sama antara masyarakat, pemerintah, SID, dan ChildFund Indonesia diharapkan terus berkembang dan memberikan manfaat bagi generasi-generasi berikutnya di Sumba Timur.

SID dan ChildFund Indonesia Akhiri 20 Tahun Pendampingan di Tujuh Desa Sumba Timur Read More »

Tantangan Literasi dan Numerasi di Sumba Timur

Dari Kemampuan Dasar Menuju Pemahaman Mendalam Berdasarkan Hasil Studi INOVASI 2025. Kemampuan literasi dan numerasi merupakan fondasi utama bagi kualitas pendidikan suatu bangsa. Anak yang mampu membaca dengan pemahaman yang baik dan menggunakan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari memiliki peluang lebih besar untuk berhasil dalam pendidikan lanjutan, dunia kerja, serta kehidupan sosial. Oleh karena itu, peningkatan literasi dan numerasi menjadi prioritas penting dalam pembangunan pendidikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Kabupaten Sumba Timur, upaya peningkatan kualitas literasi dan numerasi telah dilakukan melalui berbagai program pendidikan, salah satunya melalui kemitraan dengan program INOVASI. Studi Baseline INOVASI tahun 2025 memberikan gambaran awal mengenai kondisi kemampuan literasi dan numerasi siswa pada kelas awal sekolah dasar. Studi ini menggunakan pendekatan cross-sectional quantitative dengan melibatkan 15 sekolah dasar yang dipilih secara acak. Responden yang terlibat dalam penelitian ini cukup luas, yaitu 600 siswa kelas 1–4, 60 guru kelas, 15 kepala sekolah, 575 orang tua siswa, serta 2 pengawas pendidikan. Data ini memberikan gambaran penting tidak hanya mengenai kemampuan belajar siswa, tetapi juga mengenai praktik pembelajaran, lingkungan belajar di sekolah, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan dasar di Sumba Timur.   Kemajuan pada Literasi Dasar Hasil studi menunjukkan bahwa siswa di Sumba Timur relatif berhasil dalam menguasai literasi dasar, terutama pada kemampuan mengenali huruf, suku kata, dan kata. Kemampuan ini merupakan tahap awal dalam proses belajar membaca yang sangat penting bagi perkembangan literasi anak. Namun demikian, ketika siswa dihadapkan pada kemampuan membaca yang lebih kompleks, seperti memahami hubungan antar informasi dalam teks, menarik kesimpulan, atau menginterpretasikan makna bacaan, capaian mereka masih relatif rendah. Hal ini terlihat dari proporsi siswa yang rendah pada kategori membaca integrasi dan interpretasi, yaitu kemampuan membaca tingkat tinggi yang melibatkan analisis dan pemahaman mendalam terhadap teks. Kemampuan membaca pada tingkat ini termasuk dalam kategori Higher Order Thinking Skills (HOTS), yang juga menjadi fokus dalam berbagai asesmen pendidikan seperti Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Programme for International Student Assessment (PISA).   Tantangan Nasional dalam Literasi Temuan di Sumba Timur sebenarnya mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam sistem pendidikan Indonesia. Data PISA menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional. Dalam PISA 2022, skor membaca Indonesia berada pada kisaran 359 poin, jauh di bawah rata-rata OECD yang berada di atas 480 poin. Selain itu, Bank Dunia mencatat bahwa sekitar 53% anak usia sekolah dasar di Indonesia mengalami “learning poverty”, yaitu tidak mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia 10 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak siswa memang mampu membaca secara mekanis, tetapi belum memiliki kemampuan memahami isi bacaan secara mendalam. Fenomena ini juga terlihat di Sumba Timur. Meskipun kemampuan membaca dasar cukup baik, kemampuan memahami teks dan menginterpretasikan informasi masih menjadi tantangan utama bagi siswa.   Pola yang Sama pada Kemampuan Numerasi Pola yang serupa juga ditemukan pada kemampuan numerasi siswa. Studi baseline menunjukkan bahwa siswa di Sumba Timur relatif berhasil dalam numerasi dasar, seperti mengenal angka dan melakukan operasi matematika sederhana. Namun ketika pembelajaran masuk pada tahap yang lebih kompleks, yaitu memahami konsep matematika dan menerapkannya dalam pemecahan masalah, capaian siswa mengalami penurunan. Kesulitan ini terlihat pada aspek knowing dan applying, yaitu kemampuan memahami konsep matematika serta menggunakan konsep tersebut dalam situasi praktis. Kemampuan ini juga termasuk dalam kategori HOTS yang menuntut siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi mampu berpikir secara logis dan analitis. Penelitian pendidikan matematika menunjukkan bahwa kesulitan ini sering terjadi ketika pembelajaran matematika terlalu menekankan prosedur perhitungan tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami konsep secara mendalam.   Praktik Pembelajaran yang Masih Berpusat pada Guru Salah satu faktor penting yang mempengaruhi rendahnya kemampuan pemahaman siswa adalah praktik pembelajaran di kelas. Studi baseline menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang digunakan oleh guru masih didominasi oleh pendekatan tradisional. Sebanyak 97% guru menggunakan metode ceramah dan 95% menggunakan diskusi dalam pembelajaran. Sebaliknya, metode yang mendorong eksplorasi dan pengalaman belajar aktif masih jarang digunakan, antara lain: Demonstrasi: 37% Eksperimen: 28% Pembelajaran berbasis proyek: 15% Role playing: 23% Kunjungan lapangan: 5% Dominasi metode ceramah menunjukkan bahwa pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher-centered learning). Menurut pakar pendidikan John Hattie, pembelajaran yang efektif terjadi ketika siswa aktif terlibat dalam proses belajar melalui eksplorasi, diskusi mendalam, dan pemecahan masalah. Pembelajaran yang hanya berfokus pada ceramah cenderung menghasilkan hafalan jangka pendek, tetapi tidak selalu menghasilkan pemahaman konseptual yang kuat.   Keterbatasan Akses terhadap Bahan Bacaan Selain metode pembelajaran, ketersediaan bahan bacaan juga menjadi faktor penting dalam pengembangan literasi siswa. Studi baseline menunjukkan bahwa hanya 28,3% ruang kelas yang memiliki pojok baca. Ketersediaan buku bacaan juga masih terbatas. Dari sekolah yang disurvei, hanya: 58,8% memiliki buku teks atau buku pelajaran. 23,5% memiliki buku cerita anak. 29,4% memiliki buku bacaan dengan teks panjang. Penelitian UNESCO menunjukkan bahwa jumlah buku yang tersedia bagi anak merupakan salah satu faktor paling kuat yang mempengaruhi perkembangan literasi. Anak yang memiliki akses terhadap berbagai bahan bacaan cenderung memiliki kosakata yang lebih luas serta kemampuan memahami teks yang lebih baik.   Keterbatasan Media Pembelajaran Media pembelajaran juga memainkan peran penting dalam membantu siswa memahami konsep. Studi baseline menunjukkan bahwa hanya 77% sekolah memiliki alat bantu literasi dan 60% memiliki alat bantu numerasi. Jenis alat bantu yang tersedia pun masih terbatas, seperti kartu huruf atau poster kata yang terdapat pada 68% kelas, sementara media pembelajaran lain seperti puzzle literasi atau pajangan karya siswa masih sangat sedikit. Padahal berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran konkret dapat membantu siswa memahami konsep abstrak dengan lebih mudah, terutama dalam pembelajaran numerasi pada kelas awal.   Peran Kepemimpinan Sekolah Kepemimpinan sekolah juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Studi baseline menunjukkan bahwa supervisi akademik oleh kepala sekolah belum dilakukan secara optimal. Data menunjukkan bahwa: 11,8% kepala sekolah melakukan supervisi setiap tahun 42,6% melakukan supervisi setiap semester 45,6% tidak pernah melakukan supervisi akademik Menurut penelitian pendidikan oleh Leithwood dan koleganya, kepemimpinan sekolah merupakan faktor kedua paling berpengaruh terhadap hasil belajar siswa setelah kualitas guru. Kepala sekolah yang aktif melakukan supervisi dan memberikan umpan balik kepada guru dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.   Hambatan Bahasa dalam Pembelajaran Bahasa juga menjadi faktor yang mempengaruhi proses

Tantangan Literasi dan Numerasi di Sumba Timur Read More »

Kerjasama untuk Kesejahteraan: Proklim Tundung Mahamu Menggandeng Pihak Swasta untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat yang Berkelanjutan

Oleh : Victor Maru (SID, Sumba Timur, NTT) Di tengah tantangan perubahan iklim dan lahan kering yang membatasi produksi pertanian, masyarakat Desa Tandula Jangga, Kecamatan Nggaha Ori Angu, Sumba Timur, menunjukkan bahwa kerja sama dan kemitraan bisa membuka jalan menuju kesejahteraan. Melalui ProKlim Tundung Mahamu, kelompok ini tidak hanya bergerak dalam adaptasi dan mitigasi iklim, tetapi juga berhasil menjalin kolaborasi dengan pihak swasta untuk mengembangkan hortikultura organik. Kelompok ProKlim ini merupakan dampingan dari Konsorsium Sumba Integrated Development (SID) yang didukung oleh World Neighbors serta bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK-RI). Dukungan yang hadir menjadi energi baru bagi para petani, sekaligus bukti nyata bahwa keberlanjutan hanya bisa terwujud melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha. Desa Tandula Jangga terletak di wilayah timur Kecamatan Nggaha Ori Angu. Kelompok masyarakatnya, yang rata-rata bermata pencaharian sebagai petani, memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi pertanian dan pendapatan rumah tangga melalui pengelolaan pertanian yang lebih efektif. Umbu Ananau menceritakan realitas kehidupan masyarakat bahwa mereka sudah terbiasa menerima bantuan benih dan bibit dari pemerintah desa maupun Dinas Pertanian. Salah satu tokoh muda tersebut adalah Umbu Ananau, seorang aparat desa yang sejak tahun 2021 ditugaskan sebagai Kepala Urusan Umum di Desa Tandula Jangga, sekaligus terlibat aktif dalam Kelompok ProKlim Tundung Mahamu sebagai bendahara kelompok. Melihat potensi lahan pertanian, Umbu Ananau memiliki ide untuk mengolah lahan kering menjadi lahan produktif bagi pengembangan hortikultura, dengan memanfaatkan pupuk organik yang telah ia pelajari melalui pelatihan SID dengan dukungan WN yang bekerjasama dengan KLHK-RI. Ia juga memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan usaha pertanian yang berkelanjutan. Desa Tandula Jangga merupakan salah satu desa dampingan yang mengembangkan Program Kampung Iklim melalui Kelompok Tundung Mahamu. ProKlim ini dibentuk pada tanggal 9 Januari 2023 dengan jumlah anggota 30 orang (17 laki-laki dan 13 perempuan). Berbagai kegiatan adaptasi perubahan iklim telah dilakukan kelompok ini, antara lain pembangunan lubang penampung air hujan oleh 30 rumah tangga; pembuatan lubang biopori; terasering; dan pembatas jalur rambat api. Selain itu, sebanyak 30 petani telah mengembangkan tanaman pangan lokal seperti jagung lamuru, keladi, dan ubi kayu pada lahan seluas 1 hektare. Sebanyak lima petani juga telah mengembangkan kebun dengan model agrosilvopastoral seluas 1,2 hektare dengan menanam berbagai jenis tanaman umur panjang seperti sengon, gamalina, mahoni, dan lobung. Di kawasan konservasi sumber mata air Laikakak, kelompok ini juga telah menanam sebanyak 1.800 anakan pohon pada area konservasi seluas 1 hektare. Kegiatan mitigasi seperti pembuatan tungku hemat energi telah dilakukan oleh 12 rumah tangga. Pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu telah diterapkan oleh 30 rumah tangga, dan simulasi bencana banjir telah dilaksanakan di tingkat desa maupun kabupaten. Sementara itu, kegiatan kelembagaan Kelompok ProKlim meliputi penyusunan peraturan kelompok, pembentukan struktur organisasi, penyusunan program kerja atau rencana aksi, serta pelaksanaan pertemuan rutin Kelompok Tundung Mahamu. Kelompok ProKlim Tundung Mahamu yang telah mengembangkan kegiatan adaptasi, mitigasi, dan penguatan kelembagaan ini terus membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pengembangan yang dilakukan hingga saat ini belum maksimal sehingga kelompok berupaya mencari dukungan melalui berbagai cara. Salah satu upaya tersebut adalah membangun jejaring dengan sektor swasta, salah satunya PT Istana Karang. Kelompok ProKlim ini mengunjungi PT Istana Karang untuk berbagi cerita mengenai pengembangan sayuran yang telah mereka lakukan dan menyerahkan proposal permohonan dukungan benih hortikultura senilai Rp 5.300.000 bagi 30 anggota kelompok pada lahan seluas 1 hektare. Pihak PT Istana Karang merespons positif proposal tersebut dan bersedia bekerja sama, termasuk membeli seluruh hasil sayuran organik untuk kebutuhan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Program MBG merupakan program pemerintah Indonesia yang menyediakan makan siang bagi anak-anak sekolah. Kelompok menyambut baik kesediaan perusahaan untuk membeli sayuran mereka sehingga mulai mengembangkan sayuran organik seperti buncis, sawi hijau, kacang panjang, terong, tomat, kangkung, wortel, dan bayam. Pengembangan ini dilakukan dengan modal sendiri karena belum ada dukungan permodalan dari perusahaan. Hingga kini, hasil sayuran belum dapat dijual kepada PT Istana Karang karena pelaksanaan program MBG tertunda akibat anggaran dari pemerintah pusat belum dicairkan. Selain Kelompok ProKlim Tundung Mahamu Desa Tandula Jangga, Kelompok ProKlim Kaheri Wangga dari Desa Praipaha juga menjalin kerja sama dengan sektor swasta. Mereka menyerahkan proposal permohonan dukungan benih hortikultura kepada PT Istana Karang senilai Rp 5.300.000 untuk 30 anggota kelompok pada lahan seluas 1 hektare. Hingga saat ini, sayuran dari kedua Kelompok ProKlim tersebut belum dapat dibeli oleh PT Istana Karang karena Program MBG belum terlaksana di Sumba Timur. Menjadi pengurus ProKlim bukan sekadar mengajak warga melakukan kegiatan pelestarian lingkungan. Kesuksesan program ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Umbu Ananau memiliki motivasi yang kuat: “Bangunlah relasi yang kuat dengan berbagai pihak, maka kesuksesan akan mengikutinya.” Ia melanjutkan, “Saya sangat bersyukur telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Saya banyak belajar dari proses yang difasilitasi oleh SID, yang mendorong kami untuk membangun relasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta. Saya percaya, keberhasilan dapat diraih ketika ada niat tulus untuk mengabdi kepada masyarakat dan alam.” Sudah saatnya kita semua peduli terhadap pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan dan berkeadilan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. ProKlim Tundung Mahamu mengusung semangat bahwa perubahan iklim bukan untuk dikeluhkan, melainkan dihadapi dengan kerja nyata, kolaborasi kuat, dan semangat yang tidak pernah padam.

Kerjasama untuk Kesejahteraan: Proklim Tundung Mahamu Menggandeng Pihak Swasta untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat yang Berkelanjutan Read More »

Keberhasilan ProKlim Kambuhapang Meraih Nominasi Utama

Oleh : Ferdinan Umbu Bala Landumata (SID, Sumba Timur, NTT) Di Dusun Kambuhapang, perubahan iklim yang ekstrem dan kebiasaan pembakaran lahan telah lama menjadi ancaman bagi pertanian dan kehidupan masyarakat. Namun berkat kepemimpinan Bapak Missa, pendampingan dari Sumba Integrated Development (SID) dukungan dari World Neighbors (WN) yang bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI), warga mulai mengubah kebiasaan, menerapkan tungku hemat energi, mengelola sampah, dan mengadopsi model kebun agrosilvopastoral. Inisiatif ini tidak hanya memulihkan lahan kritis dan meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif untuk menjaga alam. Hasilnya, Kambuhapang kini menjadi contoh Kampung Iklim Utama, membuktikan bahwa perubahan nyata dimulai dari kepedulian satu individu yang menjalar menjadi semangat seluruh komunitas. Kalau dulu kita datang ke Kambuhapang saat kemarau, yang pertama menyambut bukan nyanyian burung atau aroma bunga, tetapi bau asap yang menusuk hidung. Sawah-sawah tidak lagi tampak luas membentang, melainkan hamparan hitam gosong bekas kebakaran jerami padi dan kebakaran lahan. Angin Timur yang biasanya membawa kesejukan justru menjadi pembawa mara bahaya. Sekali api menyala, angin ini membuatnya berlari kencang, tidak hanya membakar jerami padi, tetapi juga melalap kebun, padang, bahkan pagar rumah dalam waktu singkat. Warga sudah terlalu sering melihat itu. Seperti yang diungkapkan salah satu anggota kelompok, Bapak Kornelis Katanga Hay, “Memang begini kalau musim panas di sini,” seakan pasrah menerima keadaan. Tetapi jauh di dalam hati, tidak ada yang sungguh-sungguh ingin tanahnya terus terbakar. Semua orang tahu, kebakaran membawa kerugian, tetapi tidak banyak yang tahu harus mulai dari mana untuk menghentikannya, selain dengan memadamkan menggunakan alat seadanya. Di tengah rasa pasrah itu, ada seorang tokoh masyarakat yang tak mau menyerah, namanya Bapak Missa. Beliau wakil ketua ProKlim di desa ini, tetapi bagi warga, dia lebih seperti saudara tua yang selalu siaga ketika alam butuh dijaga. Ucapannya sederhana namun mengena, “Tanah ini Tuhan kasi untuk kita jaga. Kalau kita yang rusak, nanti anak cucu mau tinggal di mana?” Kata-kata itu sering ia ulang di balai desa, di kebun, atau saat minum kopi pagi bersama tetangga. Bapak Missa bukan hanya pandai bicara, tetapi juga menjadi teladan melalui praktik-praktik nyata bagi masyarakat. Saat api mulai menyala di padang, dia yang pertama bangun. Tak peduli siang terik atau malam gelap, ia akan memanggil warga, membawa cangkul, ranting basah, bahkan alat semprot hama tanaman untuk memadamkan api. Pernah suatu malam, api hampir masuk ke kebun jagung warga. Tanpa pikir panjang, Bapak Missa memimpin warga membuat jalur pengaman. Warga ikut turun tangan, dan malam itu kebun terselamatkan. Ketika SID dengan dukungan WN yang bekerja sama dengan KLHK RI berkomitmen memberikan pendampingan kepada masyarakat, Bapak Missa melihat kesempatan untuk mengubah kebiasaan. Ia mengumpulkan warga di balai desa dan berkata, “Kalau kita mau lahan dan padang kita aman, kita harus ubah cara kita urus tanah.” Dari situlah lahir berbagai inisiatif yang perlahan mengubah wajah Kambuhapang. Ada sebanyak 10 rumah tangga yang telah mulai membangun tungku hemat energi. Dengan tungku ini, kayu bakar lebih awet dan dapur tidak lagi penuh asap. Ibu-ibu tersenyum karena masakan cepat matang tanpa membuat mata pedih. Sewaktu masih memakai tungku tradisional, mereka bisa menghabiskan kayu bakar 15–20 batang per hari, namun sekarang hanya membutuhkan 4–6 batang per hari. Sampah pun mulai dipilah oleh 20 rumah tangga anggota ProKlim. Botol dan plastik dikumpulkan untuk dijual atau digunakan sebagai pot tanaman hias dan sayuran, sedangkan sisa makanan dijadikan pupuk di kebun. Halaman rumah menjadi lebih rapi, anak-anak bisa bermain tanpa takut menginjak pecahan kaca atau plastik tajam. Lahan-lahan mulai ditata ulang. Ada tanah untuk jagung, ubi, dan sayur; ada lahan khusus untuk pohon pelindung; dan ada padang rumput untuk pakan ternak. Meski pada awal intervensi dan pendampingan oleh lembaga SID dengan dukungan World Neighbors yang bekerja sama dengan KLHK RI telah diperkenalkan istilah agrosilvopastoral, warga menganggapnya sulit, baik untuk diucapkan maupun dilaksanakan. Namun lain halnya dengan Bapak Missa. Sambil tertawa ia berkata, “Artinya gampang, tani, hutan, dan ternak bisa hidup rukun dalam satu kesatuan kebun.” Kemudian Bapak Missa bersama kelompok membuat demplot kebun model agrosilvopastoral agar bisa dijadikan contoh bagi anggota kelompok. Hingga saat ini, ada sekitar lima petani yang telah mengadopsi pengelolaan kebun dengan model agrosilvopastoral seluas 1 hektare. Berbagai jenis tanaman ditanam di kebun, yaitu tanaman pangan (jagung, ubi kayu), tanaman umur panjang (jati putih, mahoni), dan pakan ternak (lamtoro, rumput hijau) untuk menyediakan pakan ternak kuda, kerbau, dan kambing. Perubahan mulai terlihat. Pohon-pohon muda tumbuh tegak, padang menghijau, air hujan meresap ke tanah, dan hewan ternak gemuk karena pakan cukup. Orang kampung mulai percaya, menjaga alam itu bukan hanya pekerjaan, tetapi cara hidup. Pemerintah desa yang melihat keberhasilan ini kemudian membuat Peraturan Desa tentang Tata Guna Lahan. Aturan itu melarang pembakaran sembarangan, mengatur zona tanam, dan melindungi hutan kecil yang masih tersisa. Tidak hanya berhenti pada aturan, pemerintah desa juga mengalokasikan dana untuk mendukung kegiatan ProKlim sebesar Rp 1.500.000 pada periode tahun 2023 sampai tahun 2025. Anggaran dana desa itu direalisasikan untuk pembibitan pohon, perbaikan tungku hemat energi, dan pelatihan tentang pembuatan pupuk kompos serta pupuk cair organik agar warga terus mengembangkan kebiasaan baik ini. Tahun 2025, Kementerian Lingkungan Hidup melakukan penilaian pengembangan Kampung Iklim. Mereka menyediakan sejumlah pertanyaan melalui formulir penilaian ProKlim, di mana kelompok bersama SID dengan dukungan dari DLH menginput data capaian dan manfaat terkait adaptasi, mitigasi, dan kelembagaan berkelanjutan sesuai dengan kondisi dusun dan desa. Ketika hasilnya keluar, seluruh desa bersorak: Kambuhapang resmi masuk nominasi kategori Kampung Iklim Utama, sebuah pengakuan nasional untuk kerja keras bersama. Di balik keberhasilan tersebut, ada satu lagi ProKlim dari Desa Ndapayami yang juga masuk nominasi kategori ProKlim Utama. Keberhasilan ini berkat peran seorang penggerak yang biasa dipanggil Bapak Wunu Hiwal. Capaian kegiatan yang cukup menonjol dari ProKlim ini antara lain konservasi kawasan mata air. Selain pencapaian nominasi Level Utama oleh dua kelompok ProKlim, masih ada tiga kelompok ProKlim yang sedang berjuang menuju Level Utama (saat ini berada di Level Madya), di antaranya ProKlim Kahaungu Eti Desa Matawai Pawali, ProKlim Tundung Mahamu Desa Tandula Jangga, dan ProKlim Kaheri Wangga Desa Praipaha. Hal ini bukan tanpa sebab, dan bukan pula karena kurangnya semangat masyarakat, tetapi lebih kepada

Keberhasilan ProKlim Kambuhapang Meraih Nominasi Utama Read More »

“Subur Bio Sluri” Perubahan Luar Biasa dari Tangan Seorang Petani Biasa

Oleh : Ferdinan Umbu Bala Landumata (SID, Sumba Timur, NTT) Di desa kecil Kambuhapang, Kabupaten Sumba Timur, seorang petani biasa bernama Bernadus Missa membuktikan bahwa kreativitas, ketekunan, dan kepedulian terhadap lingkungan bisa mengubah hidup dan komunitasnya. Berawal dari keprihatinan atas tanah yang menurun kesuburannya, ia menciptakan pupuk organik cair sederhana bernama Subur Bio Sluri, yang bukan hanya meningkatkan kesuburan tanah dan hasil panen, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, memberdayakan perempuan, dan menyebarkan praktik pertanian ramah lingkungan ke desa-desa sekitar. Inisiatif bisnis ini berkembang berkat pendampingan intensif dari Sumba Integrated Development (SID) yang didukung World Neighbors (WN), yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI). Kisah ini menunjukkan bagaimana inovasi lokal, didukung pendampingan strategis, mampu menghadirkan perubahan nyata bagi petani dan masyarakat di sekitarnya. Musim hujan yang tak menentu dan kesuburan tanah yang sudah sangat berkurang membuat banyak petani di Desa Kambuhapang mengalami gagal panen. Tanaman menjadi mudah layu, terserang hama, dan kesuburan tanah menurun drastis. Seperti petani lainnya, Bapak Missa mengalami keresahan yang sama. Tapi, alih-alih menyerah, ia bertanya dalam  hatinya, “Apakah saya bisa melakukan sesuatu untuk mengubah ini?” Melihat limbah dapur, kotoran hewan, dan tanaman liar di sekelilingnya yang tak termanfaatkan, muncullah ide mengolah bahan-bahan alami menjadi pupuk organik cair (POC). Dengan alat sederhana seperti tong bekas sebagai wadah dan tempat fermentasi, lahirlah racikan pertamanya. Usaha yang dilandasi oleh hobi dan kepedulian terhadap alam, khususnya pembuatan POC ini, sebenarnya sudah mulai dirintis sejak tahun 2018. Pada tahap awal, ramuan POC dibuat secara mandiri oleh Bapak Missa dengan bahan-bahan lokal yang mudah didapat seperti bumbu-bumbu dapur, urin ternak, dan fermentasi menggunakan mikroorganisme lokal (MOL) yang juga dibuat sendiri. Fokus awalnya adalah menciptakan pupuk yang ramah lingkungan dan murah sebagai alternatif pengganti pupuk kimia. Bapak Missa menamai produknya “Subur Bio Sluri”, ramuan sederhana dari bumbu dapur, kotoran ternak, air cucian beras, sisa sayuran, dan mikroorganisme lokal. Pupuk ini membantu mempertahankan kesuburan dan kelembaban tanah serta memperkuat ketahanan tanaman dari serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang muncul akibat perubahan iklim. Produk ini ia kemas dengan botol bekas air mineral dan jerigen minyak goreng. Harga dibuat terjangkau oleh petani, yaitu Rp10.000 untuk 1 liter dan Rp50.000 untuk 5 liter. Melihat hasil yang baik, banyak petani di sekitarnya tertarik mencoba menggunakannya. Sayangnya, usaha ini hanya berjalan terbatas karena tidak ada modal untuk produksi dalam skala lebih besar. Sumba Integrated Development (SID), yang mendapat dukungan WN dan bekerja sama dengan KLHK RI, hadir dan mendampingi ibu-ibu untuk membentuk Kelompok Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP), hal itu disambut baik oleh Rut Tamu Ina, istri Pak Missa. Kelompok UBSP yang dibentuk pada tanggal 21 September 2023 tersebut diberi nama Watu Otur, beranggotakan 9 orang yang semuanya perempuan, dan hingga saat ini memiliki simpanan sebanyak Rp2.924.000. Ibu Rut Tamu Ina adalah salah satu anggota aktif UBSP yang rajin menabung dan aktif dalam kegiatan UBSP. Melihat keterbatasan modal sang suami, maka Ibu Rut Tamu Ina mengajukan pinjaman UBSP sebesar Rp1.500.000 atas namanya sendiri untuk mendukung pengembangan usaha pupuk cair suaminya. Dengan tambahan modal ini, Bapak Missa bisa mengembangkan usahanya sehingga secara kuantitas produksi meningkat dari 30 liter/bulan menjadi 300 liter/bulan; produksi pupuknya diberi merek dengan nama “Subur Bio Sluri”; pemasaran pupuknya sampai ke luar desa; produk dijual dengan harga Rp10.000 per kemasan 1 liter dan Rp50.000 per kemasan 5 liter; omzet mencapai Rp4.000.000–5.000.000 per bulan dengan keuntungan rata-rata Rp1.500.000–2.000.000 per bulan.    Sejak awal pendampingan oleh Sumba Integrated Development (SID), mitra World Neighbors di Sumba Timur ini sudah melihat potensi besar dalam langkah Bapak Missa. Ia diikutsertakan dalam pelatihan pembuatan pupuk cair dan pestisida nabati berbasis limbah organik lokal. Dari sinilah ilmunya semakin dalam, jejaringnya makin luas, dan semangatnya kian besar. Tidak hanya dalam hal produksi, Bapak Missa juga dilibatkan untuk mengedukasi sesama petani. Dengan caranya sendiri, ia mengetuk pintu rumah tetangga, mendatangi kelompok tani, dan memperkenalkan “Subur Bio Sluri” yang kini menyebar di kalangan petani di wilayah Sumba Timur. Para petani mulai merasakan manfaatnya: tanaman lebih kuat menghadapi kekeringan dan serangan hama. Selain itu, dengan diwajibkannya penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati dalam penerapan pertanian konservasi, pengembangan tanaman pangan lokal, dan budidaya sayuran, penggunaan pupuk organik cair dan pestisida nabati semakin banyak diminati. Kini, lebih dari 50 petani di desanya menggunakan pupuk racikannya, bahkan permintaan datang dari desa dan kabupaten tetangga seperti Sumba Tengah dan Sumba Barat. Produksinya kini mencapai 300 liter per bulan dan berpotensi terus meningkat. Bersama SID, Bapak Missa menggelar demonstrasi cara pembuatan dan penggunaan POC di kelompok tani sekitarnya. SID juga memfasilitasi Bapak Missa dalam pemasaran produk POC-nya, baik secara luring maupun daring melalui WhatsApp dan Facebook (akun Facebook: Bernadus Missa, kontak person 082147430194). Hal inilah yang mengangkatnya sebagai duta lokal inovasi pertanian adaptif, sebuah pengakuan atas dedikasi dan pengaruh positif yang telah ia tebarkan. Beliau sering diajak SID untuk memfasilitasi pelatihan pertanian ramah lingkungan di desa-desa lainnya. Ia membagikan pengetahuannya tentang pembuatan pupuk dan pestisida kepada para petani dan mengajak mereka bertani dengan prinsip pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan. Peran SID bukan hanya sebagai fasilitator teknis, tetapi juga sebagai pendamping strategis dalam transformasi usaha kecil. Melalui pendekatan holistik dari pelatihan, legalitas, hingga pemasaran, SID membantu mewujudkan bisnis lokal yang berdampak besar dan berkelanjutan. Dengan adanya intervensi dari program SID atas dukungan WN yang bekerja sama dengan KLHK RI, terjadi sejumlah kemajuan penting dalam usaha Bio Sluri Bapak Missa. Dalam pendampingan, SID juga memperkenalkan beberapa bahan baru yang memperkaya komposisi POC, seperti ekstrak beberapa jenis tanaman untuk pestisida nabati (pesnab) yang berfungsi sebagai pengendali hama dan penyakit tanaman. Selain itu, proses fermentasi juga diperbaiki agar menghasilkan POC yang lebih berkualitas dan tahan lama. Dengan demikian, POC yang awalnya hanya berfungsi sebagai pupuk, sekarang menjadi produk multiguna yang semakin efektif dan efisien digunakan oleh para petani. Dengan keberhasilan tersebut, Bapak Missa mengungkapkan kebanggaannya: “Saya tidak pernah menyangka bahwa usaha kecil seperti ini bisa tumbuh sejauh ini. Bukan cuma soal bisnis, tapi juga soal kepercayaan diri dan dampak bagi lingkungan. Sekarang saya merasa lebih percaya diri menyampaikan manfaat pertanian organik kepada masyarakat luas. Ini semua juga bisa terjadi karena pendampingan program

“Subur Bio Sluri” Perubahan Luar Biasa dari Tangan Seorang Petani Biasa Read More »