
Oleh : Ferdinan Umbu Bala Landumata (SID, Sumba Timur, NTT)
Di desa kecil Kambuhapang, Kabupaten Sumba Timur, seorang petani biasa bernama Bernadus Missa membuktikan bahwa kreativitas, ketekunan, dan kepedulian terhadap lingkungan bisa mengubah hidup dan komunitasnya. Berawal dari keprihatinan atas tanah yang menurun kesuburannya, ia menciptakan pupuk organik cair sederhana bernama Subur Bio Sluri, yang bukan hanya meningkatkan kesuburan tanah dan hasil panen, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, memberdayakan perempuan, dan menyebarkan praktik pertanian ramah lingkungan ke desa-desa sekitar. Inisiatif bisnis ini berkembang berkat pendampingan intensif dari Sumba Integrated Development (SID) yang didukung World Neighbors (WN), yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI). Kisah ini menunjukkan bagaimana inovasi lokal, didukung pendampingan strategis, mampu menghadirkan perubahan nyata bagi petani dan masyarakat di sekitarnya.

Musim hujan yang tak menentu dan kesuburan tanah yang sudah sangat berkurang membuat banyak petani di Desa Kambuhapang mengalami gagal panen. Tanaman menjadi mudah layu, terserang hama, dan kesuburan tanah menurun drastis. Seperti petani lainnya, Bapak Missa mengalami keresahan yang sama. Tapi, alih-alih menyerah, ia bertanya dalam hatinya, “Apakah saya bisa melakukan sesuatu untuk mengubah ini?”

Melihat limbah dapur, kotoran hewan, dan tanaman liar di sekelilingnya yang tak termanfaatkan, muncullah ide mengolah bahan-bahan alami menjadi pupuk organik cair (POC). Dengan alat sederhana seperti tong bekas sebagai wadah dan tempat fermentasi, lahirlah racikan pertamanya. Usaha yang dilandasi oleh hobi dan kepedulian terhadap alam, khususnya pembuatan POC ini, sebenarnya sudah mulai dirintis sejak tahun 2018. Pada tahap awal, ramuan POC dibuat secara mandiri oleh Bapak Missa dengan bahan-bahan lokal yang mudah didapat seperti bumbu-bumbu dapur, urin ternak, dan fermentasi menggunakan mikroorganisme lokal (MOL) yang juga dibuat sendiri. Fokus awalnya adalah menciptakan pupuk yang ramah lingkungan dan murah sebagai alternatif pengganti pupuk kimia.

Bapak Missa menamai produknya “Subur Bio Sluri”, ramuan sederhana dari bumbu dapur, kotoran ternak, air cucian beras, sisa sayuran, dan mikroorganisme lokal. Pupuk ini membantu mempertahankan kesuburan dan kelembaban tanah serta memperkuat ketahanan tanaman dari serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang muncul akibat perubahan iklim. Produk ini ia kemas dengan botol bekas air mineral dan jerigen minyak goreng. Harga dibuat terjangkau oleh petani, yaitu Rp10.000 untuk 1 liter dan Rp50.000 untuk 5 liter. Melihat hasil yang baik, banyak petani di sekitarnya tertarik mencoba menggunakannya. Sayangnya, usaha ini hanya berjalan terbatas karena tidak ada modal untuk produksi dalam skala lebih besar.
Sumba Integrated Development (SID), yang mendapat dukungan WN dan bekerja sama dengan KLHK RI, hadir dan mendampingi ibu-ibu untuk membentuk Kelompok Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP), hal itu disambut baik oleh Rut Tamu Ina, istri Pak Missa. Kelompok UBSP yang dibentuk pada tanggal 21 September 2023 tersebut diberi nama Watu Otur, beranggotakan 9 orang yang semuanya perempuan, dan hingga saat ini memiliki simpanan sebanyak Rp2.924.000. Ibu Rut Tamu Ina adalah salah satu anggota aktif UBSP yang rajin menabung dan aktif dalam kegiatan UBSP. Melihat keterbatasan modal sang suami, maka Ibu Rut Tamu Ina mengajukan pinjaman UBSP sebesar Rp1.500.000 atas namanya sendiri untuk mendukung pengembangan usaha pupuk cair suaminya.

Dengan tambahan modal ini, Bapak Missa bisa mengembangkan usahanya sehingga secara kuantitas produksi meningkat dari 30 liter/bulan menjadi 300 liter/bulan; produksi pupuknya diberi merek dengan nama “Subur Bio Sluri”; pemasaran pupuknya sampai ke luar desa; produk dijual dengan harga Rp10.000 per kemasan 1 liter dan Rp50.000 per kemasan 5 liter; omzet mencapai Rp4.000.000–5.000.000 per bulan dengan keuntungan rata-rata Rp1.500.000–2.000.000 per bulan.
Sejak awal pendampingan oleh Sumba Integrated Development (SID), mitra World Neighbors di Sumba Timur ini sudah melihat potensi besar dalam langkah Bapak Missa. Ia diikutsertakan dalam pelatihan pembuatan pupuk cair dan pestisida nabati berbasis limbah organik lokal. Dari sinilah ilmunya semakin dalam, jejaringnya makin luas, dan semangatnya kian besar.
Tidak hanya dalam hal produksi, Bapak Missa juga dilibatkan untuk mengedukasi sesama petani. Dengan caranya sendiri, ia mengetuk pintu rumah tetangga, mendatangi kelompok tani, dan memperkenalkan “Subur Bio Sluri” yang kini menyebar di kalangan petani di wilayah Sumba Timur.
Para petani mulai merasakan manfaatnya: tanaman lebih kuat menghadapi kekeringan dan serangan hama. Selain itu, dengan diwajibkannya penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati dalam penerapan pertanian konservasi, pengembangan tanaman pangan lokal, dan budidaya sayuran, penggunaan pupuk organik cair dan pestisida nabati semakin banyak diminati. Kini, lebih dari 50 petani di desanya menggunakan pupuk racikannya, bahkan permintaan datang dari desa dan kabupaten tetangga seperti Sumba Tengah dan Sumba Barat. Produksinya kini mencapai 300 liter per bulan dan berpotensi terus meningkat.

Bersama SID, Bapak Missa menggelar demonstrasi cara pembuatan dan penggunaan POC di kelompok tani sekitarnya. SID juga memfasilitasi Bapak Missa dalam pemasaran produk POC-nya, baik secara luring maupun daring melalui WhatsApp dan Facebook (akun Facebook: Bernadus Missa, kontak person 082147430194). Hal inilah yang mengangkatnya sebagai duta lokal inovasi pertanian adaptif, sebuah pengakuan atas dedikasi dan pengaruh positif yang telah ia tebarkan. Beliau sering diajak SID untuk memfasilitasi pelatihan pertanian ramah lingkungan di desa-desa lainnya. Ia membagikan pengetahuannya tentang pembuatan pupuk dan pestisida kepada para petani dan mengajak mereka bertani dengan prinsip pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan.
Peran SID bukan hanya sebagai fasilitator teknis, tetapi juga sebagai pendamping strategis dalam transformasi usaha kecil. Melalui pendekatan holistik dari pelatihan, legalitas, hingga pemasaran, SID membantu mewujudkan bisnis lokal yang berdampak besar dan berkelanjutan.
Dengan adanya intervensi dari program SID atas dukungan WN yang bekerja sama dengan KLHK RI, terjadi sejumlah kemajuan penting dalam usaha Bio Sluri Bapak Missa. Dalam pendampingan, SID juga memperkenalkan beberapa bahan baru yang memperkaya komposisi POC, seperti ekstrak beberapa jenis tanaman untuk pestisida nabati (pesnab) yang berfungsi sebagai pengendali hama dan penyakit tanaman. Selain itu, proses fermentasi juga diperbaiki agar menghasilkan POC yang lebih berkualitas dan tahan lama. Dengan demikian, POC yang awalnya hanya berfungsi sebagai pupuk, sekarang menjadi produk multiguna yang semakin efektif dan efisien digunakan oleh para petani.
Dengan keberhasilan tersebut, Bapak Missa mengungkapkan kebanggaannya: “Saya tidak pernah menyangka bahwa usaha kecil seperti ini bisa tumbuh sejauh ini. Bukan cuma soal bisnis, tapi juga soal kepercayaan diri dan dampak bagi lingkungan. Sekarang saya merasa lebih percaya diri menyampaikan manfaat pertanian organik kepada masyarakat luas. Ini semua juga bisa terjadi karena pendampingan program dari SID yang terus membimbing saya dengan dukungan dari WN yang juga sering melakukan kunjungan ke lokasi kami.”
Lebih jauh, ia menyampaikan harapannya dengan berkata: “Harapan saya ke depan, usaha ini bisa menjadi pusat pelatihan pertanian organik di tingkat desa. Saya ingin berbagi ilmu dengan petani lain dan mengajak lebih banyak anak muda ikut bergerak dalam pertanian ramah lingkungan. Saya juga ingin Subur Bio Sluri bisa menembus pasar nasional dengan tetap menjaga kualitas dan prinsip keberlanjutan.” Kini, “Subur Bio Sluri” bukan sekadar usaha keluarga. Ia adalah simbol kemandirian, keberlanjutan, dan harapan baru bagi pertanian di Sumba Timur, bahkan mungkin bagi banyak petani lainnya di pelosok negeri.
Sebagai dampak lanjutan di empat desa lainnya, SID juga mendampingi 13 kelompok UBSP dengan jumlah anggota yang menjalankan bisnis individu sebanyak 78 orang perempuan di empat desa, yaitu Desa Ndapayami, Matawai Pawali, Tandula Jangga, dan Praipaha. Dari semua anggota UBSP yang berbisnis tersebut, ada sebanyak 35 orang perempuan yang telah meminjam modal dari UBSP untuk pengembangan bisnis individu.

Lidia Linda Anahamu dari Desa Ndapayami juga mengembangkan usaha hortikultura organik. Dengan memanfaatkan bantuan benih sayuran serta menerapkan teknik pertanian yang ia pelajari di Kelompok UBSP Lupang Kuhamu, hasil kebunnya kini sudah berkembang. Ia mengatakan bahwa mereka tidak hanya menjual di pasar rakyat, tetapi juga sudah bisa menjualnya ke Waingapu, Kota Kabupaten Sumba Timur. Bahkan, dari hasil penjualan sayur tersebut, ia telah membeli satu unit handphone Android yang digunakannya untuk menjual hasil kebunnya secara online.
Hasil penjualan rata-rata per bedeng (panjang 20 meter x lebar 1 meter) mencapai Rp250.000 dalam kurun waktu tiga bulan, dan saat ini keluarganya telah memiliki 10 bedeng yang ditanami sawi putih, sawi hijau, kol, tomat, dan cabai.
Di desa dampingan lainnya, Desa Tandula Jangga, ada Mama Loda Nangi Hamu atau yang biasa disapa Mama Hamu yang mengembangkan usahatani sayuran dan usaha penjualan kunyit kering. Mama Hamu adalah seorang petani yang tekun. Meski memiliki lahan sawah tadah hujan yang terbatas, ia tetap mengolahnya dengan penuh dedikasi. Selain itu, ia juga memiliki kebun yang ditanami singkong, jagung, dan kacang-kacangan.

Dalam situasi sulit, Mama Hamu harus berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sebagai kepala rumah tangga perempuan dengan tiga orang anak karena telah ditinggal mati suaminya, ia memutuskan untuk mencari solusi. Salah satunya adalah dengan bergabung dalam kelompok simpan pinjam yang dikenal dengan nama “Rinjung Pahamu.” Tidak hanya itu, ia juga mengajak anak-anaknya untuk mengembangkan tanaman sayuran dan menjalankan bisnis jual beli kunyit demi menambah pendapatan keluarga.
Mama Hamu membeli kunyit dari para petani di sekitar Desa Tandula Jangga. Biasanya, ia langsung datang ke kebun atau menerima pasokan dari petani yang sudah menjadi langganan dengan membeli kunyit kering di sekitar petani seharga Rp15.000/kg, lalu menjualnya kembali ke pengepul seharga Rp25.000/kg. Rata-rata Mama Hamu menjual kunyit sebanyak 35–40 kg per bulan. Usaha jual beli kunyit Mama Hamu dilakukan secara musiman dan hanya berjalan selama 6 bulan dalam setahun ketika musim panen kunyit pada musim kemarau.
Bisnis sembako oleh Monika Yaku Danga, beliau seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Desa Praipaha. Ia memulai usaha sembako secara sederhana dari ruang tamu rumahnya, beralaskan tanah dan beratapkan seng. Hanya dengan modal dari tabungan kecil dan bantuan suami, ia menjual kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, garam, dan sabun dalam jumlah terbatas. Usaha tersebut awalnya ditujukan untuk menambah penghasilan keluarga, namun ternyata respons masyarakat cukup besar. Banyak warga lebih memilih membeli di kiosnya dibandingkan harus pergi jauh ke pasar kecamatan. Seiring waktu, Mama Monika mengalami tantangan modal yang terbatas sehingga tidak bisa menambah stok saat harga sembako naik.

Mama Monika menjadi salah satu anggota aktif UBSP Rinjung Pahamu yang rajin menabung dan ikut kegiatan simpan pinjam. Mama Monika mengajukan pinjaman UBSP sebesar Rp3.000.000. Dana dari UBSP digunakan oleh Mama Monika secara bijak untuk menambah stok barang kiosnya. Setelah empat bulan pasca-pinjaman, pendapatan hariannya meningkat dari Rp150.000 per hari menjadi Rp300.000 per hari. Dengan penuh haru, Mama Monika berkata: “Saya tidak pernah bermimpi punya kios yang bisa bantu keluarga dan orang lain. Tapi dengan adanya UBSP, saya bisa meminjam modal usaha untuk membangun usaha kecil-kecilan demi mencukupi kebutuhan keluarga.”
Masih ada lagi Mama Monika lainnya, yaitu Monika Tanggu Hana dari Desa Matawai Pawali yang merupakan salah satu anggota aktif Kelompok UBSP Mbuhang Pahamu. Ia dikenal sebagai sosok yang ulet dalam mengembangkan usaha jual beli kunyit, komoditas lokal yang sebelumnya kurang diperhatikan.
Awalnya, Mama Monika hanya menjual kunyit dalam jumlah kecil dari hasil kebunnya sendiri, sekadar untuk tambahan penghasilan rumah tangga. Namun, setelah bergabung dengan UBSP Mbuhang Pahamu dan mendapatkan pendampingan, termasuk pelatihan manajemen usaha serta akses permodalan, Mama Monika mulai melihat potensi yang lebih besar dari usaha tersebut.

Mama Monika membeli kunyit kering dari petani sekitar seharga Rp15.000/kg, lalu menjual kembali ke pengepul seharga Rp25.000/kg. Rata-rata ia menjual kunyit sebanyak 40–50 kg per bulan. Awalnya Mama Monika hanya memiliki keuntungan Rp200.000, namun setelah mendapat dukungan modal dari UBSP, keuntungan bulanannya bisa mencapai Rp350.000–400.000 di luar modal. Usaha jual beli kunyit Mama Monika hanya bisa dilakukan selama enam bulan pada musim kemarau karena tidak ada panen kunyit selama musim hujan. Selanjutnya, ia mengembangkan usaha lain.
Melalui kelompok UBSP dan intervensi program yang didukung WN, ia belajar cara menghitung harga pokok penjualan, menentukan harga jual yang layak, dan mengelola keuangan usaha secara lebih tertib. Ia juga mulai membeli kunyit dari petani lain di sekitarnya, lalu menjualnya kembali ke pasar dengan volume yang lebih besar. Usahanya kini tidak hanya bersifat konsumsi rumah tangga, tetapi juga menyasar pasar tradisional dan bahkan produsen jamu lokal yang membutuhkan kunyit dalam jumlah besar dan kualitas terstandar. Berkat ketekunannya, saat ini omzet usaha Mama Monika terus meningkat, dan ia menjadi contoh nyata bagi ibu-ibu lain di desa yang ingin memulai usaha berbasis potensi lokal.
Kisah Bernadus Missa, Monika Tanggu Hana, Lidia Linda Anahamu, Monika Yaku Danga, dan Loda Nangi Hamu bukan hanya tentang usaha bisnis. Ini tentang bagaimana seorang petani biasa mampu membaca perubahan zaman, menemukan solusi, dan menularkannya pada banyak orang. Ini adalah bukti bahwa adaptasi terhadap krisis iklim tidak harus mahal atau rumit. Dengan kreativitas, ketekunan, dan semangat berbagi, solusi bisa tumbuh dari tanah sendiri.