Sumba Integrated Development

Keberhasilan ProKlim Kambuhapang Meraih Nominasi Utama

Oleh : Ferdinan Umbu Bala Landumata (SID, Sumba Timur, NTT)

Di Dusun Kambuhapang, perubahan iklim yang ekstrem dan kebiasaan pembakaran lahan telah lama menjadi ancaman bagi pertanian dan kehidupan masyarakat. Namun berkat kepemimpinan Bapak Missa, pendampingan dari Sumba Integrated Development (SID) dukungan dari World Neighbors (WN) yang bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI), warga mulai mengubah kebiasaan, menerapkan tungku hemat energi, mengelola sampah, dan mengadopsi model kebun agrosilvopastoral. Inisiatif ini tidak hanya memulihkan lahan kritis dan meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif untuk menjaga alam. Hasilnya, Kambuhapang kini menjadi contoh Kampung Iklim Utama, membuktikan bahwa perubahan nyata dimulai dari kepedulian satu individu yang menjalar menjadi semangat seluruh komunitas.

Kejadian bencana kebakaran lahan ketika musim kemarau.

Kalau dulu kita datang ke Kambuhapang saat kemarau, yang pertama menyambut bukan nyanyian burung atau aroma bunga, tetapi bau asap yang menusuk hidung. Sawah-sawah tidak lagi tampak luas membentang, melainkan hamparan hitam gosong bekas kebakaran jerami padi dan kebakaran lahan.

Angin Timur yang biasanya membawa kesejukan justru menjadi pembawa mara bahaya. Sekali api menyala, angin ini membuatnya berlari kencang, tidak hanya membakar jerami padi, tetapi juga melalap kebun, padang, bahkan pagar rumah dalam waktu singkat.

Warga sudah terlalu sering melihat itu. Seperti yang diungkapkan salah satu anggota kelompok, Bapak Kornelis Katanga Hay, “Memang begini kalau musim panas di sini,” seakan pasrah menerima keadaan. Tetapi jauh di dalam hati, tidak ada yang sungguh-sungguh ingin tanahnya terus terbakar. Semua orang tahu, kebakaran membawa kerugian, tetapi tidak banyak yang tahu harus mulai dari mana untuk menghentikannya, selain dengan memadamkan menggunakan alat seadanya.

Di tengah rasa pasrah itu, ada seorang tokoh masyarakat yang tak mau menyerah, namanya Bapak Missa. Beliau wakil ketua ProKlim di desa ini, tetapi bagi warga, dia lebih seperti saudara tua yang selalu siaga ketika alam butuh dijaga. Ucapannya sederhana namun mengena, “Tanah ini Tuhan kasi untuk kita jaga. Kalau kita yang rusak, nanti anak cucu mau tinggal di mana?” Kata-kata itu sering ia ulang di balai desa, di kebun, atau saat minum kopi pagi bersama tetangga.

Bapak Missa bukan hanya pandai bicara, tetapi juga menjadi teladan melalui praktik-praktik nyata bagi masyarakat. Saat api mulai menyala di padang, dia yang pertama bangun. Tak peduli siang terik atau malam gelap, ia akan memanggil warga, membawa cangkul, ranting basah, bahkan alat semprot hama tanaman untuk memadamkan api. Pernah suatu malam, api hampir masuk ke kebun jagung warga. Tanpa pikir panjang, Bapak Missa memimpin warga membuat jalur pengaman. Warga ikut turun tangan, dan malam itu kebun terselamatkan.

Penggunaan tungku hemat energi oleh ibu Ervina Ana Andung (anggota kelompok Proklim).

Ketika SID dengan dukungan WN yang bekerja sama dengan KLHK RI berkomitmen memberikan pendampingan kepada masyarakat, Bapak Missa melihat kesempatan untuk mengubah kebiasaan. Ia mengumpulkan warga di balai desa dan berkata, “Kalau kita mau lahan dan padang kita aman, kita harus ubah cara kita urus tanah.” Dari situlah lahir berbagai inisiatif yang perlahan mengubah wajah Kambuhapang.

Ada sebanyak 10 rumah tangga yang telah mulai membangun tungku hemat energi. Dengan tungku ini, kayu bakar lebih awet dan dapur tidak lagi penuh asap. Ibu-ibu tersenyum karena masakan cepat matang tanpa membuat mata pedih. Sewaktu masih memakai tungku tradisional, mereka bisa menghabiskan kayu bakar 15–20 batang per hari, namun sekarang hanya membutuhkan 4–6 batang per hari. Sampah pun mulai dipilah oleh 20 rumah tangga anggota ProKlim. Botol dan plastik dikumpulkan untuk dijual atau digunakan sebagai pot tanaman hias dan sayuran, sedangkan sisa makanan dijadikan pupuk di kebun. Halaman rumah menjadi lebih rapi, anak-anak bisa bermain tanpa takut menginjak pecahan kaca atau plastik tajam.

Lahan-lahan mulai ditata ulang. Ada tanah untuk jagung, ubi, dan sayur; ada lahan khusus untuk pohon pelindung; dan ada padang rumput untuk pakan ternak. Meski pada awal intervensi dan pendampingan oleh lembaga SID dengan dukungan World Neighbors yang bekerja sama dengan KLHK RI telah diperkenalkan istilah agrosilvopastoral, warga menganggapnya sulit, baik untuk diucapkan maupun dilaksanakan. Namun lain halnya dengan Bapak Missa. Sambil tertawa ia berkata, “Artinya gampang, tani, hutan, dan ternak bisa hidup rukun dalam satu kesatuan kebun.” Kemudian Bapak Missa bersama kelompok membuat demplot kebun model agrosilvopastoral agar bisa dijadikan contoh bagi anggota kelompok.

Hingga saat ini, ada sekitar lima petani yang telah mengadopsi pengelolaan kebun dengan model agrosilvopastoral seluas 1 hektare. Berbagai jenis tanaman ditanam di kebun, yaitu tanaman pangan (jagung, ubi kayu), tanaman umur panjang (jati putih, mahoni), dan pakan ternak (lamtoro, rumput hijau) untuk menyediakan pakan ternak kuda, kerbau, dan kambing.

Perubahan mulai terlihat. Pohon-pohon muda tumbuh tegak, padang menghijau, air hujan meresap ke tanah, dan hewan ternak gemuk karena pakan cukup. Orang kampung mulai percaya, menjaga alam itu bukan hanya pekerjaan, tetapi cara hidup. Pemerintah desa yang melihat keberhasilan ini kemudian membuat Peraturan Desa tentang Tata Guna Lahan. Aturan itu melarang pembakaran sembarangan, mengatur zona tanam, dan melindungi hutan kecil yang masih tersisa.

Pembuatan kebun agrosilvopastoral di salah satu anggota (Thomas Malo) kelompok ProKlim Desa Kambuhapang.

Tidak hanya berhenti pada aturan, pemerintah desa juga mengalokasikan dana untuk mendukung kegiatan ProKlim sebesar Rp 1.500.000 pada periode tahun 2023 sampai tahun 2025. Anggaran dana desa itu direalisasikan untuk pembibitan pohon, perbaikan tungku hemat energi, dan pelatihan tentang pembuatan pupuk kompos serta pupuk cair organik agar warga terus mengembangkan kebiasaan baik ini.

Tahun 2025, Kementerian Lingkungan Hidup melakukan penilaian pengembangan Kampung Iklim. Mereka menyediakan sejumlah pertanyaan melalui formulir penilaian ProKlim, di mana kelompok bersama SID dengan dukungan dari DLH menginput data capaian dan manfaat terkait adaptasi, mitigasi, dan kelembagaan berkelanjutan sesuai dengan kondisi dusun dan desa. Ketika hasilnya keluar, seluruh desa bersorak: Kambuhapang resmi masuk nominasi kategori Kampung Iklim Utama, sebuah pengakuan nasional untuk kerja keras bersama.

Tanda larangan penebangan pohon di area konservasi.

Di balik keberhasilan tersebut, ada satu lagi ProKlim dari Desa Ndapayami yang juga masuk nominasi kategori ProKlim Utama. Keberhasilan ini berkat peran seorang penggerak yang biasa dipanggil Bapak Wunu Hiwal. Capaian kegiatan yang cukup menonjol dari ProKlim ini antara lain konservasi kawasan mata air.

Selain pencapaian nominasi Level Utama oleh dua kelompok ProKlim, masih ada tiga kelompok ProKlim yang sedang berjuang menuju Level Utama (saat ini berada di Level Madya), di antaranya ProKlim Kahaungu Eti Desa Matawai Pawali, ProKlim Tundung Mahamu Desa Tandula Jangga, dan ProKlim Kaheri Wangga Desa Praipaha. Hal ini bukan tanpa sebab, dan bukan pula karena kurangnya semangat masyarakat, tetapi lebih kepada sejumlah tantangan teknis administrasi, penerima manfaat, dan kelembagaan yang masih perlu dibenahi. Beberapa hal yang masih perlu digenjot agar bisa naik kelas tahun depan dari ketiga ProKlim ini antara lain dokumentasi dan pelaporan, kegiatan adaptasi dan mitigasi yang terintegrasi, kelembagaan dan peran masyarakat, serta kemitraan dan dukungan.

Meskipun belum mencapai Level Utama, potensi ketiga desa ini sangat besar. Semangat masyarakatnya ada, dan kegiatan dasar telah berjalan. Walaupun masih ada sejumlah kekurangan, keberhasilan yang cukup menonjol di tiga ProKlim ini antara lain konservasi lahan kritis, konservasi kawasan mata air, dan penggunaan tungku hemat energi.

Kondisi tutupan lahan hasil dari konservasi lahan kritis.

Bagi Bapak Missa, penghargaan itu hanyalah bonus. “Yang penting sekarang, kita sudah tahu cara menjaga tanah. Kalau alam sehat, orang pun hidup baik,” katanya sambil menatap padang yang dulu terbakar, kini hijau menyejukkan mata. Senyum kecilnya mengandung kebanggaan, tetapi juga tekad untuk terus menjaga apa yang telah mereka mulai.

Saat ini, Angin Timur tidak lagi datang membawa ancaman. Ia kini berhembus melewati hamparan hijau, membawa aroma rumput segar dan bunyi riang jangkrik di malam hari. Kambuhapang telah berubah, dan cerita ini akan terus hidup diceritakan dari satu musim ke musim berikutnya, sebagai pengingat bahwa perubahan bisa dimulai dari satu hati yang peduli, lalu menjalar menjadi semangat seluruh desa.