Sumba Integrated Development

Change Story

Kerjasama untuk Kesejahteraan: Proklim Tundung Mahamu Menggandeng Pihak Swasta untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat yang Berkelanjutan

Oleh : Victor Maru (SID, Sumba Timur, NTT) Di tengah tantangan perubahan iklim dan lahan kering yang membatasi produksi pertanian, masyarakat Desa Tandula Jangga, Kecamatan Nggaha Ori Angu, Sumba Timur, menunjukkan bahwa kerja sama dan kemitraan bisa membuka jalan menuju kesejahteraan. Melalui ProKlim Tundung Mahamu, kelompok ini tidak hanya bergerak dalam adaptasi dan mitigasi iklim, tetapi juga berhasil menjalin kolaborasi dengan pihak swasta untuk mengembangkan hortikultura organik. Kelompok ProKlim ini merupakan dampingan dari Konsorsium Sumba Integrated Development (SID) yang didukung oleh World Neighbors serta bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK-RI). Dukungan yang hadir menjadi energi baru bagi para petani, sekaligus bukti nyata bahwa keberlanjutan hanya bisa terwujud melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha. Desa Tandula Jangga terletak di wilayah timur Kecamatan Nggaha Ori Angu. Kelompok masyarakatnya, yang rata-rata bermata pencaharian sebagai petani, memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi pertanian dan pendapatan rumah tangga melalui pengelolaan pertanian yang lebih efektif. Umbu Ananau menceritakan realitas kehidupan masyarakat bahwa mereka sudah terbiasa menerima bantuan benih dan bibit dari pemerintah desa maupun Dinas Pertanian. Salah satu tokoh muda tersebut adalah Umbu Ananau, seorang aparat desa yang sejak tahun 2021 ditugaskan sebagai Kepala Urusan Umum di Desa Tandula Jangga, sekaligus terlibat aktif dalam Kelompok ProKlim Tundung Mahamu sebagai bendahara kelompok. Melihat potensi lahan pertanian, Umbu Ananau memiliki ide untuk mengolah lahan kering menjadi lahan produktif bagi pengembangan hortikultura, dengan memanfaatkan pupuk organik yang telah ia pelajari melalui pelatihan SID dengan dukungan WN yang bekerjasama dengan KLHK-RI. Ia juga memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan usaha pertanian yang berkelanjutan. Desa Tandula Jangga merupakan salah satu desa dampingan yang mengembangkan Program Kampung Iklim melalui Kelompok Tundung Mahamu. ProKlim ini dibentuk pada tanggal 9 Januari 2023 dengan jumlah anggota 30 orang (17 laki-laki dan 13 perempuan). Berbagai kegiatan adaptasi perubahan iklim telah dilakukan kelompok ini, antara lain pembangunan lubang penampung air hujan oleh 30 rumah tangga; pembuatan lubang biopori; terasering; dan pembatas jalur rambat api. Selain itu, sebanyak 30 petani telah mengembangkan tanaman pangan lokal seperti jagung lamuru, keladi, dan ubi kayu pada lahan seluas 1 hektare. Sebanyak lima petani juga telah mengembangkan kebun dengan model agrosilvopastoral seluas 1,2 hektare dengan menanam berbagai jenis tanaman umur panjang seperti sengon, gamalina, mahoni, dan lobung. Di kawasan konservasi sumber mata air Laikakak, kelompok ini juga telah menanam sebanyak 1.800 anakan pohon pada area konservasi seluas 1 hektare. Kegiatan mitigasi seperti pembuatan tungku hemat energi telah dilakukan oleh 12 rumah tangga. Pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu telah diterapkan oleh 30 rumah tangga, dan simulasi bencana banjir telah dilaksanakan di tingkat desa maupun kabupaten. Sementara itu, kegiatan kelembagaan Kelompok ProKlim meliputi penyusunan peraturan kelompok, pembentukan struktur organisasi, penyusunan program kerja atau rencana aksi, serta pelaksanaan pertemuan rutin Kelompok Tundung Mahamu. Kelompok ProKlim Tundung Mahamu yang telah mengembangkan kegiatan adaptasi, mitigasi, dan penguatan kelembagaan ini terus membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pengembangan yang dilakukan hingga saat ini belum maksimal sehingga kelompok berupaya mencari dukungan melalui berbagai cara. Salah satu upaya tersebut adalah membangun jejaring dengan sektor swasta, salah satunya PT Istana Karang. Kelompok ProKlim ini mengunjungi PT Istana Karang untuk berbagi cerita mengenai pengembangan sayuran yang telah mereka lakukan dan menyerahkan proposal permohonan dukungan benih hortikultura senilai Rp 5.300.000 bagi 30 anggota kelompok pada lahan seluas 1 hektare. Pihak PT Istana Karang merespons positif proposal tersebut dan bersedia bekerja sama, termasuk membeli seluruh hasil sayuran organik untuk kebutuhan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Program MBG merupakan program pemerintah Indonesia yang menyediakan makan siang bagi anak-anak sekolah. Kelompok menyambut baik kesediaan perusahaan untuk membeli sayuran mereka sehingga mulai mengembangkan sayuran organik seperti buncis, sawi hijau, kacang panjang, terong, tomat, kangkung, wortel, dan bayam. Pengembangan ini dilakukan dengan modal sendiri karena belum ada dukungan permodalan dari perusahaan. Hingga kini, hasil sayuran belum dapat dijual kepada PT Istana Karang karena pelaksanaan program MBG tertunda akibat anggaran dari pemerintah pusat belum dicairkan. Selain Kelompok ProKlim Tundung Mahamu Desa Tandula Jangga, Kelompok ProKlim Kaheri Wangga dari Desa Praipaha juga menjalin kerja sama dengan sektor swasta. Mereka menyerahkan proposal permohonan dukungan benih hortikultura kepada PT Istana Karang senilai Rp 5.300.000 untuk 30 anggota kelompok pada lahan seluas 1 hektare. Hingga saat ini, sayuran dari kedua Kelompok ProKlim tersebut belum dapat dibeli oleh PT Istana Karang karena Program MBG belum terlaksana di Sumba Timur. Menjadi pengurus ProKlim bukan sekadar mengajak warga melakukan kegiatan pelestarian lingkungan. Kesuksesan program ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Umbu Ananau memiliki motivasi yang kuat: “Bangunlah relasi yang kuat dengan berbagai pihak, maka kesuksesan akan mengikutinya.” Ia melanjutkan, “Saya sangat bersyukur telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Saya banyak belajar dari proses yang difasilitasi oleh SID, yang mendorong kami untuk membangun relasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta. Saya percaya, keberhasilan dapat diraih ketika ada niat tulus untuk mengabdi kepada masyarakat dan alam.” Sudah saatnya kita semua peduli terhadap pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan dan berkeadilan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. ProKlim Tundung Mahamu mengusung semangat bahwa perubahan iklim bukan untuk dikeluhkan, melainkan dihadapi dengan kerja nyata, kolaborasi kuat, dan semangat yang tidak pernah padam.

Kerjasama untuk Kesejahteraan: Proklim Tundung Mahamu Menggandeng Pihak Swasta untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat yang Berkelanjutan Read More »

Keberhasilan ProKlim Kambuhapang Meraih Nominasi Utama

Oleh : Ferdinan Umbu Bala Landumata (SID, Sumba Timur, NTT) Di Dusun Kambuhapang, perubahan iklim yang ekstrem dan kebiasaan pembakaran lahan telah lama menjadi ancaman bagi pertanian dan kehidupan masyarakat. Namun berkat kepemimpinan Bapak Missa, pendampingan dari Sumba Integrated Development (SID) dukungan dari World Neighbors (WN) yang bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI), warga mulai mengubah kebiasaan, menerapkan tungku hemat energi, mengelola sampah, dan mengadopsi model kebun agrosilvopastoral. Inisiatif ini tidak hanya memulihkan lahan kritis dan meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif untuk menjaga alam. Hasilnya, Kambuhapang kini menjadi contoh Kampung Iklim Utama, membuktikan bahwa perubahan nyata dimulai dari kepedulian satu individu yang menjalar menjadi semangat seluruh komunitas. Kalau dulu kita datang ke Kambuhapang saat kemarau, yang pertama menyambut bukan nyanyian burung atau aroma bunga, tetapi bau asap yang menusuk hidung. Sawah-sawah tidak lagi tampak luas membentang, melainkan hamparan hitam gosong bekas kebakaran jerami padi dan kebakaran lahan. Angin Timur yang biasanya membawa kesejukan justru menjadi pembawa mara bahaya. Sekali api menyala, angin ini membuatnya berlari kencang, tidak hanya membakar jerami padi, tetapi juga melalap kebun, padang, bahkan pagar rumah dalam waktu singkat. Warga sudah terlalu sering melihat itu. Seperti yang diungkapkan salah satu anggota kelompok, Bapak Kornelis Katanga Hay, “Memang begini kalau musim panas di sini,” seakan pasrah menerima keadaan. Tetapi jauh di dalam hati, tidak ada yang sungguh-sungguh ingin tanahnya terus terbakar. Semua orang tahu, kebakaran membawa kerugian, tetapi tidak banyak yang tahu harus mulai dari mana untuk menghentikannya, selain dengan memadamkan menggunakan alat seadanya. Di tengah rasa pasrah itu, ada seorang tokoh masyarakat yang tak mau menyerah, namanya Bapak Missa. Beliau wakil ketua ProKlim di desa ini, tetapi bagi warga, dia lebih seperti saudara tua yang selalu siaga ketika alam butuh dijaga. Ucapannya sederhana namun mengena, “Tanah ini Tuhan kasi untuk kita jaga. Kalau kita yang rusak, nanti anak cucu mau tinggal di mana?” Kata-kata itu sering ia ulang di balai desa, di kebun, atau saat minum kopi pagi bersama tetangga. Bapak Missa bukan hanya pandai bicara, tetapi juga menjadi teladan melalui praktik-praktik nyata bagi masyarakat. Saat api mulai menyala di padang, dia yang pertama bangun. Tak peduli siang terik atau malam gelap, ia akan memanggil warga, membawa cangkul, ranting basah, bahkan alat semprot hama tanaman untuk memadamkan api. Pernah suatu malam, api hampir masuk ke kebun jagung warga. Tanpa pikir panjang, Bapak Missa memimpin warga membuat jalur pengaman. Warga ikut turun tangan, dan malam itu kebun terselamatkan. Ketika SID dengan dukungan WN yang bekerja sama dengan KLHK RI berkomitmen memberikan pendampingan kepada masyarakat, Bapak Missa melihat kesempatan untuk mengubah kebiasaan. Ia mengumpulkan warga di balai desa dan berkata, “Kalau kita mau lahan dan padang kita aman, kita harus ubah cara kita urus tanah.” Dari situlah lahir berbagai inisiatif yang perlahan mengubah wajah Kambuhapang. Ada sebanyak 10 rumah tangga yang telah mulai membangun tungku hemat energi. Dengan tungku ini, kayu bakar lebih awet dan dapur tidak lagi penuh asap. Ibu-ibu tersenyum karena masakan cepat matang tanpa membuat mata pedih. Sewaktu masih memakai tungku tradisional, mereka bisa menghabiskan kayu bakar 15–20 batang per hari, namun sekarang hanya membutuhkan 4–6 batang per hari. Sampah pun mulai dipilah oleh 20 rumah tangga anggota ProKlim. Botol dan plastik dikumpulkan untuk dijual atau digunakan sebagai pot tanaman hias dan sayuran, sedangkan sisa makanan dijadikan pupuk di kebun. Halaman rumah menjadi lebih rapi, anak-anak bisa bermain tanpa takut menginjak pecahan kaca atau plastik tajam. Lahan-lahan mulai ditata ulang. Ada tanah untuk jagung, ubi, dan sayur; ada lahan khusus untuk pohon pelindung; dan ada padang rumput untuk pakan ternak. Meski pada awal intervensi dan pendampingan oleh lembaga SID dengan dukungan World Neighbors yang bekerja sama dengan KLHK RI telah diperkenalkan istilah agrosilvopastoral, warga menganggapnya sulit, baik untuk diucapkan maupun dilaksanakan. Namun lain halnya dengan Bapak Missa. Sambil tertawa ia berkata, “Artinya gampang, tani, hutan, dan ternak bisa hidup rukun dalam satu kesatuan kebun.” Kemudian Bapak Missa bersama kelompok membuat demplot kebun model agrosilvopastoral agar bisa dijadikan contoh bagi anggota kelompok. Hingga saat ini, ada sekitar lima petani yang telah mengadopsi pengelolaan kebun dengan model agrosilvopastoral seluas 1 hektare. Berbagai jenis tanaman ditanam di kebun, yaitu tanaman pangan (jagung, ubi kayu), tanaman umur panjang (jati putih, mahoni), dan pakan ternak (lamtoro, rumput hijau) untuk menyediakan pakan ternak kuda, kerbau, dan kambing. Perubahan mulai terlihat. Pohon-pohon muda tumbuh tegak, padang menghijau, air hujan meresap ke tanah, dan hewan ternak gemuk karena pakan cukup. Orang kampung mulai percaya, menjaga alam itu bukan hanya pekerjaan, tetapi cara hidup. Pemerintah desa yang melihat keberhasilan ini kemudian membuat Peraturan Desa tentang Tata Guna Lahan. Aturan itu melarang pembakaran sembarangan, mengatur zona tanam, dan melindungi hutan kecil yang masih tersisa. Tidak hanya berhenti pada aturan, pemerintah desa juga mengalokasikan dana untuk mendukung kegiatan ProKlim sebesar Rp 1.500.000 pada periode tahun 2023 sampai tahun 2025. Anggaran dana desa itu direalisasikan untuk pembibitan pohon, perbaikan tungku hemat energi, dan pelatihan tentang pembuatan pupuk kompos serta pupuk cair organik agar warga terus mengembangkan kebiasaan baik ini. Tahun 2025, Kementerian Lingkungan Hidup melakukan penilaian pengembangan Kampung Iklim. Mereka menyediakan sejumlah pertanyaan melalui formulir penilaian ProKlim, di mana kelompok bersama SID dengan dukungan dari DLH menginput data capaian dan manfaat terkait adaptasi, mitigasi, dan kelembagaan berkelanjutan sesuai dengan kondisi dusun dan desa. Ketika hasilnya keluar, seluruh desa bersorak: Kambuhapang resmi masuk nominasi kategori Kampung Iklim Utama, sebuah pengakuan nasional untuk kerja keras bersama. Di balik keberhasilan tersebut, ada satu lagi ProKlim dari Desa Ndapayami yang juga masuk nominasi kategori ProKlim Utama. Keberhasilan ini berkat peran seorang penggerak yang biasa dipanggil Bapak Wunu Hiwal. Capaian kegiatan yang cukup menonjol dari ProKlim ini antara lain konservasi kawasan mata air. Selain pencapaian nominasi Level Utama oleh dua kelompok ProKlim, masih ada tiga kelompok ProKlim yang sedang berjuang menuju Level Utama (saat ini berada di Level Madya), di antaranya ProKlim Kahaungu Eti Desa Matawai Pawali, ProKlim Tundung Mahamu Desa Tandula Jangga, dan ProKlim Kaheri Wangga Desa Praipaha. Hal ini bukan tanpa sebab, dan bukan pula karena kurangnya semangat masyarakat, tetapi lebih kepada

Keberhasilan ProKlim Kambuhapang Meraih Nominasi Utama Read More »

“Subur Bio Sluri” Perubahan Luar Biasa dari Tangan Seorang Petani Biasa

Oleh : Ferdinan Umbu Bala Landumata (SID, Sumba Timur, NTT) Di desa kecil Kambuhapang, Kabupaten Sumba Timur, seorang petani biasa bernama Bernadus Missa membuktikan bahwa kreativitas, ketekunan, dan kepedulian terhadap lingkungan bisa mengubah hidup dan komunitasnya. Berawal dari keprihatinan atas tanah yang menurun kesuburannya, ia menciptakan pupuk organik cair sederhana bernama Subur Bio Sluri, yang bukan hanya meningkatkan kesuburan tanah dan hasil panen, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, memberdayakan perempuan, dan menyebarkan praktik pertanian ramah lingkungan ke desa-desa sekitar. Inisiatif bisnis ini berkembang berkat pendampingan intensif dari Sumba Integrated Development (SID) yang didukung World Neighbors (WN), yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI). Kisah ini menunjukkan bagaimana inovasi lokal, didukung pendampingan strategis, mampu menghadirkan perubahan nyata bagi petani dan masyarakat di sekitarnya. Musim hujan yang tak menentu dan kesuburan tanah yang sudah sangat berkurang membuat banyak petani di Desa Kambuhapang mengalami gagal panen. Tanaman menjadi mudah layu, terserang hama, dan kesuburan tanah menurun drastis. Seperti petani lainnya, Bapak Missa mengalami keresahan yang sama. Tapi, alih-alih menyerah, ia bertanya dalam  hatinya, “Apakah saya bisa melakukan sesuatu untuk mengubah ini?” Melihat limbah dapur, kotoran hewan, dan tanaman liar di sekelilingnya yang tak termanfaatkan, muncullah ide mengolah bahan-bahan alami menjadi pupuk organik cair (POC). Dengan alat sederhana seperti tong bekas sebagai wadah dan tempat fermentasi, lahirlah racikan pertamanya. Usaha yang dilandasi oleh hobi dan kepedulian terhadap alam, khususnya pembuatan POC ini, sebenarnya sudah mulai dirintis sejak tahun 2018. Pada tahap awal, ramuan POC dibuat secara mandiri oleh Bapak Missa dengan bahan-bahan lokal yang mudah didapat seperti bumbu-bumbu dapur, urin ternak, dan fermentasi menggunakan mikroorganisme lokal (MOL) yang juga dibuat sendiri. Fokus awalnya adalah menciptakan pupuk yang ramah lingkungan dan murah sebagai alternatif pengganti pupuk kimia. Bapak Missa menamai produknya “Subur Bio Sluri”, ramuan sederhana dari bumbu dapur, kotoran ternak, air cucian beras, sisa sayuran, dan mikroorganisme lokal. Pupuk ini membantu mempertahankan kesuburan dan kelembaban tanah serta memperkuat ketahanan tanaman dari serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang muncul akibat perubahan iklim. Produk ini ia kemas dengan botol bekas air mineral dan jerigen minyak goreng. Harga dibuat terjangkau oleh petani, yaitu Rp10.000 untuk 1 liter dan Rp50.000 untuk 5 liter. Melihat hasil yang baik, banyak petani di sekitarnya tertarik mencoba menggunakannya. Sayangnya, usaha ini hanya berjalan terbatas karena tidak ada modal untuk produksi dalam skala lebih besar. Sumba Integrated Development (SID), yang mendapat dukungan WN dan bekerja sama dengan KLHK RI, hadir dan mendampingi ibu-ibu untuk membentuk Kelompok Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP), hal itu disambut baik oleh Rut Tamu Ina, istri Pak Missa. Kelompok UBSP yang dibentuk pada tanggal 21 September 2023 tersebut diberi nama Watu Otur, beranggotakan 9 orang yang semuanya perempuan, dan hingga saat ini memiliki simpanan sebanyak Rp2.924.000. Ibu Rut Tamu Ina adalah salah satu anggota aktif UBSP yang rajin menabung dan aktif dalam kegiatan UBSP. Melihat keterbatasan modal sang suami, maka Ibu Rut Tamu Ina mengajukan pinjaman UBSP sebesar Rp1.500.000 atas namanya sendiri untuk mendukung pengembangan usaha pupuk cair suaminya. Dengan tambahan modal ini, Bapak Missa bisa mengembangkan usahanya sehingga secara kuantitas produksi meningkat dari 30 liter/bulan menjadi 300 liter/bulan; produksi pupuknya diberi merek dengan nama “Subur Bio Sluri”; pemasaran pupuknya sampai ke luar desa; produk dijual dengan harga Rp10.000 per kemasan 1 liter dan Rp50.000 per kemasan 5 liter; omzet mencapai Rp4.000.000–5.000.000 per bulan dengan keuntungan rata-rata Rp1.500.000–2.000.000 per bulan.    Sejak awal pendampingan oleh Sumba Integrated Development (SID), mitra World Neighbors di Sumba Timur ini sudah melihat potensi besar dalam langkah Bapak Missa. Ia diikutsertakan dalam pelatihan pembuatan pupuk cair dan pestisida nabati berbasis limbah organik lokal. Dari sinilah ilmunya semakin dalam, jejaringnya makin luas, dan semangatnya kian besar. Tidak hanya dalam hal produksi, Bapak Missa juga dilibatkan untuk mengedukasi sesama petani. Dengan caranya sendiri, ia mengetuk pintu rumah tetangga, mendatangi kelompok tani, dan memperkenalkan “Subur Bio Sluri” yang kini menyebar di kalangan petani di wilayah Sumba Timur. Para petani mulai merasakan manfaatnya: tanaman lebih kuat menghadapi kekeringan dan serangan hama. Selain itu, dengan diwajibkannya penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati dalam penerapan pertanian konservasi, pengembangan tanaman pangan lokal, dan budidaya sayuran, penggunaan pupuk organik cair dan pestisida nabati semakin banyak diminati. Kini, lebih dari 50 petani di desanya menggunakan pupuk racikannya, bahkan permintaan datang dari desa dan kabupaten tetangga seperti Sumba Tengah dan Sumba Barat. Produksinya kini mencapai 300 liter per bulan dan berpotensi terus meningkat. Bersama SID, Bapak Missa menggelar demonstrasi cara pembuatan dan penggunaan POC di kelompok tani sekitarnya. SID juga memfasilitasi Bapak Missa dalam pemasaran produk POC-nya, baik secara luring maupun daring melalui WhatsApp dan Facebook (akun Facebook: Bernadus Missa, kontak person 082147430194). Hal inilah yang mengangkatnya sebagai duta lokal inovasi pertanian adaptif, sebuah pengakuan atas dedikasi dan pengaruh positif yang telah ia tebarkan. Beliau sering diajak SID untuk memfasilitasi pelatihan pertanian ramah lingkungan di desa-desa lainnya. Ia membagikan pengetahuannya tentang pembuatan pupuk dan pestisida kepada para petani dan mengajak mereka bertani dengan prinsip pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan. Peran SID bukan hanya sebagai fasilitator teknis, tetapi juga sebagai pendamping strategis dalam transformasi usaha kecil. Melalui pendekatan holistik dari pelatihan, legalitas, hingga pemasaran, SID membantu mewujudkan bisnis lokal yang berdampak besar dan berkelanjutan. Dengan adanya intervensi dari program SID atas dukungan WN yang bekerja sama dengan KLHK RI, terjadi sejumlah kemajuan penting dalam usaha Bio Sluri Bapak Missa. Dalam pendampingan, SID juga memperkenalkan beberapa bahan baru yang memperkaya komposisi POC, seperti ekstrak beberapa jenis tanaman untuk pestisida nabati (pesnab) yang berfungsi sebagai pengendali hama dan penyakit tanaman. Selain itu, proses fermentasi juga diperbaiki agar menghasilkan POC yang lebih berkualitas dan tahan lama. Dengan demikian, POC yang awalnya hanya berfungsi sebagai pupuk, sekarang menjadi produk multiguna yang semakin efektif dan efisien digunakan oleh para petani. Dengan keberhasilan tersebut, Bapak Missa mengungkapkan kebanggaannya: “Saya tidak pernah menyangka bahwa usaha kecil seperti ini bisa tumbuh sejauh ini. Bukan cuma soal bisnis, tapi juga soal kepercayaan diri dan dampak bagi lingkungan. Sekarang saya merasa lebih percaya diri menyampaikan manfaat pertanian organik kepada masyarakat luas. Ini semua juga bisa terjadi karena pendampingan program

“Subur Bio Sluri” Perubahan Luar Biasa dari Tangan Seorang Petani Biasa Read More »

“Saat Krisis Pangan Menghampiri, Budidaya Pangan Lokal Menjadi Pilihan Utama”

Di Desa Ndapayami, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, hiduplah seorang petani bernama Wunu Hiwal Bersama keluarganya. Meski telah pensiun dari jabatannya sebagai sekretaris Desa Ndapayami pada akhir tahun 2022 yang lalu, Wunu masih aktif mengembangkan lahan pertaniannya yang menjadi salah satu lokasi percontohan praktek tanaman Pangan Lokal. Desa Ndapayami juga merupakan salah satu desa dampingan dari Sumba Integrated Development (SID) yang telah melakukan kajian risiko bencana secara partisipatif. Dari hasil kajian tersebut diketahui bahwa terdapat bencana hama belalang yang terus menyerang tanaman jagung dan padi milik petani di sana. Serangan hama belalang ini melanda sebagian besar desa-desa di Sumba Timur, termasuk lima desa dampingan SID dalam program INCIDENT. Bapak Wunu Hiwal adalah salah satu petani di desa Ndapayami yang kebunnya selalu diserang belalang dalam dua tahun terakhir ini, sehingga ia selalu gagal panen. Walaupun demikian Wunu tidak berputus asa. Ia telah mengikuti pelatihan Budidaya Tanaman Pangan Lokal termasuk Pestisida Nabati dan menanam tanaman pangan yang lebih tahan terhadap serangan belalang seperti ubi kayu, petatas dan keladi. “Dengan adanya program pelatihan dan praktek tanam pangan lokal ini mengingatkan Kembali lagi pada petani, bahwa perlu sekali kita tanam Kembali ini ubi kayu, petatas, keladi, littang, luwa, dan ganyong, apalagi hama belalang serang kita punya jagung sampai habis”. Ungkapnya dengan raut wajah sedih. Pada saat yang sama, ketika Wunu mencoba menanam tanaman pangan lokal lainnya seperti jagung pulut dan stek ubi, sebagian mati kering akibat curah hujan yang rendah, dan jagung pulut habis dimakan belalang. Meski demikian, Wunu tidak menyerah dan terus mengikuti petunjuk teknis yang diajarkan dalam pelatihan yang diberikan oleh SID, termasuk melakukan penyulaman dan pemilihan bibit yang baik. Setelah diguyur hujan yang stabil, tanaman pangan lokal di kebunnya tumbuh dengan subur dan sehat. Wunu Hiwal mulai menanam pangan lokal di lahannya sejak bulan Desember 2022 dengan luas lahan awal empat are, namun, sekarang sudah dikembangkan menjadi tujuh sampai delapan are. Sampai saat ini, pertumbuhan tanaman sangat baik karena selain curah hujan yang cukup, Wunu juga merawat tanamannya dengan baik, misalnya tanahnya digemburkan, pohon singkong dan keladi ditimbun dengan tanah, dan dibersihkan dari gulma. Walaupun, masyarakat di desanya saat ini sedang menghadapi masa sulit karena serangan hama belalang yang semakin merajalela, kenaikan harga bahan pokok dan kelangkaan beras di tahun resesi 2023, Wunu tetap memiliki harapan dan tekad untuk melewati tahun sulit ini dengan tanaman pangan lokal yang ia tanam di kebunnya. Ia bahkan berniat untuk terus memperluas lahan kebun pangan lokalnya dengan menanam tanaman lain seperti kacang hijau, kacang nasi, dan ubi-ubian lagi. “Makan ubi-ubian, nasi jagung, itu lebih bikin kenyang dibanding makin nasi beras. Selain itu, pangan lokal ini kan punya nilai gizi yang lebih bagus. Saya harap, Lembaga SID dapat melakukan pendampingan dan pelatihan lebih baik tentang pangan lokal di lebih banyak lagi masyarakat karena Desa Ndapayami ini punya potensi besar.” Tutur Wunu Hiwal. Sementara itu, menurut mama Damaris, istri dari Wunu Hiwal, pangan lokal seperti ubi-ubian sangat baik untuk anak-anak, bayi dan balita, karena kandungan nutrisinya dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Ubi-ubian selalu disiapkan sebagai makanan untuk bayi, balita dan anak-anak saat Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada kegiatan posyandu. Selain itu, ubi kayu dan keladi bisa dijadikan sebagai alternatif makanan saat jagung terserang hama belalang. Kisah petani Wunu Hiwal adalah contoh inspiratif tentang bagaimana seseorang dapat bertahan dan beradaptasi di tengah masa sulit. Dengan tekad dan kemauan untuk belajar, Wunu berhasil menanam tanaman pangan lokal yang lebih tahan terhadap serangan hama dan menghindarkan tanamannya dari hama dengan Pestisida Nabati yang telah dibuat. Semoga kisah Wunu Hiwal dapat menjadi motivasi bagi kita semua untuk tidak menyerah dan terus berjuang dalam menghadapi masa sulit. TENTANG PROGRAM INI Budidaya pangan lokal merupakan bagian dari program INCIDENT yang dikembangkan oleh World Neighbors, didanai oleh BHA/USAID dan diimplementasikan oleh SID. Program ini dilaksanakan di lima desa di Kabupaten Sumba Timur dengan luas lahan yang sudah dikembangkan mencapai 30 are di lahan percontohan di lima desa program. Para petani dampingan program INCIDENT memiliki minat yang tinggi untuk mengembangkan tanaman pangan lokal namun saat ini petani di lima desa tersebut menghadapi tantangan seperti keterbatasan bibit singkong, bibit keladi dan ubi jalar yang berkualitas. Untuk mengatasi hal tersebut, program terus berupaya untuk menyediakan bibit pangan lokal yang berkualitas. Tantangan lainnya adalah kondisi tanah yang becek akibat lewatnya musim tanam sehingga bibit tanaman bisa busuk dan sulit tumbuh. Namun petani tetap dimotivasi untuk menyediakan lahan dan menanam bibit stek singkong untuk ketersediaan bibit pada tahun-tahun mendatang. Hal ini dirasakan penting oleh para petani karena tanaman singkong dan ubi-ubian memiliki banyak manfaat diantaranya, daunnya bisa dikonsumsi sebagai sayur-sayuran yang bergizi.

“Saat Krisis Pangan Menghampiri, Budidaya Pangan Lokal Menjadi Pilihan Utama” Read More »

RKAS Membangun Kepercayaan Diri Raflesito

Di desa Makamenggit, kecamatan Nggaha Ori Angu Kabupaten Sumba Timur terdapat seorang Duta anak bernama Raflesito Karada Hawula yang kesehariannnya biasa disapa dengan sebutan Ito. Saat ini ia telah berusia 15 tahun dan duduk di kelas 1 SMA N 1 Nggaha Ori Angu. Ia sangat  aktif dalam organisasi anak seperti anggota Forum Orang Muda, pendamping  kelompok RKAS, dan juga Anggota pengurus Forum Anak Kabupaten. Sebelum berghabung dengan FOM atau RKAS, Ito merupakan anak yang pemalu dan kurang berani tampil di depan teman-temannya. Hal ini disebabkan karena di desanya belum ada Forum orang muda serta RKAS yang menjadi wadah pengembangan bakat dan minat anak. Ia mulai bergabung dengan RKAS sejak tahun 2018 dan kemudian bergabung dengan FOM sejak awal tahun 2022. Melalui wadah tersebut ito mulai mengembangkan kemampuan personalnya termasuk membangun kepercayaan diri sebagai pemimpin muda dan fasilitator sebaya. Kesempatan yang ia peroleh melalui kegiatan RKAS dan FOM telah menempanya menjadi remaja yang aktif dan kreatif, termasuk memiliki inisiatif yang baik untuk memimpin dalam setiap kesempatan yang ada. Berkat kepercayaan diri dan keberaniannnya kemudian membawanya terpilih menjadi salah satu pengurus Forum anak di tingkat Kabupaten pada seksi pendidikan dan pelaporan. Menurut Ito, ia sangat menikmati kegiatannnya bersama teman-temannnya baik di RKAS maupun di Forum Anak kabupaten. Banyak pengalaman dan pengetahuan baru tentang kehidupan anak-anak yang ia peroleh selama bergabung dalam wadah tersebut. Di RKAS, ia banyak belajar tentang kecakapan hidup dan literasi keuangan yang diadaptasi dari program Aflatoun internasional, termasuk memimpin teman-temannnya. Demikian juga melalui forum anak kabupaten ia dapat berbagi tentang kegiatan kegiatan anak, isu anak di Sumba Timur serta membangun kepercayaan diri. “Saya senang bergabung dengan RKAS dan Forum anak Kabupaten, karena selain mendapatkan banyak teman, saya juga bisa belajar banyak hal tentang ketrampilan hidup, isu anak, program anak, dan lain-lainnya.” Demikian tuturnya sambil tersenyum. Pada perayaan HAN 2022, ia terpilih menjadi 1 dari 5 anak yang diberikan kesempatan untuk menyampaikan suara hatinya mewakili anak-anak di Sumba Timur. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Ito untuk mengungkapkan keprihatinannya tentang konten kekerasan dan pornografi yang banyak dijumpai di media sosial. Kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang hadir saat perayaan HAN tersebut, Ito menyampaikan kerisauannya sekaligus menanyakan apa upaya pemerintah untuk melindungi anak-anak dari ancaman tersebut. Ito mengatakan bahwa ia sangat bangga bisa mewakili teman-temannnya berdialog langsung dengan ibu Bintang Puspayoga yang didampingi oleh Bupati dan pejabat Pemerintah Sumba Timur Lainnnya. Menurutnya ini merupakan kesempatan luar biasa bagi anak desa seperti dirinya dapat berdiri di depan para pejabat pemerintahan Daerah dan Nasional. Pengalaman ini membuatnya semakin percaya diri serta termotifasi untuk berbuat lebih banyak lagi demi membantu anak- anak di Sumba Timur mendapatkan hak mereka secara utuh dan terlindungi. Ia mengucapkan terima Kasih kepada SID dan ChildFund yang telah memfasilitasi anak-anak di desanya melalui kegiatan RKAS dan FOM sehingga melalui wadah tersebut mereka memiliki ruang untuk berpartisipasi dan mengembangkan potensi diri.

RKAS Membangun Kepercayaan Diri Raflesito Read More »

Virginia dan Ruang Partisipasi Anak

“Saya Virginia Jevantriest Rona, saat ini saya berumur 14 tahun dan  duduk dikelas 9 SMP, di salah satu SMP Negeri Umalulu. Papa dan Mama saya adalah petani yang kesehariannya bekerja di kebun sawah. saya mengenal SID sejak saya duduk dikelas 5 SD, pada waktu itu saya diajak oleh teman–teman saya untuk mengikuti kegiatan Rumah Kreatif Anak Sabana.  waktu pertama kali saya ikut saya agak malu–malu  karena teman–teman semua pada berani dan semua mereka bisa menyampaikan pendapat mereka. Lalu banyak permainan yang diperkenalkan kepada saya dan teman – teman saya. Selesai kegiatan sore itu, saya merasa Bahagia dan senang sekali dengan kegiatan yang menarik dan ditambah fasilitator yang pintar dan bersemangat. rasa penasaran untuk ikut kegiatan lagi kuat sekali”. Virginia membuka ceritanya dengan memperkenalkan diri serta menyampaikan awal mula ia tertarik dengan kegiatan rumah kreatif anak sabana (RKAS). Menurut Virginia, ia belajar mengenal hak-haknya sebagai anak melalui program yang namanya Pendidikan Kecakapan Hidup & Literasi Keuangan (PKHLK) atau juga dikenal dengan program Aflatoun. Program ini dikembangkan oleh SID dan ChildFund Internasional di Indonesia melalui kegiatan Rumah Kreatif Anak Sabana (RKAS). Melalui RKAS ini anak-anak dibimbing oleh fasilitatir terlatih menggunakan modul PKHLK yang berisi tentang pengetahuan untuk meningkatkan kepercayaan diri anak, perilaku hidup bersih dan sehat, kemampuan memimpin, mengenal potensi diri, hak-hak anak, pengelolaan keuangan, hingga dasar-dasar kebencanaan. Anak-anak juga dibimbing untuk memahami tehnik membaca dan berhitung dengan cara yang menyenangkan dan mudah. “Saya senang dengan wadah Rumah Kreatif Anak Sabana, yang merupakan kesempatan terbaik saya dapat menggali potensi dan kemampuan diri saya, saya cukup aktif mengikuti kegiatan Rumah Kreatif Anak Sabana dan belajar menyuarakan pendapat saya. Saya juga pernah menjadi pemimpin  dan juga dapat mewakili teman–teman saya dalam mengikuti Musyawarah desa, kami dapat menyampaikan beberapa kebutuhan–kebutuhan kami yang terkait dengan keberlangsungan pendidikan kami.” Demikian penuturan Virginia tentang manfaat dari wadah kegiatan anak yang ada di desanya. Virginia termasuk anak yang aktif dalam mengikuti kegiatan di RKAS, ia pun menjadi salah satu fasilitator sebaya. Ia juga mampu menyampaikan inspirasi dan pendapatnya mewakili anak-anak di desa pada kegiatan musyawarah rencana pembangunan desa (Musrenbangdes). Menurut Virginia, pengalaman yang paling membanggakan adalah ketika ia bisa menulis surat yang ditujukan kepada Presiden Jokowi yang diserahkan kepada bapak Jenderal Purnawirawan H. Muldoko. Dalam suratnya, ia menulis tentang kegiatan Rumah Kreatif Anak Sabana, bebrapa kebutuhan perlengkapan berupa alat–alat tulis dan buku–buku bacaan. Ia juga pernah mewakili kawan–kawan Rumah Kreatif Anak Sabana untuk menyampaikan pandangannya tentang situasi Pendidikan di masa Pendemi Kegiatan ini dikuti oleh 20 anak se NTT, dengan menghadirkan narasumber pimpinan DPRD Propinsi NTT. “Saya sangat senang sekali Ketika orang dewasa dapat mendengarkan hak–hak kami dan ketika kami diberi ruang dalam menyuarakan hak kami. Saya juga mendapat kesempatan menyampaikan hak–hak saya, yakni hak pendidikan di masa pandemik. Hal inilah membuat saya sangat bangga dan bahagia.” Tutur Virginia. Virginia  berharap Pemerintah Desa terus memperhatikan  keberlanjutan dari program SID yang sudah dapat berjalan cukup baik, khususnnya agar kegiatan anak semakin diperhatikan dan fasilitasi sebagai salah satu aset desa untuk mempersiapkan generasi muda yang bermutu. “Saya merasa program PKHLK atau Aflatoun ini sangat berdampak bagi kami anak–anak Sumba di desa Patawang, yang dimulai dari Pendidikan kami, belajar kebersihan, mendukung hak – hak kami sebagai anak. Saya berharap Pemerintah desa akan terus mendukung kami.” Di akhir dari ceriteranya, Virginia menyampaikan ucapan terimakasih kepada ChildFund dan SID untuk karya-karya yang telah membawa perubahan di desa Patawang. Kehadiran SID dan ChildFund telah membawa perubahan dalam mewujudkan hak–hak anak.

Virginia dan Ruang Partisipasi Anak Read More »

Pengasuhan Responsif, Tepat Sekali

Materi yang sangat-sangat sederhana, dan orang tua mudah pahami itu”. penggalan kalimat ini dengan yakin diucapkan oleh ibu Yana. Pemilik nama lengkap Apriyana Pandarangga, S.Pd. AUD tersebut adalah seorang Asesor Badan Akreditasi Nasional (BAN) yang sudah lama malang melintang dalam dunia pendidikan anak Usia Dini di Kabupaten Sumba Timur. Ia pernah menjadi kepala TK Negeri Pembina Waingapu, Ketua IGTKI, Pengawas TK dan hingga kini aktif menjalankan tugasnya sebagai Asesor BAN. Tugas utamanya adalah mengakreditasi penyelenggaraan PAUD di Kabupaten Sumba Timur dan kabupaten lainnya di NTT, sekaligus memberikan dukungan teknis untuk peningkatan kualitas PAUD yang berada dalam wilayah kerjanya. Ibu Yana telah lama mengenal dan bekerjasama dengan SID terkait program pengembangan PAUD di desa-desa dampingan SID. Ia juga merupakan fasilitator yang sering membantu para guru PAUD dampingan SID dalam pelatihan-pelatihan yang diadakan. Sebagai seorang pegiat PAUD, ibu Yana sudah beberapa kali terlibat dalam pelatihan untuk fasilitator yang diselenggarakan oleh SID dan ChildFund. Dari semua pelatihan yang sudah pernah ia ikuti, menurutnya modul pengasuhan responsif lah yang paling bermanfaat saat ini. dengan adanya situasi pandemi covid-19 tantangan terbesarnya adalah bagaimana membantu orang tua agar bisa membimbing anak-anak mereka di rumah. Modul pengasuhan positif ini menurutnya sangat tepat sekali untuk digunakan, karena sederhana dan mudah dipahami oleh orang tua. “ya itu pengasuhan responsif itu, betul-betul bagus sekali.” Katanya sambil tertawa lebar. Ia kemudian melanjutkan “Modul ini bisa sangat bermanfaat bagi guru-guru PAUD dalam memfasilitasi orang tua agar mampu membimbing anak mereka di rumah.” Sebagai fasilitator terlatih, ibu Yana dan teman-temannya telah berbagi pengetahuan terkait modul pengasuhan responsif yang telah mereka pelajari kepada hampir seluruh PAUD, baik TK maupun kelompok bermain yang ada di Sumba Timur. Biaya pelaksanaan pelatihan terapan tersebut menurutnya dialokasikan dari anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kalau dihitung dari tahun 2018 hingga sekarang, guru-guru PAUD yang telah mereka latih jumlahnya sekitar 200 orang. “Jujur kita katakan bahwa mereka berjalan apa adanya saja” Menurut ibu Yana, awalnya hampir seluruh PAUD berjalan apa adanya saja, tanpa pengetahuan dan ketrampilan yang memadai tentang pengembangan anak usia dini. Pengetahuan yang telah dimiliki dan sering didiskusikan hanya seputar perubahan kurikulum termasuk kurikulum 2013. Sambil tersenyum ibu Yana berkata, “Dengan adanya materi-materi yang kami dapat dan bagikan dari kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh SID telah menambah wawasan guru-guru PAUD. Sedianya apa yang harus mereka lakukan, peran mereka sebagai pendidik PAUD. Salah satunya adalah modul pengasuhan responsif itu.” Ia berharap para guru PAUD yang telah mendapatkan pelatihan tentang pengasuhan responsif benar-benar menerapkan ilmu yang sudah diperoleh di PAUD masing-masing. Sehingga para orang tua mampu untuk mendampingi anak-anak mereka secara optimal dalam proses BDR.  

Pengasuhan Responsif, Tepat Sekali Read More »

Delsi dan Mimpinya Bersama Karang Taruna Desa Homba Karipit

SID memfasilitasi anak muda di desa untuk melakukan advocasi pembentukan forum orang muda atau karang taruna di 9 desa dampingan antara lain desa Mali iha, Hohawungo, Hombakaripit, Wailabubur di kabupaten Sumba Barat Daya, desa Praipaha, Praihamboli, Tanatuku, Makaminggit dan Praikarang di kabupaten Sumba Timur. Antusias anak muda dari desa-desa tersebut sangat besar sehingga pembentukan karang taruna berjalan lancar dan didukung oleh seluruh pemerintah desa. Kesadaran akan pentingnya organisasi orang muda sebagai penyalur aspirasi dan wadah partisipasi orang muda mulai tumbuh dalam diri anak -anak muda dampingan SID. Delsiana Holo salah satu duta anak SID yang menjadi pengurus Karang Taruna  Desa Homba Karipit merasakan manfaat dan perubahan signifikan setelah bergabung dan mengikuti berapa kegiatan pengembangan kapasitas yang dilakukan oleh SID bagi anak muda yang ada di desanya. Sambil sesekali mengerutkan dahi untuk mengingat-ingat kegiatan yang pernah diikutinya, kemudian ia menceritakan, “Beberapa waktu terakhir ini saya banyak kali mengikuti beberapa pertemuan dalam rangka pembentukan organisasi karang taruna di desa yang di fasilitasi oleh Staf SID, awalnya menurut saya organisasi tersebut tidak penting bagi saya, namun setelah saya diajak di beberapa sesi pertemuan maka saya baru sadar bahwa organisasi tersebut sangat penting bagi para pemuda di desa termaksud saya. Karena dengan adanya organisasi karang taruna, para pemuda bisa mengeksplorasi seluruh potensi yang ada pada diri pemuda termasuk bagaimana pemuda bisa terlibat dalam proses pembangunan desa. Setelah saya mengikuti beberapa pertemuan, saya juga di libatkan dalam kepengurusan karang taruna desa Hombakaripit sebagai wakil ketua. Saya dan pengurus karang taruna lainya di bekali dengan pengetahuan tentang organisasi dan hal itu sangat bagus.” SID membekali para pengurus karang taruna dengan kegiatan pengembangan kapasitas pengelolaan organisasi diantaranya pelatihan menejemen organisasi, penyusunan rencana kerja organisasi dan pelatihan life skill lainnya untuk meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan diri para pengurus dalam mengembangkan kegiatan mereka serta mampu berpartisipasi dalam proses perencanaan penganggaran desa. “Saya bersyukur sekali bisa berkesempatan untuk mengikuti pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen organisas serta penyusunan rencana kerja Karang Taruna. Saya sangat  bangga pada SID/ChildFund yang memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan, karena dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut saya mengalami banyak perubahan, seperti bisa membangun relasi dengan orang-orang baru, saya bisa berbicara di depan teman-teman, saya bisa mengembangkan idea tau kreatifitas yang ada dalam diri saya dan juga bisa saling menerima pendapat teman-teman.” Tuturnya sambil tersenyum sumringah. Sebagai pengurus Karang Taruna Delsi sangat aktif mengikuti berbagai kegiatan, dia sangat cakap dalam menyampaikan pendapat, ide-ide, dan hal-hal menarik lainnnya dengan penuh percaya diri. Saat ini Desi dan pengurus karang taruna lainnya merancang serta mempersiapakan beberapa kegiatan program kerja karang taruna, salah satunya adalah mengembangkan usaha produktif karang taruna di bidang warung makan yang akan dibuka di desa mereka. Wirausaha sosial  tersebut akan mereka kembangkan untuk mendukung kegiatan karang taruna.

Delsi dan Mimpinya Bersama Karang Taruna Desa Homba Karipit Read More »

Dhevi, Semangat Anak Muda Untuk Membangun Desa

Delviana Kapu Endah adalah salah satu duta anak Dampingan SID dari desa Makamenggit, kecamatan Nggaha Ori Angu, Kabupaten Sumba Timur. Remaja putri berusia 18 ini akrab disapa “Dhevi”, saat ini menjabat sebagai bendahara karang taruna desa Makamenggit,  sekaligus fasilitator pendamping kegiatan orang muda di desanya. Ketrampilan dan kepercayaan dirinya terasah setelah beberapa kali mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh SID, antara lain pelatihan kesiapan kerja, wirausaha, advokasi perencanaan dan penganggaran desa, kepemimpinan dan lain-lain. Dalam berapa kesempatan tampil di depan forum diskusi publik, Devi terlihat sangat percaya diri dan bersemangat menyampaikan pandangannya terkait perlindungan anak, partisipasi orang muda dan isu lainnya yang berhubungan dengan hak-hak anak. Ia juga merupakan salah satu anak muda penggerak di desanya yang  memiliki keinginan kuat untuk mendorong  keberpihakan pembangunan desa pada anak dan orang muda. Untuk perencanaan dan penganggaran desa tahun 2022, Devi dan teman-temannya mengusulkan dua program mereka kepada pemerintah desa Makamenggit yaitu pertanian holtikultura dan penguatan kapasitas orang muda untuk mencegah kekerasan pada anak dan perempuan. Dua program tersebut saat ini sudah dibahas hingga tahap musrenbang desa. “Saya sendiri yang mewakili karang taruna mengikuti kegiatan musrenbangdes. Kami usulkan dua program, pertanian holtikultura dan sosialisasi tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak bagi anak muda.” Demikian kata Devi. Besar harapan mereka melalui program ini nantinya mereka dapat memanfaatkan potensi anak muda di desanya untuk mengembangkan wirausaha pertanian serta membantu Kelompok perlindungan Anak yang ada di desanya untuk menciptakan desa yang ramah terhadap anak dan perempuan. Untuk memberikan contoh kepada teman-temannya, menurut Devi saat ini ia sedang mempersiapkan diri membuka usaha  dibidang kulinary. Pengetahuan yang telah ia dapatkan melalui pelatihan wirausaha yang sudah dua kali ia ikuti akan ia praktikkan dalam menjalankan bisnis rumahan tersbut. Dengan senyum khasnya Devi menceritakan bahwa ia dan teman-teman karang taruna sedang melakukan proses persiapan pembukaan satu unit usaha pangkas rambut milik karang taruna yang didukung oleh SID, mitra ChildFund di Indonesia.

Dhevi, Semangat Anak Muda Untuk Membangun Desa Read More »

Berbagi Peran dalam Mengasuh anak

Eni Ipa Hoy adalah seorang ibu muda yang baru berusia 23 tahun merupakan orang tua yang memiliki dua orang anak usia dini yaitu Jelen Tamu Ina, perempuan berusia  4 tahun  dan Eltin Hada Indah juga anak perempuan berusia  dua tahun. Saat ini, Jelen sedang mengikuti kegiatan pendidikan anak usia dini di lembaga PAUD Karunggu,  Desa Pahomba, kecamatan Nggaha Oriangu. Dalam usia yang sangat muda, Rambu Eni demikian ia biasa disapa menuturkan bahwa memiliki dua orang balita cukup merepotkannya.  Setiap hari ia harus mengurus kedua anaknya tanpa ada yang membantunya dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.  Namun demikian walau disibukan dengan urusan rumah tangga, ia tetap meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan pengasuhan responsif dan Kelompok bermain keluarga yang di selenggarakan di Lembaga PAUD. Menurutnya pengetahuan tentang pengasuhan sangat bermanfaat baginya untuk mengasuh anaknya dengan benar dan tepat.  Semuanya dapat ia lakukan dengan sabar dan penuh kasih sayang.  Ia pun secara perlahan mulai mencoba mengajak suaminya agar mau berbagi peran dalam mengurus rumah tangganya terutama dalam mengasuh kedua anaknya yang masih kecil.  Awalnya suaminya merasa keberatan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan mencuci. Namun setelah ia mengikuti sesi pengasuhan terutama dalam sesi pernikahan dan pembagian  peran orangtua  dalam keluarga, memampukannya mempengaruhi suaminya sehingga saat ini pola pikir suaminya berubah. Suaminya sudah ikut mengurusi anak-anak apabila dia ke kebun, termasuk memasak dan mengerjakan hal-hal yang dapat dikerjakan.  Rambu Eni juga mengungkapkan saat ini ia tidak lagi mengurus sendiri kedua anaknya. Rambu Eny menuturkan bahwa perubahan yang paling ia rasakan setelah mengikuti sesi sesi pengasuhan yaitu pola asuh anak yang selama ini ia abaikan. Pengetahuan yang diperoleh  telah menyadarkannya bahwa mengasuh harus dilakukan secara baik dan benar. Mengasuh anak harus dengan penuh perhatian,  kasih sayang dan sabar tanpa kekerasan.  Perhatian sebagai orang tua untuk mendukung  tumbuh kembang terutama pemenuhan Gizi dan Stimulasi menjadi hal yang utama bagi dirinya. Ketika ditanya tentang perkembangan anaknya setelah megikuti kegiatan PAUD, Rambu Eni spontan menjelaskan bahwa anaknya Jelen rajin mengikuti kegiatan PAUD dan Kelompok bermain keluarga.  Sebelum  mengikuti PAUD dan KBK Jelen termasuk anak yang sangat  pemalu,  tidak berani berbaur bersama teman sebanyanya.  Namun setelah mengikuti PAUD dan KBK ia menjadi berani, senang bermain bersama teman-temannnya sabanyanya. “Saat ini ia sudah percaya diri,  berani tampil, dapat  mengenal warna,  huruf dan angka ,   tidak malu malu untuk tampil di depan kelas.”  Ungkapnya dengan anda gembira. Di akhir ceritera ia menyampaikan ucapan terimakasih kepada fasilitator dan pendidik PAUD  yang selama ini memberikan banyak pengetahuan tentang mengasuh anak, dan membimbing anaknya sehingga anaknya boleh tumbuh dan berkembang secara optimal. Ia juga mengucapkan terimakasih kepada SID dan ChildFund yang telah mendukung program pengasuhan dan PAUD di desanya sehingga mereka memperoleh pengetahuan yang baik dan anak-anak mereka tepenuhi haknya untuk betumbuh dan berkembang.  

Berbagi Peran dalam Mengasuh anak Read More »