Sumba Integrated Development

Change Story

Akte Kelahiran dan KIA Dalam Program 100 hari Kerja Pertama Kepala Desa Makamenggit

Namanya Elia Ndamu Yilu, SE. Pria berusia 42 tahun adalah seorang Kepala desa yang baru terpilih untuk memimpin desa Makameggit, kecamatan Nggaha Ori angu, Kabupaten Sumba Timur. Menurutnya ia dan beberapa teman kepala desa terpilih lainnya baru saja dilantik pada tanggal 22 Januari 2021 oleh  Bupati Sumba Timur. Kepala desa ini merupakan ayah dari 4 orang anak yang biasa disapa oleh masyarakat setempat dengan sebutan “bapa Misel”, karena anak sulungnya bernama Misel. Disela-sela kegiatan sosialisasi pembuatan Akta kelahiran dan KIA yang diikuti oleh 78 perwakilan pemerintah Kecamatan Nggaha Ori Angu dan  perwakilan dari 12 desa, Kepala Desa terpilih ini mengatakan bahwa, ia secara pribadi merasa bersyukur dengan adanya kegiatan tersebut. Karena akhirnya ia dan seluruh peserta yang hadir dapat mengetahui bagaimana proses pengajuan dan pembuatan dokumen kependudukan bagi anak-anak dan masyarakat. Dengan raut wajah gembira ia berkata, “saya bersyukur mendapatkan sosialisasi terkait cara pembuatan Akta kelahiran dan KIA, karena saya baru saja dilantik sebagai kepala desa Makamenggit. Pegetahuan serta pengalaman saya dalam mengurus akta kelahiran dan KIA masih sangat minim. Dengan saya ikut dalam kegiatan sosialisasi ini, saya dapat memahami proses pemberian Akta Kelahiran dan KIA bagi anak-anak. Apalagi narasumbernya langsung dari Disdukcapil sehingga informasi yang disampaikan sangat jelas.” Ia juga mengatakan bahwa sebagai kepala desa terpilih, salah satu  program kerja yang akan dilakukan dalam 100 hari pertama  adalah pemberian Akta Kelahiran dan KIA bagi 403 anak di desa Makamenggit yang belum memiliki akta kelahiran dan KIA. Ia mengatakan bahwa pemerintah desa dibawah kepemimpinannya sangat optimis target tersebut dapat tercapai dengan adanya kerjasama lintas Stakeholder terkait seperti kader Posyandu, Fasilitator pengasuhan responsif, Pendidik PAUD, dan sekolah-sekolah yang ada di Desa Makamenggit. Sehingga proses pembuatan Akta Kelahiran dan KIA dapat dilakukan tidak hanya melalui kantor desa tetapi juga dapat melalui Posyandu, PAUD, dan Sekolah.

Akte Kelahiran dan KIA Dalam Program 100 hari Kerja Pertama Kepala Desa Makamenggit Read More »

Bunda PAUD Dukung Pemberian Akta Lahir dan KIA

Deth Dambung adalah Bunda PAUD kecamatan Kodi Utara, Sumba Barat Daya. “Saya berharap sosialisasi tentang Akta kelahiran dan KIA hari ini dapat membuka wawasan kita akan pentingnya akta kelahiran dan KIA  sebagai bentuk dukungan kita dalam pemenuhan hak Hak Anak. Jangan saat ada bantuan dari pemerintah baru orangtua anak sibuk membuat akta kelahiran dan KIA untuk anaknya ”. Demikian penjelasan ibu Deth, ketika ditanyakan pendapatnya tentang upaya pemberian Akta Kelahiran dan Kartu Identitas Anak (KIA). Dengan wajah sedih ia mengemukakan kerihatinannnya tentang  masih banyaknya  anak-anak di kecamatan Kodi Utara yang belum memiliki  Akta Kelahiran dan KIA. Ia mengatakan, sebagai Bunda PAUD Kecamatan Kodi Utara  sangat  prihatin dengan situasi anak-anak yang belum terpanuhi haknya untuk mendapatkan akta kelahiran dan KIA. Masih banyak orang tua anak yang tidak peduli akan hal ini, padahal kedepannya kepemilikan akta kelahiran dan KIA ini sangat penting. Ia juga mengatakan bahwa ia sangat mendukung apa yang sudah dilakukan oleh SID dan ChildFund bersama Disdukcapil, dengan melakukan sosialisasi tentang tatacara pembuatan Akte Kelahiran bagi para aparat Desa dan kecamatan di Kodi Utara. Ia pun berharap dengan adanya sosialisasi terkait Akta kelahiran membantu pemerintah desa untuk memfasilitasi orangtua anak dalam proses pembuatan akta kelahiran sehingga tidak adalagi anak anak di kecamatan Kodi utara yang tidak memiliki Akta Kelahiran. “Orangtua anak hanya lebih mementingkan urusan adat daripada bagaimana hak hak anak di penuhi.” Demikian ucapnya dengan nada sedikit kesal. Selama ini pemerintah desa  berpikir bahwa syarat syarat pembuatan akta kelahiran  cukup sulit di proses. ternyata setelah mereka mengikuti sosialisasi bahwa kesulitan tersebut bisa terjawab dengan adanya Format (Surat pernyataan tanggungjawab mutlak  kebenaran data kelahiran  dan Surat Pernyataantanggung jawab mutlak kebenaran sebagai pasangan suami istri  (SPTJM). Melalui sosialisasi tersebut ia mengaku bahwa ia banyak  mendapat pengetahuan terkait proses pembuatan akta kelahiran dan KIA sehingga sebagai bunda PAUD kecamatan ia dapat melakukan sosilisasi di Posyandu, di Lembaga PAUD, atau melalui pertemuan pertemuan PKK Kecamatan.

Bunda PAUD Dukung Pemberian Akta Lahir dan KIA Read More »

Pengasuhan Merubah Sang Fasilitator

“Ketika sebuah puisi dibacakan oleh fasiltator yang berjudul “anakmu bukanlah anakmu” saya merasa sedih sekali, saya menyesal karena saya selalu emosi dengan anak saya, tidak merawat dia dengan benar dan tepat. Setelah saya mengikuti pelatihan ini (ToF Pengasuhan responsif /red.), menyadarkan saya untuk memberikan yang terbaik untuk anak saya dan anak-anak lainnya.” Ibu Mince, demikian ia biasa disapa adalah seorang perempuan berusia 27 tahun merupakan salah satu peserta pelatihan untuk fasilitator yang berasal dari desa Tandulajangga, kecamatan Nggaha Ori Angu, kabupaten Sumba Timur. Saat ini ia sedang memfasilitasi 53 orang tua anak balita melalui dua kelompok pengasuhan yang berbasis PAUD dan Posyandu di desanya. Selama proses pelatihan pengasuhan responsif bagi fasilitator ia merupakan salah satu peserta yang terlihat sangat antusias dan penuh semangat. Jika terdapat hal-hal yang tidak dipahami, ia tidak segan-segan untuk bertanya termasuk sangat aktif dalam kegiatan praktik di kelompok. Dengan wajah gembira ibu Mince mengatakan bahwa ia sangat senang bisa mengikuti kegiatan pengembangan kapasitas fasilitator pengasuhan baik melalui pelatihan maupun magang dan ia juga gembira mendapatkan pengetahuan baru tentang pengasuhan yang bermanfaat bagi dirinya dan juga orang tua anak yang didampinginya. “Saat saya ditunjuk menjadi fasilitator pengasuhan responsif oleh pemerintah desa Tadulajangga, hati saya mendua antara terima atau tidak kepercayaan yang diberikan karena saya tidak punya pengetahuan tentang Pengasuhan. Benar-benar saya tidak siap. Namun, ketika saya terima surat undangan untuk mengikuti pelatihan pengasuhan responsif yang di laksanakan oleh SID saya senang sekali karena ada harapan di sana akan mendapatkan pengetahuan tentang pengasuhan responsif. Dalam proses tiga hari ternyata ilmu yang saya dapatkan banyak sekali karena Fasilitator menyampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti.” “Harapan saya kepada SID dan ChildFund tetap mendukung kami dalam menjalankan program pengasuhan di desa kami sehingga desa kami menjadi lebih maju, orang tua dan anak-anak menjadi cerdas.” Pungakasnya mengakhiri percakapan kami.

Pengasuhan Merubah Sang Fasilitator Read More »

Putra, Karang Taruna Bukan Hanya Nama

Orang muda yang satu ini adalah pria yang ceria dan humoris. Perawakannnya tidak terlalu tinggi dan sangat aktif dalam kesehariannnya. Dia biasa di sapa Putra atau ada juga yang memanggilnya dengan sebutan Abdi. Ia memiliki nama lengkap Abdiyanto Putra Radjah. Dulunya ia merupakan salah satu duta anak dampingan SID mitra Childfund Internasional, dari Desa Matawai Atu. Putra sangat ramah kepada siapa saja, tanpa memandang latar belakang dan perbedaan setiap orang yang dijumpainya. Dia selalu lebih dahulu berinisiatif untuk menyapa dengan senyuman khasnya. Putra merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Orang tuanya bekerja sebagai petani yang memiliki pemikiran maju yang berusah berusaha untuk menyekolahkan Putra di perguruan tinggi yang ada di kota Kupang. Selepas kuliah dan memperoleh gelar sarjana, Putra kembali ke Desanya, Matawai Atu dan aktif dalam kelompok pemuda gereja dan kelompok kategorial yang ada di Desa termasuk forum orang muda dampingan Childfund. Karena keaktifannya tersebut, ia terpilih untuk bergabung dalam pemerintahan Desa sebagai Kepala Urusan (KAUR), dan tugas tersebut telah diemban Putra selama dua periode dengan Kepala Desa yang berbeda. Dalam kesehariannya, anak muda bersahaja ini memiliki karisma kepemimpinan yang baik, sehingga orang muda Desa Matawai Atu mempercayakannya untuk memimpin Karang Taruna Desa Matawai Atu. Sejak kepemimpinannya telah beberapa terobosan yang dilakukannya berssama Karang taruna Desa, antara lain penanaman anakan mengrove di sepanjang pesisir pantai Desa Matawai Atu, melibatkan orang muda dalam pembersihan tempat-tempat umum di Desa, termasuk menjadi tim relawan bencana Desa. Putra juga terlibat dalam beberapa kegiatan capacity building yang diselenggarakan oleh SID, antara lain Pelatihan Kepemimpinan, diseminasi dan pembentukan Tim Relawan Bencana Desa. Management organisasi, dan beberapa pelatihan lainnya. Putra mengatakan bahwa semua keberhasilan dan kesuksesannya tidak terlepas dari pendampingan yang dilakukan SID dan Childfund kepada dia dan keluarganya sejak dia masih kecil. Ingatannya tentang awal mula SID masuk dan mendampingi Desa Matawai Atu sangat kuat. Dia masih bisa mengingat dengan jelas saat ia didaftarkan menjadi anak dampingan SID. Saat itu dia masih berumur di bawah 5 tahun. Menurutnya waktu itu belum ada kegiatan PAUD di desanya, sehingga mereka hanya bermain di rumah saja. Dan baru pada saat SID masuk di desanya, dibentuklah kegiatan PAUD sehingga mereka dapat bersekolah di PAUD. “Waktu itu tidak ada PAUD di desa kami. Dan waktu SID masuk, baru ada PAUD, Itu pun belum semua orang tua mau mendukung anaknya berkegiatan di PAUD.” Ucapnya. Masih dengan sangat lancar, Putra melanjutkan cerita. Menurutnya, ada juga kegiatan posyandu didukung oleh SID dengan memberikan makanan tambahan untuk meningkatkan gisi anak balita. program sanitasi lingkungan yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan keluarga yang sehat. termasuk pendampingan dari tenaga medis yang kerja sama dengan SID atau saat itu masih disebut Temu Kasih atau CCF. Di bidang pendidikan, ada bantuan alat tulis, pakaian seragam sekolah dan perlengkapan lainnnya. Dan yang sampai sekarang masih ia rasakan adalah program pembuatan rumah sehat yang diperoleh keluarga mereka dari SID. Saat ini rumah tersebut telah diberikan atau diwariskan orang tuanya dan menjadi hak milik dari Putra. Sebagai Ketua Karang Taruna Desa Matawai Atu, Putra memiliki cukup banyak ide program yang dirancang bersama orang muda lainnya. Pengurusnya cukup banyak, dan mayoritas merupakan orang muda potensial yang mau melibatkan diri secara sukarela dalam organisasi ini. Menurut Putra, semua itu terjadi karena pola pendekatan humanis yang ia lakukan terhadap orang muda di desanya, untuk membangun kesadaran mereka akan pentingnya peran orang muda dalam pembangunan desa. Sehingga Karang Taruna yang selama ini hanya hanya “nama” saja dalam Desa mereka, telah berubah menjadi sebuah kelompok orang muda yang memiliki peran penting dan diakui keberadaannya oleh Pemerintah maupun masyarakat Desa. Stigma karang taruna hanya sebagai pelengkap dalam struktur pemerintah desa, telah terbantahkan. “Terima kasih kepada SID dan ChildFund yang telah membantu desa Matawai Atu, khususnya membantu orang muda di desa Matawai Atu, sehingga kami memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan mampu berbuat untuk kemajuan desa kami.” Demikian kata Putra menutup ceritanya.

Putra, Karang Taruna Bukan Hanya Nama Read More »

Darius, Pemuda pemerhati anak

Akhir pekan ini SID ingin memperkenalkan seorang cowok hebat bernama Darius berasal dari desa Pambota Njara, Sumba Timur. Pemilik nama lengkap Darius Sani Hadambiwa ini adalah salah satu pendamping kegiatan Rumah Kreatif Anak Sabana (RKAS) dan juga Forum Orang Muda di desanya. Ia termasuk anak muda yang sangat aktif dalam beberapa kegiatan organisasi, sebut saja selain menjadi pendamping RKAS dan FOM ia juga terlibat dalam komunitas Gubuk Belajar Sumba, PIK.R dan GenRe. “Jangan biarkan apa yang tidak dapat kamu lakukan mengganggu apa yang dapat kamu lakukan, itu moto hidup saya”, kata Darius. Menurutnya dengan bergabung dan aktif di berbagai kegiatan organisasi tersebut sangat bermanfaat untuk menggali dan mengasah bakat dan minatnya di berbagai bidang. Demikian juga yang dirasakan oleh teman-temannya, mereka dapat berbagi pengalaman dan ketrampilan saat bertemu dan berdiskusi atau melakukan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Sambil tersenyum Darius mengatakan, “salah satu contoh, dengan adanya RKAS ini sangat membantu anak-anak mengasah dan mengembangkan kemampuan mereka. Banyak hal yang bisa mereka pelajari yang mungkin tidak mereka dapatkan di rumah atau di sekolah mereka”. Untuk menjalankan aktifitas RKAS Darius dan pendamping lainnya diperlengkapi dengan modul Pendidikan Kecakapan Hidup dan Literasi Keuangan (PKHLK) yang memuat panduan lengkap untuk mengeksplorasi kemampuan anak-anak dalam bentuk tema-tema menarik dan mudah untuk diimplementasikan. Minggu ini Darius mendampingi anak-anak di RKAS belajar bersama tema Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Ia memiliki cita-cita untuk melanjutkan kuliah setelah beberapa waktu lalu sukses meyelesaikan pendidikannya di SMA. Dengan penuh semangat ia katakan, “mencoba hal baru adalah cara saya untuk mengenal lebih luas dan mempelajari apa yang belum pernah saya pelajari”. Pemberdayaan anak dan orang muda di daerah pedesaan Sumba adalah program kemitraan SID dengan ChilFund.

Darius, Pemuda pemerhati anak Read More »

“Waktu” Adalah Pemberian Terbaik Orang Tua Untuk Anak

“Program pengasuhan responsif itu penting karena menjadi dasar pembentukan perilaku dan Karakter anak”. Demikanlah kalimat pertama yang diucapkan oleh ibu Valesia Ina Ki’i ketika ditanya tentang pendapatnya terhadap kegiatan pengasuhan responsif. Valesia adalah seorang wanita berusia 38 tahun yang merupakan ibu dari dua orang anak. Ia tinggal di desa Waimangura, kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya. Salah satu peserta program pengasuhan responsif di PAUD Bunga Kasih, dampingan SID ini telah merasakan manfaat kegiatan pengasuhan yang ia ikuti. Masih sangat jelas dalam ingatannya bahwa pada tahun 2017 adalah pertama kali ia mengikuti sosialisasi tentang pentingnya pengasuhan bagi anak. Kegiatan tersebut diadakan di PAUD Bunga Kasih yang terletak tidak jauh dari rumah tempat tinggalnya. Pada saat itulah ia mulai tertarik untuk bergabung dalam kelompok pengasuhan responsif yang ada di desanya. “Saya menyesal, selama ini saya mendidik anak saya dengan kekerasan, membiarkan anak saya bermain sendiri tanpa kami dampingi, dan juga tidak pernah menerapkan disiplin yang tepat pada anak saya“. kata ibu Valecia. Sebelum mengikuti program pengasuhan responsif, ibu Valesia hampir tidak pernah bermain bersama anaknya. Waktu itu ia beranggapan bahwa bermain bersama anak dianggap lucu atau bahkan kuatir oleh masyarakat sekitar ia akan dianggap seperti anak kecil. Sambil tersenyum Ibu Valensia menuturkan bahwa selama mengikuti kegiatan kelompok pengasuhan responsif secara rutin banyak hal yang ia dapatkan, misalnya bagaimana mendisipilinkan anak usia dini, Pendidikan seks anak usia dini, tentang perlindungan anak, Gizi anak usia dini dengan memanfaatkan pangan local. Ia juga mendapatkan pengetahuan tentang ciri-ciri anak usia dini dan yang paling menyenangkan adalah kegiatan bermain bersama anak. Kegiatan menstimulasi anak yang diperoleh melalui kelompok pengasuhan responsif kemudian ia terapkan di rumahnya dengan mengambil waktu empat kali dalam seminggu untuk bermain bersama anaknya, sekitar 30 menit. Ia menemani anaknya menggambar, menghitung dengan biji-bijian, mengisi kolase, bermain kartu domino, bermain tebak gambar, huruf, angka dan berceritera. Ibu Valensia juga menjelaskan bahwa melalui program pengasuhan responsif ia belajar tentang pengasuhan anak sejak dini secara baik. Ia mengatakan bahwa hal-hal yang benar perlu ditanamkan kepada anak sejak usia dini sehingga dapat membentuk perilaku dan karakter mereka. Menurutnya sejak mengikuti kegiatan kelompok pengasuhan responsif yang dilakukan dua kali dalam sebulan, banyak perubahan terjadi dalam diri dan keluarganya. Salah satu contoh, sekarang ia tidak lagi mendidik anak-anaknya dengan kekerasan tetapi dengan penuh kasih sayang. Ia sudah terbiasa menyediakan waktu bermain bersama anaknya dan memperhatikan kebutuhan gizi anaknya. Menurutnya waktu bersama anak adalah hal yang menyenangkan untuk dirinya dan juga untuk anaknya. Sambil tersenyum ibu Valesia mengatakan, ”Saya sangat beruntung dapat terlibat dalam program pengasuhan responsif sehingga banyak pengetahuan yang saya dapatkan. Sekarang ini saya bisa mendidik dan membimbing anak saya tidak dengan kekerasan, tapi dilakukan dengan penuh kasih sayang. Karena mendidik anak dengan kasih sayang, anak menjadi baik, penurut, dan pintar.” Ibu Valesia mengucapkan terimakasih kepada para fasilitator yang sudah membimbing ia dan teman-teman orang tua lainnya. Ia berterima kasih juga kepada SID yang sudah mengembangkan program ini sehingga memberi pengetahuan dan ketrampilan yang luar biasa bagi dirinya dalam mendidik dan mengasuh anak. Melalui SID, ChildFund International in Indonesia memberikan pendampingan kepada kurang lebih 1000 orang tua anak usia dini untuk belajar tentang tehnik pengasuhan. Kegiatan yang dilaksanakan dalam kelompok tersebut difasilitasi oleh fasilitator terlatih, menggunakan modul yang telah disesuaikan dengan kebutuhan serta kearifan lokal masyarakat setempat. Program kelompok pengasuhan responsif ini tersebar di wilayah kabupaten Sumba Timur dan Sumba Barat Daya.

“Waktu” Adalah Pemberian Terbaik Orang Tua Untuk Anak Read More »

241 Anak Usia Dini Menerima Akta Kelahiran

Kepala Desa Pogo Tena, Kabupaten SBD menyerahkan akta kelahiran kepada 241 anak usia dini di desanya yang diproses secara kolektif. Pembuatan akta kelahiran ini difasilitasi oleh SID bekerjasama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Sumba Barat Daya dan Pemerintah Desa. Menurut Dewy, staff SID bidang Pendidikan Anak Usia Dini, proses pembuatan Akta ini dilakukan melalui Lembaga PAUD dan Posyandu. Terdapat 13 Desa dampingan SID yang akan difasilitasi untuk pemberian Akta Kelahiran kepada seluruh anak usia dini. “Kami membantu mensosialisasikan tentang pentingnya akta kelahiran, dan membantu mengumpulkan dokumen pendukung seperti foto copy KK, surat rekomendasi dari desa, SPTJM, dan surat lainnya yang diperlukan. Target kami 100% anak usia dini di 13 Desa dampingan memiliki akta kelahiran.” Kata Dewy dengan penuh semangat. Melalui program Revitalisasi PAUD HI, SID mendukung Pemerintah Kabupaten SBD melakukan percepatan cakupan kepemilikan akta catatan sipil termasuk akta kelahiran bagi seluruh anak di SBD. Kepala desa Pogo Tena mengatakan, dengan adanya proses pembuatan akta secara masal ini telah meningkatkan antusias warga untuk mengurus akta kelahiran. “Sekarang sudah ada seratusan anak lagi yang meminta untuk diterbitkan akte lelahirannya”. Ucap bapak Kepala Desa sambil tersenyum bangga.” Pemberian akta kelahiran merupakan salah satu komponen dari layanan PAUD HI yang sementara dikerjakan oleh Gugus Tugas PAUD HI Mata Rammu, Kabupaten SBD. Program ini dikembangkan oleh SID dan didukung oleh William dan Lily Foundation, serta Yayasan Adaro Bangun Negeri.

241 Anak Usia Dini Menerima Akta Kelahiran Read More »

Asa di Tanah Gersang

Di desa Makamenggit, Sumba Timur, Air merupakan salah satu kebutuhan hidup yang masih cukup sulit dipenuhi. Untuk keperluan sehari-hari terutama pada saat musim kemarau, sebahagian besar warga di sana biasanya harus membeli air pada pengusaha jasa mobil tangky air. Tidak heran jika untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit terpenuhi, apalagi untuk keperluan bercocok tanam. Rata-rata para petani di daerah tersebut hanya dapat bercocok tanam pada musim penghujan. Tetapi tidak demikian halnya dengan Desmon. Seorang anak muda yang juga adalah ketua karang taruna desa Makamenggit. Pada musim panas tahun ini ia telah berhasil mengelola lahan perkebunannya untuk ditanami dengan tanaman hortikultura, seperti tomat, buncis dan ketimun. Untuk kebutuhan penyiraman, ia pun harus membeli air tangky seminggu sekali atau dua kali. Desmon menyiasati keterbatasan tersebut dengan cara mengunakan pola irigasi tetes untuk mengairi sekitar 5.000 pohon tomat serta 2.000 pohon ketimun dan buncis. “Saya targetkan bisa panen perdana tomat minimal 6.000 Kg dari 3000 pohon yang saya tanam tahap pertama. Dari hasil panen ini saya perkirakan bisa mendapatkan omzet sekitar 50 juta dengan masa pemeliharaan 4-5 bulan”. Tutur Desmon sambil tersenyum lebar. Menurutnya, saat ini ia banyak menghabiskan waktu untuk mengurus kebunnya. Kalau dulu ia banyak menghabiskan waktu untuk jalan-jalan, sekarang ini ia lebih senang berada di kebun, untuk memperhatikan dan merawat tanamannya. Tentang program ini Melalui SID, ChildFund International in Indonesia mendukung orang muda di desa-desa untuk berwirausaha melalui serangkaian kegiatan capacity building. Mulai dari pemetaan potensi desa, membangun visi, membuat rencana operasional, hingga strategy marketing. Selama setahun terakhir, sedikitnya 120 orang muda yang merupakan anggota karang taruna desa telah dilatih terkait kewirausahaan.

Asa di Tanah Gersang Read More »