Kerjasama untuk Kesejahteraan: Proklim Tundung Mahamu Menggandeng Pihak Swasta untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat yang Berkelanjutan
Oleh : Victor Maru (SID, Sumba Timur, NTT) Di tengah tantangan perubahan iklim dan lahan kering yang membatasi produksi pertanian, masyarakat Desa Tandula Jangga, Kecamatan Nggaha Ori Angu, Sumba Timur, menunjukkan bahwa kerja sama dan kemitraan bisa membuka jalan menuju kesejahteraan. Melalui ProKlim Tundung Mahamu, kelompok ini tidak hanya bergerak dalam adaptasi dan mitigasi iklim, tetapi juga berhasil menjalin kolaborasi dengan pihak swasta untuk mengembangkan hortikultura organik. Kelompok ProKlim ini merupakan dampingan dari Konsorsium Sumba Integrated Development (SID) yang didukung oleh World Neighbors serta bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK-RI). Dukungan yang hadir menjadi energi baru bagi para petani, sekaligus bukti nyata bahwa keberlanjutan hanya bisa terwujud melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha. Desa Tandula Jangga terletak di wilayah timur Kecamatan Nggaha Ori Angu. Kelompok masyarakatnya, yang rata-rata bermata pencaharian sebagai petani, memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi pertanian dan pendapatan rumah tangga melalui pengelolaan pertanian yang lebih efektif. Umbu Ananau menceritakan realitas kehidupan masyarakat bahwa mereka sudah terbiasa menerima bantuan benih dan bibit dari pemerintah desa maupun Dinas Pertanian. Salah satu tokoh muda tersebut adalah Umbu Ananau, seorang aparat desa yang sejak tahun 2021 ditugaskan sebagai Kepala Urusan Umum di Desa Tandula Jangga, sekaligus terlibat aktif dalam Kelompok ProKlim Tundung Mahamu sebagai bendahara kelompok. Melihat potensi lahan pertanian, Umbu Ananau memiliki ide untuk mengolah lahan kering menjadi lahan produktif bagi pengembangan hortikultura, dengan memanfaatkan pupuk organik yang telah ia pelajari melalui pelatihan SID dengan dukungan WN yang bekerjasama dengan KLHK-RI. Ia juga memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan usaha pertanian yang berkelanjutan. Desa Tandula Jangga merupakan salah satu desa dampingan yang mengembangkan Program Kampung Iklim melalui Kelompok Tundung Mahamu. ProKlim ini dibentuk pada tanggal 9 Januari 2023 dengan jumlah anggota 30 orang (17 laki-laki dan 13 perempuan). Berbagai kegiatan adaptasi perubahan iklim telah dilakukan kelompok ini, antara lain pembangunan lubang penampung air hujan oleh 30 rumah tangga; pembuatan lubang biopori; terasering; dan pembatas jalur rambat api. Selain itu, sebanyak 30 petani telah mengembangkan tanaman pangan lokal seperti jagung lamuru, keladi, dan ubi kayu pada lahan seluas 1 hektare. Sebanyak lima petani juga telah mengembangkan kebun dengan model agrosilvopastoral seluas 1,2 hektare dengan menanam berbagai jenis tanaman umur panjang seperti sengon, gamalina, mahoni, dan lobung. Di kawasan konservasi sumber mata air Laikakak, kelompok ini juga telah menanam sebanyak 1.800 anakan pohon pada area konservasi seluas 1 hektare. Kegiatan mitigasi seperti pembuatan tungku hemat energi telah dilakukan oleh 12 rumah tangga. Pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu telah diterapkan oleh 30 rumah tangga, dan simulasi bencana banjir telah dilaksanakan di tingkat desa maupun kabupaten. Sementara itu, kegiatan kelembagaan Kelompok ProKlim meliputi penyusunan peraturan kelompok, pembentukan struktur organisasi, penyusunan program kerja atau rencana aksi, serta pelaksanaan pertemuan rutin Kelompok Tundung Mahamu. Kelompok ProKlim Tundung Mahamu yang telah mengembangkan kegiatan adaptasi, mitigasi, dan penguatan kelembagaan ini terus membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pengembangan yang dilakukan hingga saat ini belum maksimal sehingga kelompok berupaya mencari dukungan melalui berbagai cara. Salah satu upaya tersebut adalah membangun jejaring dengan sektor swasta, salah satunya PT Istana Karang. Kelompok ProKlim ini mengunjungi PT Istana Karang untuk berbagi cerita mengenai pengembangan sayuran yang telah mereka lakukan dan menyerahkan proposal permohonan dukungan benih hortikultura senilai Rp 5.300.000 bagi 30 anggota kelompok pada lahan seluas 1 hektare. Pihak PT Istana Karang merespons positif proposal tersebut dan bersedia bekerja sama, termasuk membeli seluruh hasil sayuran organik untuk kebutuhan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Program MBG merupakan program pemerintah Indonesia yang menyediakan makan siang bagi anak-anak sekolah. Kelompok menyambut baik kesediaan perusahaan untuk membeli sayuran mereka sehingga mulai mengembangkan sayuran organik seperti buncis, sawi hijau, kacang panjang, terong, tomat, kangkung, wortel, dan bayam. Pengembangan ini dilakukan dengan modal sendiri karena belum ada dukungan permodalan dari perusahaan. Hingga kini, hasil sayuran belum dapat dijual kepada PT Istana Karang karena pelaksanaan program MBG tertunda akibat anggaran dari pemerintah pusat belum dicairkan. Selain Kelompok ProKlim Tundung Mahamu Desa Tandula Jangga, Kelompok ProKlim Kaheri Wangga dari Desa Praipaha juga menjalin kerja sama dengan sektor swasta. Mereka menyerahkan proposal permohonan dukungan benih hortikultura kepada PT Istana Karang senilai Rp 5.300.000 untuk 30 anggota kelompok pada lahan seluas 1 hektare. Hingga saat ini, sayuran dari kedua Kelompok ProKlim tersebut belum dapat dibeli oleh PT Istana Karang karena Program MBG belum terlaksana di Sumba Timur. Menjadi pengurus ProKlim bukan sekadar mengajak warga melakukan kegiatan pelestarian lingkungan. Kesuksesan program ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Umbu Ananau memiliki motivasi yang kuat: “Bangunlah relasi yang kuat dengan berbagai pihak, maka kesuksesan akan mengikutinya.” Ia melanjutkan, “Saya sangat bersyukur telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Saya banyak belajar dari proses yang difasilitasi oleh SID, yang mendorong kami untuk membangun relasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta. Saya percaya, keberhasilan dapat diraih ketika ada niat tulus untuk mengabdi kepada masyarakat dan alam.” Sudah saatnya kita semua peduli terhadap pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan dan berkeadilan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. ProKlim Tundung Mahamu mengusung semangat bahwa perubahan iklim bukan untuk dikeluhkan, melainkan dihadapi dengan kerja nyata, kolaborasi kuat, dan semangat yang tidak pernah padam.


