Sumba Integrated Development

sidsumba

“Waktu” Adalah Pemberian Terbaik Orang Tua Untuk Anak

“Program pengasuhan responsif itu penting karena menjadi dasar pembentukan perilaku dan Karakter anak”. Demikanlah kalimat pertama yang diucapkan oleh ibu Valesia Ina Ki’i ketika ditanya tentang pendapatnya terhadap kegiatan pengasuhan responsif. Valesia adalah seorang wanita berusia 38 tahun yang merupakan ibu dari dua orang anak. Ia tinggal di desa Waimangura, kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya. Salah satu peserta program pengasuhan responsif di PAUD Bunga Kasih, dampingan SID ini telah merasakan manfaat kegiatan pengasuhan yang ia ikuti. Masih sangat jelas dalam ingatannya bahwa pada tahun 2017 adalah pertama kali ia mengikuti sosialisasi tentang pentingnya pengasuhan bagi anak. Kegiatan tersebut diadakan di PAUD Bunga Kasih yang terletak tidak jauh dari rumah tempat tinggalnya. Pada saat itulah ia mulai tertarik untuk bergabung dalam kelompok pengasuhan responsif yang ada di desanya. “Saya menyesal, selama ini saya mendidik anak saya dengan kekerasan, membiarkan anak saya bermain sendiri tanpa kami dampingi, dan juga tidak pernah menerapkan disiplin yang tepat pada anak saya“. kata ibu Valecia. Sebelum mengikuti program pengasuhan responsif, ibu Valesia hampir tidak pernah bermain bersama anaknya. Waktu itu ia beranggapan bahwa bermain bersama anak dianggap lucu atau bahkan kuatir oleh masyarakat sekitar ia akan dianggap seperti anak kecil. Sambil tersenyum Ibu Valensia menuturkan bahwa selama mengikuti kegiatan kelompok pengasuhan responsif secara rutin banyak hal yang ia dapatkan, misalnya bagaimana mendisipilinkan anak usia dini, Pendidikan seks anak usia dini, tentang perlindungan anak, Gizi anak usia dini dengan memanfaatkan pangan local. Ia juga mendapatkan pengetahuan tentang ciri-ciri anak usia dini dan yang paling menyenangkan adalah kegiatan bermain bersama anak. Kegiatan menstimulasi anak yang diperoleh melalui kelompok pengasuhan responsif kemudian ia terapkan di rumahnya dengan mengambil waktu empat kali dalam seminggu untuk bermain bersama anaknya, sekitar 30 menit. Ia menemani anaknya menggambar, menghitung dengan biji-bijian, mengisi kolase, bermain kartu domino, bermain tebak gambar, huruf, angka dan berceritera. Ibu Valensia juga menjelaskan bahwa melalui program pengasuhan responsif ia belajar tentang pengasuhan anak sejak dini secara baik. Ia mengatakan bahwa hal-hal yang benar perlu ditanamkan kepada anak sejak usia dini sehingga dapat membentuk perilaku dan karakter mereka. Menurutnya sejak mengikuti kegiatan kelompok pengasuhan responsif yang dilakukan dua kali dalam sebulan, banyak perubahan terjadi dalam diri dan keluarganya. Salah satu contoh, sekarang ia tidak lagi mendidik anak-anaknya dengan kekerasan tetapi dengan penuh kasih sayang. Ia sudah terbiasa menyediakan waktu bermain bersama anaknya dan memperhatikan kebutuhan gizi anaknya. Menurutnya waktu bersama anak adalah hal yang menyenangkan untuk dirinya dan juga untuk anaknya. Sambil tersenyum ibu Valesia mengatakan, ”Saya sangat beruntung dapat terlibat dalam program pengasuhan responsif sehingga banyak pengetahuan yang saya dapatkan. Sekarang ini saya bisa mendidik dan membimbing anak saya tidak dengan kekerasan, tapi dilakukan dengan penuh kasih sayang. Karena mendidik anak dengan kasih sayang, anak menjadi baik, penurut, dan pintar.” Ibu Valesia mengucapkan terimakasih kepada para fasilitator yang sudah membimbing ia dan teman-teman orang tua lainnya. Ia berterima kasih juga kepada SID yang sudah mengembangkan program ini sehingga memberi pengetahuan dan ketrampilan yang luar biasa bagi dirinya dalam mendidik dan mengasuh anak. Melalui SID, ChildFund International in Indonesia memberikan pendampingan kepada kurang lebih 1000 orang tua anak usia dini untuk belajar tentang tehnik pengasuhan. Kegiatan yang dilaksanakan dalam kelompok tersebut difasilitasi oleh fasilitator terlatih, menggunakan modul yang telah disesuaikan dengan kebutuhan serta kearifan lokal masyarakat setempat. Program kelompok pengasuhan responsif ini tersebar di wilayah kabupaten Sumba Timur dan Sumba Barat Daya.

“Waktu” Adalah Pemberian Terbaik Orang Tua Untuk Anak Read More »

Yuk, Asuh Anak Dengan Benar!

“Waktu belum ikut pelatihan ini, kita, kader buat seperti biasa saja, apalagi tentang pola asuh kami tidak tahu memang.” Demikian ungkapan mama Margareta Bela Kaba, kader Posyandu Lolo laghe, desa Weerena, Sumba Barat Daya. Pemenuhan kebutuhan pengasuhan yang baik sebagai salah satu layanan esensial bagi anak usia dini di kabupaten SBD memang masih menjadi sebuah tantangan bagi pemerintah daerah setempat. Permasalahan balita stunting yang cukup tinggi di SBD merupakan akibat dari belum terpenuhinya layanan esensial secara optimal termasuk pengasuhan yang baik. Menyikapi situasi ini, SID kemudian telah mengembangkan modul pengasuhan, sekaligus melatih fasilitator lokal yang merupakan anggota Gugus Tugas PAUD HI Kabupaten. Fasilitator kabupaten adalah perwakilan dari instansi terkait, seperti dinas kesehatan, pendidikan, DP3AP2KB dan beberapa instansi lainnya. Para fasilitator terlatih ini kemudian yang memfasilitasi pelatihan terapan di tingkat kecamatan. Pelaksanaan pelatihan terapan pengasuhan ini diikuti oleh perwakilan dari Bidan desa, kader Posyandu, kader BKB, dan juga tutor PAUD yang berasal dari 13 desa dampingan SID di Sumba Barat Daya. Selama 4 hari, peserta dipandu untuk belajar tentang posisi pengasuhan dalam program PAUD HI dan pengertian pengasuhan. Tidak hanya itu, peserta juga belajar memahami komponen dan manfaat pengasuhan, orang tua sebagai pembelajar dalam pengasuhan, peran diri dalam keluarga, termasuk faktor yg mempengaruhi pengasuhan. Terdapat sesi menarik tentang mengenali kebutuhan anak, seperti, aspek pengelompokan usia dan tahapan tumbuh kembang anak 0-6 tahun. Mereka juga belajar tentang pengenalan anak berkebutuhan khusus, perlindungan dan kesejahteraan AUD, konsep tumbuh kembang, ciri-ciri dan prinsip tumbuh kembang. Hal menarik lainnya yang juga dipelajari oleh para peserta adalah bagaimana membangun tujuan berdasarkan kebutuhan anak dan orang tua, Praktik Pengasuhan di rumah, membangun hubungan dan komunikasi efektif, kesehatan, perawatan dan gizi di rumah, kebersihan lingkungan, termasuk stimulasi AUD di rumah. Pada hari terakhir, peserta dibimbing untuk terampil mengelola sesi pengasuhan bagi orang tua di pusat layanan AUD melalui kegiatan simulasi. Mama Margareta ketika berbagi kesan dan pesan, ia mengatakan, “Sekarang ini baru kami paham, ternyata pengasuhan sangat penting, baik di rumah, di posyandu atau di PAUD. Kita punya anak jadi apa nantinya sangat tergantung dari cara kita mengasuh sejak dini. Kami senang dan berterimakasih karena bisa ikut pelatihan ini. Nanti sampai di desa, harus kami terapkan supaya semua orang tua yang antar anaknya ke posyandu dan PAUD harus ikut penyuluhan ini.” SID bekerjasama dengan William dan Lily Foundation, serta yayasan ADARO Bangun Negeri, sementara mendukung pemerintah daerah kabupaten SBD melalui program Revitalisasi PAUD HI. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas serta akses ke layanan esensial bagi anak usia dini secara terintegrasi. Terdapat 3 kecamatan dan 13 desa yang menjadi wilayah percontohan pengembangan anak usia dini holistik integratif di kabupaten Sumba Barat Daya.

Yuk, Asuh Anak Dengan Benar! Read More »

241 Anak Usia Dini Menerima Akta Kelahiran

Kepala Desa Pogo Tena, Kabupaten SBD menyerahkan akta kelahiran kepada 241 anak usia dini di desanya yang diproses secara kolektif. Pembuatan akta kelahiran ini difasilitasi oleh SID bekerjasama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Sumba Barat Daya dan Pemerintah Desa. Menurut Dewy, staff SID bidang Pendidikan Anak Usia Dini, proses pembuatan Akta ini dilakukan melalui Lembaga PAUD dan Posyandu. Terdapat 13 Desa dampingan SID yang akan difasilitasi untuk pemberian Akta Kelahiran kepada seluruh anak usia dini. “Kami membantu mensosialisasikan tentang pentingnya akta kelahiran, dan membantu mengumpulkan dokumen pendukung seperti foto copy KK, surat rekomendasi dari desa, SPTJM, dan surat lainnya yang diperlukan. Target kami 100% anak usia dini di 13 Desa dampingan memiliki akta kelahiran.” Kata Dewy dengan penuh semangat. Melalui program Revitalisasi PAUD HI, SID mendukung Pemerintah Kabupaten SBD melakukan percepatan cakupan kepemilikan akta catatan sipil termasuk akta kelahiran bagi seluruh anak di SBD. Kepala desa Pogo Tena mengatakan, dengan adanya proses pembuatan akta secara masal ini telah meningkatkan antusias warga untuk mengurus akta kelahiran. “Sekarang sudah ada seratusan anak lagi yang meminta untuk diterbitkan akte lelahirannya”. Ucap bapak Kepala Desa sambil tersenyum bangga.” Pemberian akta kelahiran merupakan salah satu komponen dari layanan PAUD HI yang sementara dikerjakan oleh Gugus Tugas PAUD HI Mata Rammu, Kabupaten SBD. Program ini dikembangkan oleh SID dan didukung oleh William dan Lily Foundation, serta Yayasan Adaro Bangun Negeri.

241 Anak Usia Dini Menerima Akta Kelahiran Read More »

Asa di Tanah Gersang

Di desa Makamenggit, Sumba Timur, Air merupakan salah satu kebutuhan hidup yang masih cukup sulit dipenuhi. Untuk keperluan sehari-hari terutama pada saat musim kemarau, sebahagian besar warga di sana biasanya harus membeli air pada pengusaha jasa mobil tangky air. Tidak heran jika untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit terpenuhi, apalagi untuk keperluan bercocok tanam. Rata-rata para petani di daerah tersebut hanya dapat bercocok tanam pada musim penghujan. Tetapi tidak demikian halnya dengan Desmon. Seorang anak muda yang juga adalah ketua karang taruna desa Makamenggit. Pada musim panas tahun ini ia telah berhasil mengelola lahan perkebunannya untuk ditanami dengan tanaman hortikultura, seperti tomat, buncis dan ketimun. Untuk kebutuhan penyiraman, ia pun harus membeli air tangky seminggu sekali atau dua kali. Desmon menyiasati keterbatasan tersebut dengan cara mengunakan pola irigasi tetes untuk mengairi sekitar 5.000 pohon tomat serta 2.000 pohon ketimun dan buncis. “Saya targetkan bisa panen perdana tomat minimal 6.000 Kg dari 3000 pohon yang saya tanam tahap pertama. Dari hasil panen ini saya perkirakan bisa mendapatkan omzet sekitar 50 juta dengan masa pemeliharaan 4-5 bulan”. Tutur Desmon sambil tersenyum lebar. Menurutnya, saat ini ia banyak menghabiskan waktu untuk mengurus kebunnya. Kalau dulu ia banyak menghabiskan waktu untuk jalan-jalan, sekarang ini ia lebih senang berada di kebun, untuk memperhatikan dan merawat tanamannya. Tentang program ini Melalui SID, ChildFund International in Indonesia mendukung orang muda di desa-desa untuk berwirausaha melalui serangkaian kegiatan capacity building. Mulai dari pemetaan potensi desa, membangun visi, membuat rencana operasional, hingga strategy marketing. Selama setahun terakhir, sedikitnya 120 orang muda yang merupakan anggota karang taruna desa telah dilatih terkait kewirausahaan.

Asa di Tanah Gersang Read More »

Kepala Desa Milenial

“Ketika saya dilantik menjadi Kepala Desa pada bulan Oktober yang lalu, salah satu hal yang saya lakukan adalah langsung menaikkan insentif 6 orang Guru dan Pengelola PAUD di desa saya menjadi 1 juta Rupiah per bulan. Saya melihat dan merasakan bagaimana Guru PAUD ini mengajar anak-anak kami dengan susah payah tetapi sering diberi upah yang sangat tidak layak.Saya bahkan mendengar ada yang hanya diupah seratus ribu, atau seratus lima puluh ribu. Bagaimana Guru PAUD ini bisa mengajar anak-anak dengan baik, kalau kebutuhan hidup mereka tidak diperhatikan, padahal PAUD itu adalah miliknya Desa, kewenangan Desa. Saya menantang kepala Desa yang lain untuk memberikan upah yang layak kepada Guru-guru PAUD. Kalau bisa kasih lebih besar dari yang kami berikan.” Demikian ungkapan hati bapak John Adolf, Kepala Desa Pogo Tena, Kecamatan Laura, Kabupaten Sumba Barat Daya dengan raut wajah besungguh-sungguh. Hal ini diceritakan ketika ketika ia diberikan kesempatan untuk menyampaikan testimony dalam acara evaluasi tahunan pelaksanaan program PAUD HI di Kabupaten Sumba Barat Daya. Selain menaikan upah para Guru PAUD, Pemerintah Desa juga memberikan bantuan laptop, dan akan menganggarkan bantuan lainnya untuk mendukung semua Lembaga PAUD di desanya. Tentang program ini, William dan Lily Foundation serta Yayasan ADARO Bangun Negeri melalui SID sedang mendukung Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat Daya merevitalisasi PAUD HI. Gugus Tugas PAUD HI Kabupaten yang telah dibentuk, sementara giat melakukan advokasi pembentukan regulasi serta advokasi perencanaan, penganggaran Kabupaten dan Desa untuk mendukung program PAUD HI.

Kepala Desa Milenial Read More »

Simposium Orang Muda

Sumba Integrated Development (SID) didukung oleh ChildFund International in Indonesia menggelar simposium orang muda di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Simposium ini dilakukan guna mengkapasitasi orang muda agar mereka mampu mengembangkan ide-ide kreatif dalam berwirausaha. Adolf Bastian Dawa, salah satu peserta simposium mengapresiasi niat baik SID yang telah memberi ruang bagi orang muda dalam belajar. Adolf mengaku mendapatkan banyak hal setelah belajar bersama SID. “Saya apresiasi niat baik SID yang telah menyediakan ruang belajar bersama ini guna menguatkan kapasitas kami sebagai anak muda,” ucapnya. Ia menyebut dirinya akan mengimplementasikan segala pengetahuan yang diperoleh dari SID. Ia juga mengaku telah memiliki pengalaman yang baru sesudah belajar dan praktek langsung dalam mengolah bahan lokal menjadi makanan yang memiliki nilai pasar yang tinggi. “Kemarin saya belajar bagaimana mengolah bahan lokal menjadi makanan dan minuman yang memiliki nilai jual tinggi. Saya dan kawan-kawan belajar membuat teh celup daun kelor dan sambal maroto di Kelompok usaha Gollu Rada, Desa Oba Rade, Wewe Tengah. Itu pengalaman yang sangat berharga saya peroleh,” sebut Adolf. Ia mengaku bahwa di desanya banyak tanaman horti yang bisa dimanfaatkan dengan mendatangkan keuntungan lebih besar. Salah Satunya tanaman tomat. Ia bermimpi mengolah tanaman tomat menjadi saos khas Kodi. Niat ini menjadi prioritasnya untuk dikerjakan setelah kembali ke desanya. “Apalagi kami sedang guluti pekerjaan sebagai penanam tomat, kalau di Oba Rade ada sambal maroto, maka di kodi ada saos tomat,” tuturnya.

Simposium Orang Muda Read More »

Life Skill Sebagai Bekal Orang Muda Menapaki Dunia Kerja

Kali ini kami mengajak teman-teman untuk berkenalan dengan seorang anak muda dari desa Waimangura, Kecamatan Wewewa Barat, kabupaten SBD. Ia bernama Rachky Prince Warru Wera, atau biasa di sapa Ricky, berusia 22 tahun. Ricky adalah salah satu duta anak muda dari lembaga SID, mitra ChildFund. Selama bergabung dengan SID ia telah mengikuti beberapa kegiatan pengembangan kapasitas. Nah, pada tanggal 13-17 Desember 2021, ia kembali terpilih untuk mengikuti pelatihan modul life skill yang diselenggarakan oleh SID-Mitra ChildFund International di Indonesia. Awalnya Ricky tidak menyangka, bahwa ia bisa terlibat dalam pelatihan modul life skill ini, karena seluruh peserta yang akan mengikuti pelatihan tersebut harus melalui proses pendaftaran secara online dengan proses seleksi yang kompetitif oleh SID. Tetapi dengan penuh optimis ia mengikuti seluruh proses seleksi dengan baik, dan berhasil terpilih sebagai salah satu perwakilan peserta dari desanya . Dengan raut wajah gembira, Ricky mengatakan, “Saya sangat senang pada saat staf SID menghubungi saya melalui telepon untuk menginformasikan bahwa saya adalah salah satu yang lolos sebagai peserta pada pelatihan modul life skill. Saya tidak menyangka dapat terpilih untuk mengikuti kegiatan tersebut.” Ia sempat berpikir bahwa kegiatan ini mungkin biasa-biasa saja, sama seperti pelatihan lain yang pernah ia ikuti. Namun pada saat proses pelatihan berlangsung, sesi demi sesi yang dilalui ternyata sangat menarik dan terasa sangat bermanfaat bagi dirinya. Ada 19 topik atau materi yang diajarkan kepada para peserta dan semuanya sangat bagus sebagai bekal dan pengetahuan untuk meniti karir dalam dunia kerja. “Ada satu materi yang menurut saya itu bagus dan saya bisa terapkan dalam kehidupan saya sehari-hari yaitu tentang literasi keuangan. Dijelaskan bahwa bagaimana dari penghasilan yang saya dapatkan itu, saya harus menabung. Misalnya saya mempunyai penghasilan satu juta, saya harus menyisipkan penghasilan itu ke tabungan baru saya bisa membelanjakan sisanya. Lalu bagaimana saya bisa berinvestasi. Dari tabungan-tabungan itu bisa kita beli tanah atau poperti lainnya. Hasil dari investasi tersebut baru kita bisa beli atau kredit motor, mobil, rumah. Kami juga diajarkan bagaimana membedakan yang menjadi kebutuhan kita dan mana yang menjadi keinginan.” Dalam kesehariannya, Ricky menekuni usaha di bidang jasa pemasangan plafon rumah. Sebelumnya ia pernah bekerja dalam bidang usaha penjualan jasa (bisnis digital) di kota Kupang, namun karena situasi dan kondisi yang tidak mendukung usahanya, mengharuskan Ricky kembali ke desanya untuk memulai usaha baru. Ricky adalah salah satu peserta yang memiliki kemampuan yang baik. Ia termasuk sangat cepat memahami materi yang disampikan oleh para fasilitator. Hal tersebut terlihat dari caranya merespons setiap materi yang disampaikan termasuk saat berinteraksi dalam berbagai sesi diskusi, tanya jawab dan tugas-tugas kelompok yang diberikan oleh fasilitator. “Saya sangat bersyukur karena para Fasilitator telah memberikan materi-materi yang sangat bagus, dan saya kedepannya akan terus menekuni usaha jasa pemasangan plafon rumah. Dari hasil jasa pemasangan plafon tersebut saya akan sisipkan dalam bentuk tabungan dan berinvestasi. Saya juga akan gunakan materi-materi yang saya dapatkan selama lima hari tersebut dengan baik. Terima kasih kepada lembaga SID yang telah mengadakan kegiatan-kegiatan seperti ini dan kedepannya semoga terus memberdayakan orang-orang muda, agar orang-orang muda yang menjadi tulang punggung bangsa ini boleh menjadi orang-orang muda yang terus berinovasi, terus maju dan terus melakukan perubahan-perubahan yang signifikan.” Tentang program ini, ChildFund International in Indonesia melalui SID sedang mengembangkan program pengembangan Life Skill dan Wirausaha bagi orang muda di 18 Desa Dampingan yang tersebar di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Timur. Program ini bertujuan untuk mempersiapkan para anak muda pada rentang usia 18 hingga 24 tahun untuk masuk dalam dunia kerja.

Life Skill Sebagai Bekal Orang Muda Menapaki Dunia Kerja Read More »

Tujuh Orang Muda SID Berlatih Ketrampilan Teknis Otomotif

SID bekerjasama dengan Balai Latihan Kerja Don Bosco, Kabupaten Sumba Barat Daya, melatih tujuh orang muda yang berasal dari desa dampingan SID agar memiliki ketrampilan teknis di bidang otomotif. Selama dua bulan mereka akan dibimbing secara teknis oleh para pelatih di BLK, kemudian mereka akan masuk dalam proses magang kerja selama dua bulan. BLK Don Bosko dan SID juga mendorong peran orang tua dalam mendukung program pelatihan ini. Hal tersebut dilakukan pada hari pertama pelaksanaan pelatihan serta pengenalan lembaga yang dihadiri oleh orang tua dan anak-anak peserta pelatihan. Selain pelatihan teknis otomotif, SID juga membekali peserta pelatihan dengan ketrampilan kecakapan hidup dan kesiapan kerja (soft skill). Program kecakapan hidup, kesiapan kerja dan wirausaha bagi orang muda ini dikembangkan oleh SID bekerjasama dengan ChildFund International in Indonesia.

Tujuh Orang Muda SID Berlatih Ketrampilan Teknis Otomotif Read More »

Kajian Risiko Bencana Secara Partisiatif Oleh Anak-Anak

Pandemi Covid-19, Badai Siklon Tropis “Seroja” serta Gempa Bumi adalah tiga jenis bencana yang dampaknya sangat dirasakan oleh anak-anak. Hal tersebut terungkap saat dilakukan kajian risiko bencana secara partisipatif bersama 25 anak di Desa Patawang dan 25 anak di Desa Matawai Atu, Kabupaten Sumba Timur. Mereka mengatakan bahwa ketiga bencana tersebut sangat jelas teringat dalam benak mereka hingga saat ini. Mereka dapat menceritakan dengan baik apa saja faktor-faktor perusak dari setiap ancaman, tanda-tanda yang menyertainya, serta respons yang dilakukan saat bencana tersebut terjadi. Anak-anak peserta diskusi juga dapat menganalisa dan menjelaskan dengan baik mana saja ancaman yang bisa dihilangkan, dihindari atau dimitigasi (H2M). Terungkap juga melalui kajian yang dilakukan bahwa informasi terkait bencana yang diperoleh anak-anak di desa masih sangat minim. Kajian risiko bencana ini difasilitasi oleh anak muda anggota Forum Orang Muda desa patawang dan Matawai Atu yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan yang dilaksanakan oleh SID. Kegiatan ini merupakan bagian dari program penguatan kapasitas masyarakat yang melibatkan anak-anak sebagai salah satu kelompok rentan dalam bidang pengurangan risiko bencana yang sedang dikembangkan oleh SID bekerjasama dengan ChildFund International in Indonesia.

Kajian Risiko Bencana Secara Partisiatif Oleh Anak-Anak Read More »

SID Latih Kelompok Perempuan Tentang Teknis Wirausaha

Para peserta yang mayoritas adalah kaum perempuan belajar dan melakukan praktik teknis wirausaha, mulai dari visioning, canvassing, manejemen keuangan, hingga strategi pemasaran. Selama lima hari mereka dibimbing oleh trainers dari SID untuk merancang perencanaan usaha serta strategi pemasaran dari produk yang mereka miliki. IOM, melalui SID sedang mengembangkan program reintegrasi berbasis masyarakat untuk mendukung 20 orang terpilih dari Desa Bukambero dan Desa Wee Wella, Kabupaten Sumba Barat Daya agar menjadi agen perubahan dalam mencegah TIP/TPPO. Ibu Kristina warga desa Wee Wella, Sumba Barat Daya adalah pemilik usaha kios yang disupport oleh SID dan IOM, melalui program Reintegrasi Berbasis Masyarakat (CBR). Menurutnya, ia memperoleh lima manfaat utama ketika bergabung dalam program CBR yakni, Pengetahuan teknis wirausaha yang mencakup teknik pemilihan usaha potensial, perencanaan usaha/BMC, dan strategi pemasaran,  Manajemen keuangan keluarga dan keuangan usaha, Pendampingan berkelanjutan,  Provisional in-kind Support, dan cara untuk menjadi agen perubahan untuk pencegahan TPPO dan PMI non prosedural.

SID Latih Kelompok Perempuan Tentang Teknis Wirausaha Read More »