Sumba Integrated Development

sidsumba

Kerjasama untuk Kesejahteraan: Proklim Tundung Mahamu Menggandeng Pihak Swasta untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat yang Berkelanjutan

Oleh : Victor Maru (SID, Sumba Timur, NTT) Di tengah tantangan perubahan iklim dan lahan kering yang membatasi produksi pertanian, masyarakat Desa Tandula Jangga, Kecamatan Nggaha Ori Angu, Sumba Timur, menunjukkan bahwa kerja sama dan kemitraan bisa membuka jalan menuju kesejahteraan. Melalui ProKlim Tundung Mahamu, kelompok ini tidak hanya bergerak dalam adaptasi dan mitigasi iklim, tetapi juga berhasil menjalin kolaborasi dengan pihak swasta untuk mengembangkan hortikultura organik. Kelompok ProKlim ini merupakan dampingan dari Konsorsium Sumba Integrated Development (SID) yang didukung oleh World Neighbors serta bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK-RI). Dukungan yang hadir menjadi energi baru bagi para petani, sekaligus bukti nyata bahwa keberlanjutan hanya bisa terwujud melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha. Desa Tandula Jangga terletak di wilayah timur Kecamatan Nggaha Ori Angu. Kelompok masyarakatnya, yang rata-rata bermata pencaharian sebagai petani, memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi pertanian dan pendapatan rumah tangga melalui pengelolaan pertanian yang lebih efektif. Umbu Ananau menceritakan realitas kehidupan masyarakat bahwa mereka sudah terbiasa menerima bantuan benih dan bibit dari pemerintah desa maupun Dinas Pertanian. Salah satu tokoh muda tersebut adalah Umbu Ananau, seorang aparat desa yang sejak tahun 2021 ditugaskan sebagai Kepala Urusan Umum di Desa Tandula Jangga, sekaligus terlibat aktif dalam Kelompok ProKlim Tundung Mahamu sebagai bendahara kelompok. Melihat potensi lahan pertanian, Umbu Ananau memiliki ide untuk mengolah lahan kering menjadi lahan produktif bagi pengembangan hortikultura, dengan memanfaatkan pupuk organik yang telah ia pelajari melalui pelatihan SID dengan dukungan WN yang bekerjasama dengan KLHK-RI. Ia juga memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan usaha pertanian yang berkelanjutan. Desa Tandula Jangga merupakan salah satu desa dampingan yang mengembangkan Program Kampung Iklim melalui Kelompok Tundung Mahamu. ProKlim ini dibentuk pada tanggal 9 Januari 2023 dengan jumlah anggota 30 orang (17 laki-laki dan 13 perempuan). Berbagai kegiatan adaptasi perubahan iklim telah dilakukan kelompok ini, antara lain pembangunan lubang penampung air hujan oleh 30 rumah tangga; pembuatan lubang biopori; terasering; dan pembatas jalur rambat api. Selain itu, sebanyak 30 petani telah mengembangkan tanaman pangan lokal seperti jagung lamuru, keladi, dan ubi kayu pada lahan seluas 1 hektare. Sebanyak lima petani juga telah mengembangkan kebun dengan model agrosilvopastoral seluas 1,2 hektare dengan menanam berbagai jenis tanaman umur panjang seperti sengon, gamalina, mahoni, dan lobung. Di kawasan konservasi sumber mata air Laikakak, kelompok ini juga telah menanam sebanyak 1.800 anakan pohon pada area konservasi seluas 1 hektare. Kegiatan mitigasi seperti pembuatan tungku hemat energi telah dilakukan oleh 12 rumah tangga. Pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu telah diterapkan oleh 30 rumah tangga, dan simulasi bencana banjir telah dilaksanakan di tingkat desa maupun kabupaten. Sementara itu, kegiatan kelembagaan Kelompok ProKlim meliputi penyusunan peraturan kelompok, pembentukan struktur organisasi, penyusunan program kerja atau rencana aksi, serta pelaksanaan pertemuan rutin Kelompok Tundung Mahamu. Kelompok ProKlim Tundung Mahamu yang telah mengembangkan kegiatan adaptasi, mitigasi, dan penguatan kelembagaan ini terus membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pengembangan yang dilakukan hingga saat ini belum maksimal sehingga kelompok berupaya mencari dukungan melalui berbagai cara. Salah satu upaya tersebut adalah membangun jejaring dengan sektor swasta, salah satunya PT Istana Karang. Kelompok ProKlim ini mengunjungi PT Istana Karang untuk berbagi cerita mengenai pengembangan sayuran yang telah mereka lakukan dan menyerahkan proposal permohonan dukungan benih hortikultura senilai Rp 5.300.000 bagi 30 anggota kelompok pada lahan seluas 1 hektare. Pihak PT Istana Karang merespons positif proposal tersebut dan bersedia bekerja sama, termasuk membeli seluruh hasil sayuran organik untuk kebutuhan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Program MBG merupakan program pemerintah Indonesia yang menyediakan makan siang bagi anak-anak sekolah. Kelompok menyambut baik kesediaan perusahaan untuk membeli sayuran mereka sehingga mulai mengembangkan sayuran organik seperti buncis, sawi hijau, kacang panjang, terong, tomat, kangkung, wortel, dan bayam. Pengembangan ini dilakukan dengan modal sendiri karena belum ada dukungan permodalan dari perusahaan. Hingga kini, hasil sayuran belum dapat dijual kepada PT Istana Karang karena pelaksanaan program MBG tertunda akibat anggaran dari pemerintah pusat belum dicairkan. Selain Kelompok ProKlim Tundung Mahamu Desa Tandula Jangga, Kelompok ProKlim Kaheri Wangga dari Desa Praipaha juga menjalin kerja sama dengan sektor swasta. Mereka menyerahkan proposal permohonan dukungan benih hortikultura kepada PT Istana Karang senilai Rp 5.300.000 untuk 30 anggota kelompok pada lahan seluas 1 hektare. Hingga saat ini, sayuran dari kedua Kelompok ProKlim tersebut belum dapat dibeli oleh PT Istana Karang karena Program MBG belum terlaksana di Sumba Timur. Menjadi pengurus ProKlim bukan sekadar mengajak warga melakukan kegiatan pelestarian lingkungan. Kesuksesan program ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Umbu Ananau memiliki motivasi yang kuat: “Bangunlah relasi yang kuat dengan berbagai pihak, maka kesuksesan akan mengikutinya.” Ia melanjutkan, “Saya sangat bersyukur telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Saya banyak belajar dari proses yang difasilitasi oleh SID, yang mendorong kami untuk membangun relasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta. Saya percaya, keberhasilan dapat diraih ketika ada niat tulus untuk mengabdi kepada masyarakat dan alam.” Sudah saatnya kita semua peduli terhadap pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan dan berkeadilan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. ProKlim Tundung Mahamu mengusung semangat bahwa perubahan iklim bukan untuk dikeluhkan, melainkan dihadapi dengan kerja nyata, kolaborasi kuat, dan semangat yang tidak pernah padam.

Kerjasama untuk Kesejahteraan: Proklim Tundung Mahamu Menggandeng Pihak Swasta untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat yang Berkelanjutan Read More »

Keberhasilan ProKlim Kambuhapang Meraih Nominasi Utama

Oleh : Ferdinan Umbu Bala Landumata (SID, Sumba Timur, NTT) Di Dusun Kambuhapang, perubahan iklim yang ekstrem dan kebiasaan pembakaran lahan telah lama menjadi ancaman bagi pertanian dan kehidupan masyarakat. Namun berkat kepemimpinan Bapak Missa, pendampingan dari Sumba Integrated Development (SID) dukungan dari World Neighbors (WN) yang bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI), warga mulai mengubah kebiasaan, menerapkan tungku hemat energi, mengelola sampah, dan mengadopsi model kebun agrosilvopastoral. Inisiatif ini tidak hanya memulihkan lahan kritis dan meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif untuk menjaga alam. Hasilnya, Kambuhapang kini menjadi contoh Kampung Iklim Utama, membuktikan bahwa perubahan nyata dimulai dari kepedulian satu individu yang menjalar menjadi semangat seluruh komunitas. Kalau dulu kita datang ke Kambuhapang saat kemarau, yang pertama menyambut bukan nyanyian burung atau aroma bunga, tetapi bau asap yang menusuk hidung. Sawah-sawah tidak lagi tampak luas membentang, melainkan hamparan hitam gosong bekas kebakaran jerami padi dan kebakaran lahan. Angin Timur yang biasanya membawa kesejukan justru menjadi pembawa mara bahaya. Sekali api menyala, angin ini membuatnya berlari kencang, tidak hanya membakar jerami padi, tetapi juga melalap kebun, padang, bahkan pagar rumah dalam waktu singkat. Warga sudah terlalu sering melihat itu. Seperti yang diungkapkan salah satu anggota kelompok, Bapak Kornelis Katanga Hay, “Memang begini kalau musim panas di sini,” seakan pasrah menerima keadaan. Tetapi jauh di dalam hati, tidak ada yang sungguh-sungguh ingin tanahnya terus terbakar. Semua orang tahu, kebakaran membawa kerugian, tetapi tidak banyak yang tahu harus mulai dari mana untuk menghentikannya, selain dengan memadamkan menggunakan alat seadanya. Di tengah rasa pasrah itu, ada seorang tokoh masyarakat yang tak mau menyerah, namanya Bapak Missa. Beliau wakil ketua ProKlim di desa ini, tetapi bagi warga, dia lebih seperti saudara tua yang selalu siaga ketika alam butuh dijaga. Ucapannya sederhana namun mengena, “Tanah ini Tuhan kasi untuk kita jaga. Kalau kita yang rusak, nanti anak cucu mau tinggal di mana?” Kata-kata itu sering ia ulang di balai desa, di kebun, atau saat minum kopi pagi bersama tetangga. Bapak Missa bukan hanya pandai bicara, tetapi juga menjadi teladan melalui praktik-praktik nyata bagi masyarakat. Saat api mulai menyala di padang, dia yang pertama bangun. Tak peduli siang terik atau malam gelap, ia akan memanggil warga, membawa cangkul, ranting basah, bahkan alat semprot hama tanaman untuk memadamkan api. Pernah suatu malam, api hampir masuk ke kebun jagung warga. Tanpa pikir panjang, Bapak Missa memimpin warga membuat jalur pengaman. Warga ikut turun tangan, dan malam itu kebun terselamatkan. Ketika SID dengan dukungan WN yang bekerja sama dengan KLHK RI berkomitmen memberikan pendampingan kepada masyarakat, Bapak Missa melihat kesempatan untuk mengubah kebiasaan. Ia mengumpulkan warga di balai desa dan berkata, “Kalau kita mau lahan dan padang kita aman, kita harus ubah cara kita urus tanah.” Dari situlah lahir berbagai inisiatif yang perlahan mengubah wajah Kambuhapang. Ada sebanyak 10 rumah tangga yang telah mulai membangun tungku hemat energi. Dengan tungku ini, kayu bakar lebih awet dan dapur tidak lagi penuh asap. Ibu-ibu tersenyum karena masakan cepat matang tanpa membuat mata pedih. Sewaktu masih memakai tungku tradisional, mereka bisa menghabiskan kayu bakar 15–20 batang per hari, namun sekarang hanya membutuhkan 4–6 batang per hari. Sampah pun mulai dipilah oleh 20 rumah tangga anggota ProKlim. Botol dan plastik dikumpulkan untuk dijual atau digunakan sebagai pot tanaman hias dan sayuran, sedangkan sisa makanan dijadikan pupuk di kebun. Halaman rumah menjadi lebih rapi, anak-anak bisa bermain tanpa takut menginjak pecahan kaca atau plastik tajam. Lahan-lahan mulai ditata ulang. Ada tanah untuk jagung, ubi, dan sayur; ada lahan khusus untuk pohon pelindung; dan ada padang rumput untuk pakan ternak. Meski pada awal intervensi dan pendampingan oleh lembaga SID dengan dukungan World Neighbors yang bekerja sama dengan KLHK RI telah diperkenalkan istilah agrosilvopastoral, warga menganggapnya sulit, baik untuk diucapkan maupun dilaksanakan. Namun lain halnya dengan Bapak Missa. Sambil tertawa ia berkata, “Artinya gampang, tani, hutan, dan ternak bisa hidup rukun dalam satu kesatuan kebun.” Kemudian Bapak Missa bersama kelompok membuat demplot kebun model agrosilvopastoral agar bisa dijadikan contoh bagi anggota kelompok. Hingga saat ini, ada sekitar lima petani yang telah mengadopsi pengelolaan kebun dengan model agrosilvopastoral seluas 1 hektare. Berbagai jenis tanaman ditanam di kebun, yaitu tanaman pangan (jagung, ubi kayu), tanaman umur panjang (jati putih, mahoni), dan pakan ternak (lamtoro, rumput hijau) untuk menyediakan pakan ternak kuda, kerbau, dan kambing. Perubahan mulai terlihat. Pohon-pohon muda tumbuh tegak, padang menghijau, air hujan meresap ke tanah, dan hewan ternak gemuk karena pakan cukup. Orang kampung mulai percaya, menjaga alam itu bukan hanya pekerjaan, tetapi cara hidup. Pemerintah desa yang melihat keberhasilan ini kemudian membuat Peraturan Desa tentang Tata Guna Lahan. Aturan itu melarang pembakaran sembarangan, mengatur zona tanam, dan melindungi hutan kecil yang masih tersisa. Tidak hanya berhenti pada aturan, pemerintah desa juga mengalokasikan dana untuk mendukung kegiatan ProKlim sebesar Rp 1.500.000 pada periode tahun 2023 sampai tahun 2025. Anggaran dana desa itu direalisasikan untuk pembibitan pohon, perbaikan tungku hemat energi, dan pelatihan tentang pembuatan pupuk kompos serta pupuk cair organik agar warga terus mengembangkan kebiasaan baik ini. Tahun 2025, Kementerian Lingkungan Hidup melakukan penilaian pengembangan Kampung Iklim. Mereka menyediakan sejumlah pertanyaan melalui formulir penilaian ProKlim, di mana kelompok bersama SID dengan dukungan dari DLH menginput data capaian dan manfaat terkait adaptasi, mitigasi, dan kelembagaan berkelanjutan sesuai dengan kondisi dusun dan desa. Ketika hasilnya keluar, seluruh desa bersorak: Kambuhapang resmi masuk nominasi kategori Kampung Iklim Utama, sebuah pengakuan nasional untuk kerja keras bersama. Di balik keberhasilan tersebut, ada satu lagi ProKlim dari Desa Ndapayami yang juga masuk nominasi kategori ProKlim Utama. Keberhasilan ini berkat peran seorang penggerak yang biasa dipanggil Bapak Wunu Hiwal. Capaian kegiatan yang cukup menonjol dari ProKlim ini antara lain konservasi kawasan mata air. Selain pencapaian nominasi Level Utama oleh dua kelompok ProKlim, masih ada tiga kelompok ProKlim yang sedang berjuang menuju Level Utama (saat ini berada di Level Madya), di antaranya ProKlim Kahaungu Eti Desa Matawai Pawali, ProKlim Tundung Mahamu Desa Tandula Jangga, dan ProKlim Kaheri Wangga Desa Praipaha. Hal ini bukan tanpa sebab, dan bukan pula karena kurangnya semangat masyarakat, tetapi lebih kepada

Keberhasilan ProKlim Kambuhapang Meraih Nominasi Utama Read More »

“Subur Bio Sluri” Perubahan Luar Biasa dari Tangan Seorang Petani Biasa

Oleh : Ferdinan Umbu Bala Landumata (SID, Sumba Timur, NTT) Di desa kecil Kambuhapang, Kabupaten Sumba Timur, seorang petani biasa bernama Bernadus Missa membuktikan bahwa kreativitas, ketekunan, dan kepedulian terhadap lingkungan bisa mengubah hidup dan komunitasnya. Berawal dari keprihatinan atas tanah yang menurun kesuburannya, ia menciptakan pupuk organik cair sederhana bernama Subur Bio Sluri, yang bukan hanya meningkatkan kesuburan tanah dan hasil panen, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, memberdayakan perempuan, dan menyebarkan praktik pertanian ramah lingkungan ke desa-desa sekitar. Inisiatif bisnis ini berkembang berkat pendampingan intensif dari Sumba Integrated Development (SID) yang didukung World Neighbors (WN), yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI). Kisah ini menunjukkan bagaimana inovasi lokal, didukung pendampingan strategis, mampu menghadirkan perubahan nyata bagi petani dan masyarakat di sekitarnya. Musim hujan yang tak menentu dan kesuburan tanah yang sudah sangat berkurang membuat banyak petani di Desa Kambuhapang mengalami gagal panen. Tanaman menjadi mudah layu, terserang hama, dan kesuburan tanah menurun drastis. Seperti petani lainnya, Bapak Missa mengalami keresahan yang sama. Tapi, alih-alih menyerah, ia bertanya dalam  hatinya, “Apakah saya bisa melakukan sesuatu untuk mengubah ini?” Melihat limbah dapur, kotoran hewan, dan tanaman liar di sekelilingnya yang tak termanfaatkan, muncullah ide mengolah bahan-bahan alami menjadi pupuk organik cair (POC). Dengan alat sederhana seperti tong bekas sebagai wadah dan tempat fermentasi, lahirlah racikan pertamanya. Usaha yang dilandasi oleh hobi dan kepedulian terhadap alam, khususnya pembuatan POC ini, sebenarnya sudah mulai dirintis sejak tahun 2018. Pada tahap awal, ramuan POC dibuat secara mandiri oleh Bapak Missa dengan bahan-bahan lokal yang mudah didapat seperti bumbu-bumbu dapur, urin ternak, dan fermentasi menggunakan mikroorganisme lokal (MOL) yang juga dibuat sendiri. Fokus awalnya adalah menciptakan pupuk yang ramah lingkungan dan murah sebagai alternatif pengganti pupuk kimia. Bapak Missa menamai produknya “Subur Bio Sluri”, ramuan sederhana dari bumbu dapur, kotoran ternak, air cucian beras, sisa sayuran, dan mikroorganisme lokal. Pupuk ini membantu mempertahankan kesuburan dan kelembaban tanah serta memperkuat ketahanan tanaman dari serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang muncul akibat perubahan iklim. Produk ini ia kemas dengan botol bekas air mineral dan jerigen minyak goreng. Harga dibuat terjangkau oleh petani, yaitu Rp10.000 untuk 1 liter dan Rp50.000 untuk 5 liter. Melihat hasil yang baik, banyak petani di sekitarnya tertarik mencoba menggunakannya. Sayangnya, usaha ini hanya berjalan terbatas karena tidak ada modal untuk produksi dalam skala lebih besar. Sumba Integrated Development (SID), yang mendapat dukungan WN dan bekerja sama dengan KLHK RI, hadir dan mendampingi ibu-ibu untuk membentuk Kelompok Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP), hal itu disambut baik oleh Rut Tamu Ina, istri Pak Missa. Kelompok UBSP yang dibentuk pada tanggal 21 September 2023 tersebut diberi nama Watu Otur, beranggotakan 9 orang yang semuanya perempuan, dan hingga saat ini memiliki simpanan sebanyak Rp2.924.000. Ibu Rut Tamu Ina adalah salah satu anggota aktif UBSP yang rajin menabung dan aktif dalam kegiatan UBSP. Melihat keterbatasan modal sang suami, maka Ibu Rut Tamu Ina mengajukan pinjaman UBSP sebesar Rp1.500.000 atas namanya sendiri untuk mendukung pengembangan usaha pupuk cair suaminya. Dengan tambahan modal ini, Bapak Missa bisa mengembangkan usahanya sehingga secara kuantitas produksi meningkat dari 30 liter/bulan menjadi 300 liter/bulan; produksi pupuknya diberi merek dengan nama “Subur Bio Sluri”; pemasaran pupuknya sampai ke luar desa; produk dijual dengan harga Rp10.000 per kemasan 1 liter dan Rp50.000 per kemasan 5 liter; omzet mencapai Rp4.000.000–5.000.000 per bulan dengan keuntungan rata-rata Rp1.500.000–2.000.000 per bulan.    Sejak awal pendampingan oleh Sumba Integrated Development (SID), mitra World Neighbors di Sumba Timur ini sudah melihat potensi besar dalam langkah Bapak Missa. Ia diikutsertakan dalam pelatihan pembuatan pupuk cair dan pestisida nabati berbasis limbah organik lokal. Dari sinilah ilmunya semakin dalam, jejaringnya makin luas, dan semangatnya kian besar. Tidak hanya dalam hal produksi, Bapak Missa juga dilibatkan untuk mengedukasi sesama petani. Dengan caranya sendiri, ia mengetuk pintu rumah tetangga, mendatangi kelompok tani, dan memperkenalkan “Subur Bio Sluri” yang kini menyebar di kalangan petani di wilayah Sumba Timur. Para petani mulai merasakan manfaatnya: tanaman lebih kuat menghadapi kekeringan dan serangan hama. Selain itu, dengan diwajibkannya penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati dalam penerapan pertanian konservasi, pengembangan tanaman pangan lokal, dan budidaya sayuran, penggunaan pupuk organik cair dan pestisida nabati semakin banyak diminati. Kini, lebih dari 50 petani di desanya menggunakan pupuk racikannya, bahkan permintaan datang dari desa dan kabupaten tetangga seperti Sumba Tengah dan Sumba Barat. Produksinya kini mencapai 300 liter per bulan dan berpotensi terus meningkat. Bersama SID, Bapak Missa menggelar demonstrasi cara pembuatan dan penggunaan POC di kelompok tani sekitarnya. SID juga memfasilitasi Bapak Missa dalam pemasaran produk POC-nya, baik secara luring maupun daring melalui WhatsApp dan Facebook (akun Facebook: Bernadus Missa, kontak person 082147430194). Hal inilah yang mengangkatnya sebagai duta lokal inovasi pertanian adaptif, sebuah pengakuan atas dedikasi dan pengaruh positif yang telah ia tebarkan. Beliau sering diajak SID untuk memfasilitasi pelatihan pertanian ramah lingkungan di desa-desa lainnya. Ia membagikan pengetahuannya tentang pembuatan pupuk dan pestisida kepada para petani dan mengajak mereka bertani dengan prinsip pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan. Peran SID bukan hanya sebagai fasilitator teknis, tetapi juga sebagai pendamping strategis dalam transformasi usaha kecil. Melalui pendekatan holistik dari pelatihan, legalitas, hingga pemasaran, SID membantu mewujudkan bisnis lokal yang berdampak besar dan berkelanjutan. Dengan adanya intervensi dari program SID atas dukungan WN yang bekerja sama dengan KLHK RI, terjadi sejumlah kemajuan penting dalam usaha Bio Sluri Bapak Missa. Dalam pendampingan, SID juga memperkenalkan beberapa bahan baru yang memperkaya komposisi POC, seperti ekstrak beberapa jenis tanaman untuk pestisida nabati (pesnab) yang berfungsi sebagai pengendali hama dan penyakit tanaman. Selain itu, proses fermentasi juga diperbaiki agar menghasilkan POC yang lebih berkualitas dan tahan lama. Dengan demikian, POC yang awalnya hanya berfungsi sebagai pupuk, sekarang menjadi produk multiguna yang semakin efektif dan efisien digunakan oleh para petani. Dengan keberhasilan tersebut, Bapak Missa mengungkapkan kebanggaannya: “Saya tidak pernah menyangka bahwa usaha kecil seperti ini bisa tumbuh sejauh ini. Bukan cuma soal bisnis, tapi juga soal kepercayaan diri dan dampak bagi lingkungan. Sekarang saya merasa lebih percaya diri menyampaikan manfaat pertanian organik kepada masyarakat luas. Ini semua juga bisa terjadi karena pendampingan program

“Subur Bio Sluri” Perubahan Luar Biasa dari Tangan Seorang Petani Biasa Read More »

Wirausaha Agrosilvopastoral Harapan Baru Bagi Anak Muda

Di Desa Mbatakapidu, Sumba Timur, sebuah perubahan nyata sedang tumbuh di tengah masyarakat melalui inisiatif Agrosilvopastoral yang dijalankan oleh Lembaga SID dan ChildFund Intenasional di Indonesia. Program ini bukan sekadar proyek pertanian atau peternakan biasa, ini merupakan harapan baru bagi pemuda putus sekolah yang ingin membangun masa depan dari potensi desa mereka sendiri. Lima anak muda terpilih yang sebelumnya tidak melanjutkan pendidikan, kini aktif terlibat dalam usaha kolektif mengelola peternakan kambing yang terintegrasi dengan kebun pangan, tanaman kayu, dan hortikultura. Di atas lahan seluas 0,5 hektare, mereka belajar membangun kandang, menanam pakan ternak, merawat 50 ekor kambing, dan menanam ratusan pohon tanaman umur panjang. Tidak hanya itu, energi surya dan air bersih kini tersedia di lokasi menunjukkan bahwa pembangunan desa bisa ramah lingkungan dan berkelanjutan.   Antusiasme tak hanya datang dari para peserta, tetapi juga dari masyarakat luas. Sosialisasi program yang digelar menarik perhatian puluhan warga, terutama kelompok perempuan desa yang menunjukkan ketertarikan tinggi untuk ikut serta. Pelatihan-pelatihan yang dilakukan, mulai dari kesehatan ternak hingga pembuatan pupuk bokashi, menjadi ruang belajar baru yang memperkuat keterampilan, kebersamaan, dan kesadaran akan pentingnya mengelola sumber daya lokal secara bijak. Meski dihadapkan pada berbagai tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, keterampilan individu, tetapi semangat gotong royong dan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan. Pemagaran lahan dengan pagar hidup dari pohon gamal, sistem monitoring ternak yang dikembangkan sendiri, hingga kolaborasi dengan tokoh masyarakat dan pemerintah desa, menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah dengan cara yang sederhana, namun berdampak besar.   Program Agrosilvopastoral ini adalah bukti bahwa dengan pendekatan yang tepat, pemuda desa tidak hanya bisa menjadi penerima manfaat, tapi juga agen perubahan yang menanam benih masa depan di tanah mereka sendiri, dengan tangan mereka sendiri. Semoga semangat ini menjalar ke desa-desa lain, menginspirasi anak muda lainnya, membangkitkan harapan baru dari akar rumput, untuk Indonesia yang lebih mandiri dan berdaya.

Wirausaha Agrosilvopastoral Harapan Baru Bagi Anak Muda Read More »

Agrosilvopastoral, Pertanian Terintegrasi Bagi Anak Muda Putus Sekolah

Di Sumba Timur, tidak sedikit anak muda yang terpaksa harus putus sekolah karena berbagai hambatan sosial dan ekonomi. Namun, keterbatasan itu tidak memadamkan semangat mereka untuk bertahan dan terus berjuang menjalani hidup. Menyikapi tantangan ini, SID bekerja sama dengan ChildFund International in Indonesia memfasilitasi program kewirausahaan sosial berbasis pertanian terintegrasi bagi anak-anak muda putus sekolah. Salah satu inisiatif utama kami adalah pengembangan program peternakan kambing berbasis kelompok anak muda di Desa Mbatakapidu. Program ini melibatkan lima anak muda, dengan prioritas pada mereka yang telah putus sekolah, sebagai model pemberdayaan ekonomi yang terintegrasi dengan edukasi kewirausahaan. Melalui program ini, kami bertujuan: • Menciptakan peluang usaha yang berkelanjutan, • Meningkatkan kapasitas kewirausahaan anak muda, • Mendorong kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. Kami mengusung pendekatan agrosilvopastoral, yakni sistem pertanian terintegrasi yang menggabungkan pertanian, kehutanan, dan peternakan secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya memberikan keterampilan dan penghasilan bagi anak muda, tetapi juga melibatkan mereka secara aktif dalam aksi iklim dan pelestarian lingkungan.

Agrosilvopastoral, Pertanian Terintegrasi Bagi Anak Muda Putus Sekolah Read More »

Ekohumanisme Generasi Z

“Kita tanam pohon sekarang, jangan harap hasil saat ini, tapi ini untuk menjaga sumber air bagi masa depan anak cucu kita.” Ucapan ini terdengar sayup di antara bunyi mesin pelubang tanah dan hantaman linggis pada bukit cadas di Desa Praihamboli, Sumba Timur. Sekelompok anak muda terlihat sedang menggali lubang untuk menanam pohon di dekat sumber mata air kecil di desa mereka. Aksi ini merupakan bagian dari upaya menjaga kelestarian sumber air desa yang jumlahnya sangat terbatas. Penanaman pohon ini adalah salah satu inisiatif yang dirancang oleh anggota karang taruna sebagai langkah adaptasi dan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim. Semakin meningkatnya suhu bumi, yang berpengaruh signifikan terhadap menurunnya ketersediaan air bersih termasuk di wilayah Sumba Timur, telah memotivasi mereka untuk bertindak. Agar bibit pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, mereka menerapkan teknik irigasi tetes sederhana. Teknik ini menggunakan botol bekas air mineral yang ditanam di sekitar pohon, dilubangi untuk mengalirkan air secara perlahan. Volume air yang keluar diatur melalui pengencangan tutup botol. Kegiatan ini didukung oleh SID dan ChildFund International in Indonesia melalui program Youth Agency, yang bertujuan mendorong peran aktif anak muda dalam menghadapi isu perubahan iklim.

Ekohumanisme Generasi Z Read More »

Pengurus PATBM Ikuti Pelatihan Pengembangan Mekanisme Pelaporan Dan Rujukan

Pengurus Kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dari tiga desa, yaitu Mbatakapidu, Tandula Jangga, dan Ndapayami, baru saja mengikuti pelatihan penting tentang pengembangan mekanisme pelaporan dan rujukan isu perlindungan anak. Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem perlindungan anak di tingkat komunitas. Mama Ayu, Ketua PATBM Desa Mbatakapidu, mengungkapkan rasa antusiasnya terhadap pelatihan ini. Ia menyebut pengalaman kali ini sangat berbeda dari pelatihan sebelumnya. “Pelatihan kali ini sangat jelas menerangkan langkah-langkah yang harus dilakukan. Kami jadi lebih paham bagaimana mendampingi anak korban kekerasan dengan benar,” ujarnya. Pelatihan ini difasilitasi oleh SID bekerja sama dengan ChildFund International in Indonesia, yang sementara memfasilitasi pembentukan kelompok PATBM di berbagai desa dampingan. Dalam pelatihan ini, peserta diberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menangani laporan kasus kekerasan anak, membuat rujukan yang tepat, mendampingi proses hukum dan pemulihan korban, hingga memastikan pemantauan serta evaluasi yang berkesinambungan. Selain itu, pelatih yang terdiri dari dua staf SID juga membagikan pengetahuan tentang dasar-dasar perlindungan anak dan konsep kesetaraan gender. Kegiatan ini diharapkan dapat memberdayakan pengurus PATBM agar lebih siap menghadapi tantangan perlindungan anak, sekaligus memperkuat sistem perlindungan di tingkat komunitas. Dengan pendekatan yang komprehensif, setiap anak di desa dampingan diharapkan dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman dan mendukung.

Pengurus PATBM Ikuti Pelatihan Pengembangan Mekanisme Pelaporan Dan Rujukan Read More »

Peran Anak Muda Dalam Pengurangan Risiko Bencana

“Saya sangat gembira karena para pemuda di desa ini dilibatkan dalam penilaian ketangguhan desa.” ujar Wati dengan sangat antusias. Ia merupakan salah satu peserta yang mengikuti pelatihan Penilaian Ketangguhan Desa (PKD). Aula kantor Desa Praihamboli menjadi tempat berlangsungnya pelatihan PKD yang diikuti oleh lima anggota pemerintah desa dan tiga puluh anggota karang taruna. Dalam kegiatan yang dilaksanakan selama hari tersebut, para peserta mendapat penjelasan teknis mengenai PKD, pengumpulan data, serta cara input data ke dalam sistem Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Mereka juga langsung diterjunkan untuk melakukan pengumpulan data lapangan di wilayah desa Praihamboli. Kepala Desa Praihamboli, Maria Kalita Mboru, mengapresiasi pelatihan ini. Menurutnya, kegiatan ini sangat baik karena membantu pemerintah desa memahami proses PKD, khususnya komponen-komponen yang dibutuhkan untuk memperkuat ketangguhan desa dalam menghadapi bencana. Pada kesempatan ini, peserta sepakat mengembangkan rencana aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim seperti pembuatan perangkap air hujan, penanaman tanaman umur panjang, pemagaran, dan lainnya. Desa Praihamboli merupakan salah satu desa yang ditargetkan akan menjadi  desa tangguh bencana (Destana) kategori tangguh utama. Untuk mencapai target tersebut, Pemerintah desa akan bekerjasama dengan pemerintah kabupaten, pihak swasta, dan masyarakat desa untuk menjawab indikator-indikator yang dipersyaratkan dalam PKD. Tentang Program Ini, SID dan ChildFund International in Indonesia mendukung keterlibatan orang muda dalam proses pembangunan desa, antara lain melalui aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk pengurangan risiko bencana, pembentukan desa tangguh bencana, dan advokasi kebijakan publik.

Peran Anak Muda Dalam Pengurangan Risiko Bencana Read More »

MATA RAMMU, Membangun Anak usia Dini Tangguh melalui Rancang Ajar, Manajemen Bermutu, dan Pengelolaan Sumber Daya

Penyelenggaraan layanan Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkualitas di daerah-daerah tertinggal memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk generasi berkualitas di masa depan. Anak usia dini, terutama pada usia 0–6 tahun, berada dalam fase perkembangan emas yang berperan besar dalam membentuk kecerdasan, karakter, serta kemampuan sosial mereka di masa mendatang. Apabila layanan PAUD berkualitas diberikan sejak dini, anak-anak di daerah tertinggal akan memiliki peluang yang lebih baik untuk mengembangkan potensi secara maksimal, sehingga mampu mengatasi keterbatasan lingkungan serta kesenjangan akses terhadap pendidikan. Dr. Maria Montessori, seorang pelopor pendidikan anak usia dini, berpendapat bahwa anak-anak pada usia dini memiliki apa yang disebut sebagai “pikiran menyerap” atau absorbent mind. Pada tahap ini, mereka menyerap informasi dari lingkungan sekitar secara cepat dan alami. Oleh karena itu, lingkungan yang aman, mendukung, dan kaya stimulasi menjadi sangat penting bagi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial mereka. Fasilitas PAUD yang berkualitas, tenaga pengajar yang terlatih, serta program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak dapat mewujudkan lingkungan yang demikian. Di daerah-daerah tertinggal, akses terhadap layanan PAUD yang berkualitas seringkali terkendala oleh terbatasnya infrastruktur, kurangnya tenaga pengajar, dan minimnya sumber daya. Namun, jika upaya bersama dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk memperkuat layanan PAUD dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang relevan, dampaknya akan sangat signifikan dalam mengurangi kesenjangan pendidikan. Sebagai bentuk dukungan, SID bekerja sama dengan Yayasan William & Lily serta Adaro Foundation untuk membantu pemerintah daerah Kabupaten Sumba Barat Daya dalam meningkatkan kualitas layanan PAUD. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat 15 PAUD dan 8 Posyandu sebagai model penerapan kurikulum 2013 atau kurikulum Merdeka, serta penyelenggaraan pengasuhan yang baik di kedua institusi tersebut. Program yang direncanakan selama 14 bulan ini diluncurkan pada tanggal 24 Oktober 2024, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan pengembangan anak usia dini di Kabupaten Sumba Barat Daya. Kolaborasi yang solid menjadi salah satu komitmen yang disepakati oleh para peserta untuk mewujudkan impian bersama, yaitu menghasilkan generasi emas Kabupaten Sumba Barat Daya yang sehat, cerdas, ceria, terlindungi dan berakhlak mulia.

MATA RAMMU, Membangun Anak usia Dini Tangguh melalui Rancang Ajar, Manajemen Bermutu, dan Pengelolaan Sumber Daya Read More »

Kesehatan Generasi Muda Melalui Program Kesehatan Remaja Berbasis Sekolah

SID bersama Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Sumba Timur, melaksanakan sosialisasi program kesehatan remaja berbasis sekolah kepada Pendidik dari empat sekolah yang akan menjadi model. Turut hadir, Kepala Dinas PPO dan pengawas pendamping SMAN 1 Nggaha Ori Angu. Mulai tahun 2024, SID dan ChildFund International in Indonesia akan mendukung implementasi program kesehatan remaja berbasis sekolah di wilayah dampingan. Nah, kegiatan sosialisasi ini merupakan langkah awal untuk membangun pemahaman dan komitmen bersama antara SID, Dinas PPO, serta sekolah sasaran program. 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐚𝐩𝐚 𝐩𝐫𝐨𝐠𝐫𝐚𝐦 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐡𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐫𝐞𝐦𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐛𝐚𝐬𝐢𝐬 𝐬𝐞𝐤𝐨𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐭𝐢𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐥𝐚𝐤𝐬𝐚𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧? 𝑷𝒆𝒏𝒄𝒆𝒈𝒂𝒉𝒂𝒏 𝑫𝒊𝒏𝒊. Edukasi kesehatan di sekolah dapat membantu remaja memahami pentingnya pola hidup sehat sejak dini, yang berpotensi mencegah penyakit kronis seperti diabetes, obesitas, dan penyakit jantung di kemudian hari. 𝑷𝒆𝒓𝒌𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑲𝒐𝒈𝒏𝒊𝒕𝒊𝒇 𝒅𝒂𝒏 𝑬𝒎𝒐𝒔𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍. Remaja yang sehat secara fisik dan mental lebih mampu berkonsentrasi dan berprestasi di sekolah, yang berdampak pada kesuksesan akademis dan karir di masa depan. 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒆𝒏𝒕𝒖𝒌𝒂𝒏 𝑲𝒆𝒃𝒊𝒂𝒔𝒂𝒂𝒏 𝑺𝒆𝒖𝒎𝒖𝒓 𝑯𝒊𝒅𝒖𝒑. Masa remaja adalah waktu penting untuk mengembangkan kebiasaan yang akan bertahan seumur hidup. Edukasi kesehatan di sekolah memberikan panduan dan motivasi untuk mengadopsi kebiasaan sehat. 𝑲𝒆𝒔𝒆𝒉𝒂𝒕𝒂𝒏 𝑴𝒆𝒏𝒕𝒂𝒍. Program yang mencakup kesehatan mental dapat membantu remaja mengatasi stres, depresi, dan kecemasan yang sering terjadi selama masa ini, serta mengurangi risiko perilaku berbahaya. 𝐃𝐫. 𝐀𝐧𝐭𝐡𝐨𝐧𝐲 𝐁𝐢𝐠𝐥𝐚𝐧, seorang ahli dalam kesehatan remaja dan psikologi perkembangan, menuturkan: “𝑆𝑐ℎ𝑜𝑜𝑙𝑠 𝑝𝑙𝑎𝑦 𝑎 𝑘𝑒𝑦 𝑟𝑜𝑙𝑒 𝑖𝑛 𝑝𝑟𝑜𝑚𝑜𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑑𝑜𝑙𝑒𝑠𝑐𝑒𝑛𝑡 𝑤𝑒𝑙𝑙-𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔. 𝐵𝑦 𝑎𝑑𝑑𝑟𝑒𝑠𝑠𝑖𝑛𝑔 𝑏𝑜𝑡ℎ 𝑝ℎ𝑦𝑠𝑖𝑐𝑎𝑙 𝑎𝑛𝑑 𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑙 ℎ𝑒𝑎𝑙𝑡ℎ, 𝑠𝑐ℎ𝑜𝑜𝑙-𝑏𝑎𝑠𝑒𝑑 𝑝𝑟𝑜𝑔𝑟𝑎𝑚𝑠 𝑐𝑎𝑛 𝑠𝑖𝑔𝑛𝑖𝑓𝑖𝑐𝑎𝑛𝑡𝑙𝑦 𝑟𝑒𝑑𝑢𝑐𝑒 𝑡ℎ𝑒 𝑟𝑖𝑠𝑘 𝑜𝑓 𝑛𝑒𝑔𝑎𝑡𝑖𝑣𝑒 𝑜𝑢𝑡𝑐𝑜𝑚𝑒𝑠 𝑠𝑢𝑐ℎ 𝑎𝑠 𝑠𝑢𝑏𝑠𝑡𝑎𝑛𝑐𝑒 𝑎𝑏𝑢𝑠𝑒 𝑎𝑛𝑑 𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑙 ℎ𝑒𝑎𝑙𝑡ℎ 𝑑𝑖𝑠𝑜𝑟𝑑𝑒𝑟𝑠.”

Kesehatan Generasi Muda Melalui Program Kesehatan Remaja Berbasis Sekolah Read More »