Sumba Integrated Development

SID Perkuat Kapasitas Kewirausahaan 37 Orang Muda di Mbatakapidu dan Ndapayami

SUMBA TIMUR —  Sumba Integrated Development (SID), dengan dukungan ChildFund International in Indonesia, melaksanakan pelatihan kewirausahaan bagi orang muda di Desa Mbatakapidu dan Desa Ndapayami, Sumba Timur. Kegiatan ini diikuti oleh 20 peserta di Mbatakapidu pada 17–18 September 2026 dan 17 peserta di Ndapayami pada 24–25 September 2026, sehingga secara keseluruhan melibatkan 37 orang muda. Pelatihan dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam membangun serta mengembangkan usaha secara lebih terencana.

Di Mbatakapidu, peserta mempelajari berbagai dasar kewirausahaan, mulai dari menggali ide bisnis dan mengenali peluang usaha, membangun brand, mengidentifikasi modal investasi dan modal kerja, menyusun arus kas, hingga memahami analisis investasi. Peserta juga bekerja dalam kelompok untuk mengembangkan sejumlah gagasan usaha, seperti AG Jaya Farm, Ubi Q, dan Tenun Sumba Desain.

Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan materi akses permodalan dan business plan. Peserta diajak memahami bahwa pengembangan usaha membutuhkan perencanaan yang jelas, termasuk menghitung kebutuhan modal, menentukan sumber pembiayaan, mengelola arus kas, serta mempertimbangkan kemampuan usaha dalam mengembalikan modal.

Peserta juga merasakan manfaat langsung dari materi yang diberikan. Dalam sesi refleksi hari kedua, Angksa mengatakan bahwa materi investasi dan modal kerja membantunya memahami pengelolaan usaha yang sedang dijalankan.

“Saya mulai memahami bahwa modal untuk kegiatan sehari-hari perlu dibedakan dengan investasi untuk pengembangan usaha.”

Sementara itu, Nina mengungkapkan bahwa pelatihan membuatnya lebih memahami bagaimana menghitung keuntungan dan mengelola usaha secara terencana setelah sebelumnya pernah berjualan tanpa pemahaman yang cukup mengenai pengelolaan bisnis.

 

Di Ndapayami, pelatihan dilaksanakan di Kantor Desa Ndapayami dengan 17 peserta yang terbagi dalam tiga kelompok usaha, yaitu Tenun Ikat Cahaya, Wifi Orbit, dan Bawang Merah. Peserta diajak menggali ide bisnis berdasarkan masalah, kebutuhan masyarakat, potensi lokal, serta peluang yang ada di lingkungan sekitar.

Ketiga kelompok kemudian mengembangkan gagasan usaha mereka. Tenun Ikat Cahaya menawarkan tenun pesisir dengan motif custom untuk kebutuhan adat dan wisata. Kelompok Wifi Orbit mengangkat persoalan keterbatasan akses internet di desa, sedangkan kelompok Bawang Merah melihat tingginya kebutuhan dan harga bawang merah sebagai peluang usaha.

Selain penggalian ide dan branding, peserta Ndapayami berlatih menghitung kebutuhan investasi, modal kerja, Harga Pokok Produksi (HPP), harga jual, serta menyusun proyeksi arus kas. Pada tahap akhir, peserta juga menyusun pitch deck dan mempresentasikan rencana bisnis mereka melalui sesi pitching.

Bagi peserta, pendekatan yang digunakan dalam pelatihan membantu menghubungkan materi dengan usaha yang mereka jalankan. Kristo, salah satu peserta Ndapayami, menyampaikan:

“Materi yang dibawakan oleh SID membuat kami mudah mengerti dan lebih mudah menyusun rencana usaha.”

Peserta lainnya, Lia, juga merefleksikan pengalamannya dalam menjalankan usaha keripik.

“Apa yang saya dapatkan dari materi kemarin membuat saya harus menyusun ulang rencana bisnis saya untuk melihat apakah saya mendapatkan keuntungan atau tidak.”

Melalui pelatihan di dua desa tersebut, SID mendorong orang muda untuk melihat kewirausahaan bukan sekadar sebagai aktivitas jual beli, tetapi sebagai proses yang membutuhkan ide, keberanian, perhitungan, pengelolaan keuangan, pemasaran, jejaring, serta evaluasi berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi orang muda untuk mengembangkan usaha berdasarkan potensi dan kebutuhan di lingkungan masing-masing, sekaligus membuka peluang tumbuhnya aktivitas ekonomi dari desa.