
Dari Kemampuan Dasar Menuju Pemahaman Mendalam Berdasarkan Hasil Studi INOVASI 2025.
Kemampuan literasi dan numerasi merupakan fondasi utama bagi kualitas pendidikan suatu bangsa. Anak yang mampu membaca dengan pemahaman yang baik dan menggunakan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari memiliki peluang lebih besar untuk berhasil dalam pendidikan lanjutan, dunia kerja, serta kehidupan sosial. Oleh karena itu, peningkatan literasi dan numerasi menjadi prioritas penting dalam pembangunan pendidikan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di Kabupaten Sumba Timur, upaya peningkatan kualitas literasi dan numerasi telah dilakukan melalui berbagai program pendidikan, salah satunya melalui kemitraan dengan program INOVASI. Studi Baseline INOVASI tahun 2025 memberikan gambaran awal mengenai kondisi kemampuan literasi dan numerasi siswa pada kelas awal sekolah dasar. Studi ini menggunakan pendekatan cross-sectional quantitative dengan melibatkan 15 sekolah dasar yang dipilih secara acak. Responden yang terlibat dalam penelitian ini cukup luas, yaitu 600 siswa kelas 1–4, 60 guru kelas, 15 kepala sekolah, 575 orang tua siswa, serta 2 pengawas pendidikan.
Data ini memberikan gambaran penting tidak hanya mengenai kemampuan belajar siswa, tetapi juga mengenai praktik pembelajaran, lingkungan belajar di sekolah, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan dasar di Sumba Timur.
Kemajuan pada Literasi Dasar
Hasil studi menunjukkan bahwa siswa di Sumba Timur relatif berhasil dalam menguasai literasi dasar, terutama pada kemampuan mengenali huruf, suku kata, dan kata. Kemampuan ini merupakan tahap awal dalam proses belajar membaca yang sangat penting bagi perkembangan literasi anak.
Namun demikian, ketika siswa dihadapkan pada kemampuan membaca yang lebih kompleks, seperti memahami hubungan antar informasi dalam teks, menarik kesimpulan, atau menginterpretasikan makna bacaan, capaian mereka masih relatif rendah. Hal ini terlihat dari proporsi siswa yang rendah pada kategori membaca integrasi dan interpretasi, yaitu kemampuan membaca tingkat tinggi yang melibatkan analisis dan pemahaman mendalam terhadap teks.
Kemampuan membaca pada tingkat ini termasuk dalam kategori Higher Order Thinking Skills (HOTS), yang juga menjadi fokus dalam berbagai asesmen pendidikan seperti Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Programme for International Student Assessment (PISA).
Tantangan Nasional dalam Literasi
Temuan di Sumba Timur sebenarnya mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam sistem pendidikan Indonesia. Data PISA menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional. Dalam PISA 2022, skor membaca Indonesia berada pada kisaran 359 poin, jauh di bawah rata-rata OECD yang berada di atas 480 poin.
Selain itu, Bank Dunia mencatat bahwa sekitar 53% anak usia sekolah dasar di Indonesia mengalami “learning poverty”, yaitu tidak mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia 10 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak siswa memang mampu membaca secara mekanis, tetapi belum memiliki kemampuan memahami isi bacaan secara mendalam.
Fenomena ini juga terlihat di Sumba Timur. Meskipun kemampuan membaca dasar cukup baik, kemampuan memahami teks dan menginterpretasikan informasi masih menjadi tantangan utama bagi siswa.
Pola yang Sama pada Kemampuan Numerasi
Pola yang serupa juga ditemukan pada kemampuan numerasi siswa. Studi baseline menunjukkan bahwa siswa di Sumba Timur relatif berhasil dalam numerasi dasar, seperti mengenal angka dan melakukan operasi matematika sederhana. Namun ketika pembelajaran masuk pada tahap yang lebih kompleks, yaitu memahami konsep matematika dan menerapkannya dalam pemecahan masalah, capaian siswa mengalami penurunan.
Kesulitan ini terlihat pada aspek knowing dan applying, yaitu kemampuan memahami konsep matematika serta menggunakan konsep tersebut dalam situasi praktis. Kemampuan ini juga termasuk dalam kategori HOTS yang menuntut siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi mampu berpikir secara logis dan analitis.
Penelitian pendidikan matematika menunjukkan bahwa kesulitan ini sering terjadi ketika pembelajaran matematika terlalu menekankan prosedur perhitungan tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami konsep secara mendalam.
Praktik Pembelajaran yang Masih Berpusat pada Guru
Salah satu faktor penting yang mempengaruhi rendahnya kemampuan pemahaman siswa adalah praktik pembelajaran di kelas. Studi baseline menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang digunakan oleh guru masih didominasi oleh pendekatan tradisional.
Sebanyak 97% guru menggunakan metode ceramah dan 95% menggunakan diskusi dalam pembelajaran. Sebaliknya, metode yang mendorong eksplorasi dan pengalaman belajar aktif masih jarang digunakan, antara lain:
- Demonstrasi: 37%
- Eksperimen: 28%
- Pembelajaran berbasis proyek: 15%
- Role playing: 23%
- Kunjungan lapangan: 5%
Dominasi metode ceramah menunjukkan bahwa pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher-centered learning). Menurut pakar pendidikan John Hattie, pembelajaran yang efektif terjadi ketika siswa aktif terlibat dalam proses belajar melalui eksplorasi, diskusi mendalam, dan pemecahan masalah. Pembelajaran yang hanya berfokus pada ceramah cenderung menghasilkan hafalan jangka pendek, tetapi tidak selalu menghasilkan pemahaman konseptual yang kuat.
Keterbatasan Akses terhadap Bahan Bacaan
Selain metode pembelajaran, ketersediaan bahan bacaan juga menjadi faktor penting dalam pengembangan literasi siswa. Studi baseline menunjukkan bahwa hanya 28,3% ruang kelas yang memiliki pojok baca.
Ketersediaan buku bacaan juga masih terbatas. Dari sekolah yang disurvei, hanya:
- 58,8% memiliki buku teks atau buku pelajaran.
- 23,5% memiliki buku cerita anak.
- 29,4% memiliki buku bacaan dengan teks panjang.
Penelitian UNESCO menunjukkan bahwa jumlah buku yang tersedia bagi anak merupakan salah satu faktor paling kuat yang mempengaruhi perkembangan literasi. Anak yang memiliki akses terhadap berbagai bahan bacaan cenderung memiliki kosakata yang lebih luas serta kemampuan memahami teks yang lebih baik.
Keterbatasan Media Pembelajaran
Media pembelajaran juga memainkan peran penting dalam membantu siswa memahami konsep. Studi baseline menunjukkan bahwa hanya 77% sekolah memiliki alat bantu literasi dan 60% memiliki alat bantu numerasi.
Jenis alat bantu yang tersedia pun masih terbatas, seperti kartu huruf atau poster kata yang terdapat pada 68% kelas, sementara media pembelajaran lain seperti puzzle literasi atau pajangan karya siswa masih sangat sedikit.
Padahal berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran konkret dapat membantu siswa memahami konsep abstrak dengan lebih mudah, terutama dalam pembelajaran numerasi pada kelas awal.
Peran Kepemimpinan Sekolah
Kepemimpinan sekolah juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Studi baseline menunjukkan bahwa supervisi akademik oleh kepala sekolah belum dilakukan secara optimal.
Data menunjukkan bahwa:
- 11,8% kepala sekolah melakukan supervisi setiap tahun
- 42,6% melakukan supervisi setiap semester
- 45,6% tidak pernah melakukan supervisi akademik
Menurut penelitian pendidikan oleh Leithwood dan koleganya, kepemimpinan sekolah merupakan faktor kedua paling berpengaruh terhadap hasil belajar siswa setelah kualitas guru. Kepala sekolah yang aktif melakukan supervisi dan memberikan umpan balik kepada guru dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.
Hambatan Bahasa dalam Pembelajaran
Bahasa juga menjadi faktor yang mempengaruhi proses belajar di Sumba Timur. Banyak siswa menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari, sementara pembelajaran di sekolah menggunakan bahasa Indonesia. Perbedaan bahasa ini dapat membuat siswa mengalami kesulitan dalam memahami teks atau instruksi pembelajaran.
Berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa penggunaan bahasa ibu dalam pembelajaran kelas awal dapat membantu anak memahami konsep membaca dengan lebih cepat. Setelah kemampuan membaca terbentuk, anak dapat lebih mudah mentransfer kemampuan tersebut ke bahasa kedua atau bahasa nasional.
Pendekatan ini telah berhasil diterapkan di berbagai negara seperti Filipina, Nepal, dan Ethiopia, dengan hasil yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan membaca siswa pada kelas awal.
Pendidikan Inklusif yang Belum Optimal
Selain hambatan bahasa, studi juga menunjukkan bahwa 47% sekolah tidak siap dan 13% sangat tidak siap menerima siswa dengan disabilitas, terutama karena keterbatasan sarana ramah disabilitas dan belum adanya guru pendamping khusus.
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan inklusif masih menjadi tantangan dalam sistem pendidikan dasar di wilayah tersebut. Padahal pendidikan yang inklusif penting untuk memastikan bahwa semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar.
Menuju Transformasi Pembelajaran
Temuan dari studi baseline menunjukkan bahwa peningkatan kualitas literasi dan numerasi di Sumba Timur membutuhkan perubahan pendekatan dalam pembelajaran. Guru perlu didukung untuk menerapkan metode pembelajaran yang lebih aktif dan
kontekstual, sehingga siswa tidak hanya menghafal informasi, tetapi mampu memahami dan menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, pengembangan budaya membaca di sekolah dan masyarakat juga perlu diperkuat melalui penyediaan pojok baca, peningkatan akses terhadap buku cerita anak, serta kegiatan membaca rutin.
Penguatan kepemimpinan sekolah juga menjadi faktor penting dalam memastikan bahwa praktik pembelajaran terus berkembang dan mengalami perbaikan.
Kesimpulan
Studi Baseline INOVASI memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi literasi dan numerasi di Sumba Timur. Meskipun kemampuan literasi dan numerasi dasar siswa menunjukkan perkembangan yang cukup baik, tantangan besar masih muncul dalam kemampuan memahami dan menerapkan pengetahuan.
Data kuantitatif dari studi ini menunjukkan bahwa berbagai faktor mempengaruhi kondisi tersebut, antara lain praktik pembelajaran yang masih berpusat pada guru, keterbatasan bahan bacaan dan media pembelajaran, rendahnya supervisi akademik, serta hambatan bahasa dalam proses belajar.
Dengan pendekatan yang sistemik dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat, Sumba Timur memiliki peluang besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar sehingga anak-anak tidak hanya mampu membaca dan menghitung, tetapi juga mampu memahami, berpikir kritis, dan memecahkan masalah dalam kehidupan mereka.
Artikel-Anto