Sumba Integrated Development

sidsumba

Kehamilan yang Diinginkan Berkontribusi terhadap Pencegahan Stunting

Sejak tahun 2007, tanggal 26 September diperingati sebagai Hari Kontrasepsi Sedunia (WCD=Worlds Contraception Day). Kampanye tahunan yang diselenggarakan berpusat pada visi bahwa “setiap kehamilan, adalah kehamilan yang diinginkan”. Sedangkan misinya  adalah untuk meningkatkan kesadaran mengenai penggunaan kontrasepsi dan untuk memungkinkan pasangan membuat pilihan berdasarkan informasi yang relevan tentang kesehatan seksual dan reproduksi mereka, memulai keluarga sehingga setiap kehamilan yang terjadi adalah kehamilan yang diinginkan. WCD mempromosikan keluarga berencana dan metode kontrasepsi yang aman dan disukai Apa hubungan pencegahan stunting dan kontrasepsi Stunting merupakan permasalahan gagal tumbuh kembang yang terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan, dimana 1000 hari ini dihitung sejak janin berada dalam kandungan Ibu hingga anak berusia sekitar dua tahun. Artinya, untuk memastikan bahwa tidak terjadi kegagalan tumbuh kembang, proses kehamilan yang terjadi haruslah sebagai proses kehamilan yang diinginkan. Ketika kehamilan sebagai proses yang diinginkan, minimal ada kesiapan mental, emosional, fisik, dan juga ekonomi untuk memastikan lancarnya proses tersebut. Mari kita refleksikan situasi saat tidak ada kesiapan fisik dan ekonomi, ketika ibu hamil tidak tercukupi gizinya, maka janin pun secara otomatis tidak mendapatkan asupan gizi yang dibutuhkan, misal ibu kekurangan asam folat maka akan mempengaruhi perkembangan otak, atau jika ibu hamil kekurangan zat besi akan bisa menyebabkan janin lahir dengan berat badan kurang. Mengacu pada website cegah stunting, mengenai pencegahan stunting pada ibu di masa kehamilan ada tiga poin penting, yaitu: Mencegah terjadinya Anemia. Dengan mengkonsumsi secara harian protein hewani (hati, telur, ikan, unggas, daging merah) dan meminum tablet tambah darah minimal 90 tablet selama 3 bulan pertama kehamilan. Terpenuhinya konsumsi protein hewani ini membutuhkan kesiapan ekonomi keluarga Mencegah KEK (Kekurangan Energi Kronik). Dengan mengkonsumsi makanan sesuai gizi seimbang (karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur mayur, dan buah). Kondisi KEK bisa dideteksi dini dengan melakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA). Minimal LiLA bagi ibu yang sehat adalah 23,5 cm. Persiapan persalinan Berkonsultasi kepada bidan dan dokter tanggal perkiraan persalinan. Pastikan suami atau keluarga mendampingi saat periksa kehamilan Siapkan lebih dari 1 orang yang memiliki golongan darah yang sama dan bersedia menjadi pendonor, jika diperlukan Persiapkan tabungan atau dana cadangan untuk biaya persalinan atau biaya lainnya Rencanakan melahirkan ditolong oleh dokter atau bidan di fasilitas Kesehatan Siapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk persiapan kelahiran bayi seperti KTP, Kartu Keluarga, dan Kartu Jaminan Kesehatan Nasional. Rencanakan ikut Keluarga Berencana (KB) setelah bersalin dan tanyakan ke petugas kesehatan tentang cara ber-KB Berdasarkan penjelasan hubungan pencegahan stunting dan kehamilan yang diinginkan tersebut, kita mengerucut pada pentingnya dukungan berbagai jenis kontrasepsi untuk membantu merencanakan dan mengatur kehamilan. Pentingnya Kontrasepsi Menggunakan kontrasepsi mendukung Keluarga Berencana (KB). Mendapatkan informasi tentang (dan memiliki akses ke) berbagai metode pengendalian kelahiran dapat membantu seorang perempuan (dan pasangan) memutuskan kapan mereka ingin memiliki anak dan berapa banyak. Pasangan dapat memilih kapan mereka ingin mulai memiliki anak, seberapa jauh jarak yang mereka inginkan untuk anak-anak mereka, dan kapan mereka harus berhenti. Mempertahankan jarak yang ideal antara dua atau lebih kehamilan dapat membantu pasangan mempersiapkan keuangan untuk kebutuhan pendidikan anak-anak mereka dan kebutuhan lainnya. Perempuan yang belum siap untuk hamil, baik secara mental maupun fisik, dapat mengambil manfaat dari penggunaan kontrasepsi. Kontrasepsi juga dapat membantu perempuan yang tidak lagi menginginkan anak, terutama jika mereka pasti akan mengalami risiko atau komplikasi terkait kehamilan, sehingga mengurangi kebutuhan akan aborsi. Pengendalian kelahiran juga dapat mengendalikan pertumbuhan penduduk. Sementara keputusan untuk memiliki bayi atau lebih adalah pilihan individu, memiliki lebih banyak anak dapat meningkatkan populasi. Dan kelebihan penduduk dapat memberikan tekanan pada lingkungan, ekonomi, dan layanan kesehatan dan pendidikan. Menggunakan kontrasepsi selama hubungan seksual dapat membantu mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan membantu pasangan merencanakan jumlah anak yang ingin mereka miliki sehingga mereka dapat mengasuh anak-anak dengan baik, baik secara finansial maupun emosional. Akses terhadap kontrasepsi dalam perencanaan kehamilan, terbukti mampu menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Dengan lebih banyak otonomi, ini membantu perempuan berpartisipasi lebih bebas dalam domain publik, pendidikan, pekerjaan, dan mengangkat status mereka. Kesadaran akan kontrasepsi juga sangat penting bagi pasangan muda. Menurut penelitian, menjalani kontrasepsi juga penting bagi perempuan dalam dua belas bulan tepat setelah mereka melahirkan. Menurut WHO, hampir 95% wanita ingin menghindari kehamilan dalam waktu 24 bulan setelah melahirkan. Namun, dari jumlah tersebut, hampir 70% tidak memiliki akses terhadap kontrasepsi. Bagaimana Kita Dapat Berkontribusi pada Hari Kontrasepsi Sedunia Hubungan seksual adalah bagian mendasar dari keberadaan kita, tetapi berbicara tentang seks atau kesehatan reproduksi masih menjadi hal yang tabu di beberapa negara. Hari Kontrasepsi Sedunia dengan kampanye global bertujuan untuk mengubah dengan mendidik pasangan dan perempuan tentang kesehatan reproduksi dan berbagai metode pengendalian kelahiran yang tersedia bagi mereka. Inilah yang dapat kita lakukan untuk berkontribusi pada kampanye Hari Kontrasepsi Sedunia, yaitu: Tetap terinformasi dan berbagi informasi ke orang lain. Jika kita memiliki anak remaja atau keponakan, ajarkan mereka tentang kesehatan seksual dan bicarakan tentang pentingnya kontrasepsi. Tetapi saat melakukannya, pastikan nada bicara kita lembut untuk menumbuhkan kesadaran mereka, bukan menakut-nakuti mereka. Jika kita sedang dalam masa reproduksi dan memiliki kehidupan seks yang aktif, lengkapi diri dengan informasi yang tepat tentang pengendalian kelahiran. Bicaralah dengan dokter tentang berbagai metode pengendalian kelahiran, dan pilih salah satu setelah mempertimbangkan keamanan dan efek samping masing-masing. Kunjungi sekolah atau ikuti webinar untuk mengedukasi anak sekolah tentang kesehatan seksual dan anak remaja tentang berbagai metode kontrasepsi. Bicaralah dengan keluarga dan teman kita tentang metode kontrasepsi yang aman dan bantu mereka mencegah kehamilan sebelum waktunya. Setiap dari kita dapat berbuat sesuatu untuk terlibat dalam kampanye peringatan CWD ini. Kampanye akan berfokus pada bagaimana kebutuhan kontrasepsi berubah sepanjang hidup kita dan mengapa kita perlu memperluas pilihan dan menawarkan pendidikan yang lebih baik seputar pengendalian kelahiran. “Be Safe, Not Sorry” (Berperilaku Aman, bukan Menyesal).   Created by: Fitriana Herarti, M.Psi, Psikolog – ECED Specialist Reviewed by: Dr. dr. Brian Sri Prahastuti, MPH – Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden   Referensi https://parenting.firstcry.com/articles/magazine-world-contraception-day-history-significance-and-facts/ https://www.business-standard.com/about/when-is-world-contraception-day#collapse https://www.cegahstunting.com/ibu-muda https://www.naturalcycles.com/world-contraception-day/ https://www.thereisadayforthat.com/holidays/various/world-contraception-day Modul Pengasuhan Responsif, sesi 4: Mempersiapkan Kehamilan, ChildFund International di Indoensia, 2020

Kehamilan yang Diinginkan Berkontribusi terhadap Pencegahan Stunting Read More »

Pelatihan STEAM & Kurikulum Merdeka Belajar

SID dan ChildFund Internasional di Indonesia selenggarakan pelatihan pengembangan kapasitas terkait STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, & Mathematics) dan Kurikulum Merdeka Belajar bagi 26 tenaga pendidik yang berasal dari sekolah-sekolah mitra di Sumba Timur dan Sumba Barat Daya. Pelatihan tersebut dilaksanakan selama tiga hari sejak tanggal 19 hingga 21 September 2022. STEAM pada dasarnya adalah suatu pendekatan pendidikan yang bertujuan untuk memicu minat serta kecintaan anak–anak terhadap seni dan sains, Steam adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada hubungan pengetahuan dan ketrampilan untuk mengatasi masalah. Pembelajaran berbasis STEAM penting diterapkan dalam proses belajar mengajar karena memiliki beberapa keunggulan antara lain dapat menyiapkan generasi penerus yang siap menghadapi perkembangan jaman, membantu mengembangkan inovasi dalam kehidupan, meningkatkan ketertarikan peserta didik terkait dengan profesi dibidang STEAM, menjadikan pembelajaran makin sesuai dengan kehidupan, membantu peserta didik untuk membangun konsep diri secara aktif serta meningkatkan literasi peserta didik. Pembelajaran berbasis, STEAM juga dapat dikaitkan dengan kebutuhan pengembangan ketrampilan abad 21, yakni ketrampilan critical thinking, creativity, collaboration, and conmmunikation. Pendekatan pembelajaran terpadu ini juga dapat membantu peserta didik untuk mengidentifikasi suatu masalah, menciptakan sesuatu guna menyelesaikan permasalahan, berkolaborasi dengan teman–teman sekelas untuk memecahkan masalah, serta berkomunuikasi secara efektif. Untuk meningkatkan kemampuan literasi anak di Sumba dibutuhkan berbagai innovasi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak, salah satunya adalah dengan metode terpadu STEAM. Melalui pelatihan ini diharapkan para peserta akan meningkat pengetahuan dan ketrampilannya sehingga dengan demikian mereka mampu menciptakan proses belajar yang lebih bermutu. Ilmu yang peroleh dapat diaplikasikan dan diimbaskan kepada rekan-rekan guru bahkan sekolah lainnya. Demikian pesan yang disampaikan oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan Sumba Timur dalam sambutannya saat membuka acara pelatihan.

Pelatihan STEAM & Kurikulum Merdeka Belajar Read More »

RKAS Membangun Kepercayaan Diri Raflesito

Di desa Makamenggit, kecamatan Nggaha Ori Angu Kabupaten Sumba Timur terdapat seorang Duta anak bernama Raflesito Karada Hawula yang kesehariannnya biasa disapa dengan sebutan Ito. Saat ini ia telah berusia 15 tahun dan duduk di kelas 1 SMA N 1 Nggaha Ori Angu. Ia sangat  aktif dalam organisasi anak seperti anggota Forum Orang Muda, pendamping  kelompok RKAS, dan juga Anggota pengurus Forum Anak Kabupaten. Sebelum berghabung dengan FOM atau RKAS, Ito merupakan anak yang pemalu dan kurang berani tampil di depan teman-temannya. Hal ini disebabkan karena di desanya belum ada Forum orang muda serta RKAS yang menjadi wadah pengembangan bakat dan minat anak. Ia mulai bergabung dengan RKAS sejak tahun 2018 dan kemudian bergabung dengan FOM sejak awal tahun 2022. Melalui wadah tersebut ito mulai mengembangkan kemampuan personalnya termasuk membangun kepercayaan diri sebagai pemimpin muda dan fasilitator sebaya. Kesempatan yang ia peroleh melalui kegiatan RKAS dan FOM telah menempanya menjadi remaja yang aktif dan kreatif, termasuk memiliki inisiatif yang baik untuk memimpin dalam setiap kesempatan yang ada. Berkat kepercayaan diri dan keberaniannnya kemudian membawanya terpilih menjadi salah satu pengurus Forum anak di tingkat Kabupaten pada seksi pendidikan dan pelaporan. Menurut Ito, ia sangat menikmati kegiatannnya bersama teman-temannnya baik di RKAS maupun di Forum Anak kabupaten. Banyak pengalaman dan pengetahuan baru tentang kehidupan anak-anak yang ia peroleh selama bergabung dalam wadah tersebut. Di RKAS, ia banyak belajar tentang kecakapan hidup dan literasi keuangan yang diadaptasi dari program Aflatoun internasional, termasuk memimpin teman-temannnya. Demikian juga melalui forum anak kabupaten ia dapat berbagi tentang kegiatan kegiatan anak, isu anak di Sumba Timur serta membangun kepercayaan diri. “Saya senang bergabung dengan RKAS dan Forum anak Kabupaten, karena selain mendapatkan banyak teman, saya juga bisa belajar banyak hal tentang ketrampilan hidup, isu anak, program anak, dan lain-lainnya.” Demikian tuturnya sambil tersenyum. Pada perayaan HAN 2022, ia terpilih menjadi 1 dari 5 anak yang diberikan kesempatan untuk menyampaikan suara hatinya mewakili anak-anak di Sumba Timur. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Ito untuk mengungkapkan keprihatinannya tentang konten kekerasan dan pornografi yang banyak dijumpai di media sosial. Kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang hadir saat perayaan HAN tersebut, Ito menyampaikan kerisauannya sekaligus menanyakan apa upaya pemerintah untuk melindungi anak-anak dari ancaman tersebut. Ito mengatakan bahwa ia sangat bangga bisa mewakili teman-temannnya berdialog langsung dengan ibu Bintang Puspayoga yang didampingi oleh Bupati dan pejabat Pemerintah Sumba Timur Lainnnya. Menurutnya ini merupakan kesempatan luar biasa bagi anak desa seperti dirinya dapat berdiri di depan para pejabat pemerintahan Daerah dan Nasional. Pengalaman ini membuatnya semakin percaya diri serta termotifasi untuk berbuat lebih banyak lagi demi membantu anak- anak di Sumba Timur mendapatkan hak mereka secara utuh dan terlindungi. Ia mengucapkan terima Kasih kepada SID dan ChildFund yang telah memfasilitasi anak-anak di desanya melalui kegiatan RKAS dan FOM sehingga melalui wadah tersebut mereka memiliki ruang untuk berpartisipasi dan mengembangkan potensi diri.

RKAS Membangun Kepercayaan Diri Raflesito Read More »

Festival PAUD HI Kabupaten Sumba Barat Daya

SID bekerjasama dengan WLF dan Adaro Foundation memfasilitasi Gugus Tugas PAUD HI Kabupaten Sumba Barat Daya menyelenggarakan kegiatan kampanye PAUD HI dalam bentuk festival yang diikuti oleh kurang lebih 500 orang. Dalam festival tersebut terdapat berbagai kegiatan seperti outbound anak PAUD, lomba mewarnai, pameran alat permainan edukatif yang dibuat dari bahan lokal dan daur ulang. Juga ditampilkan program-program terkait pengembangan anak usia dini dari instansi terkait sesuai bidang layanan. Pada acara puncak kampanye dimeriahkan dengan pentas seni anak, penyerahan cinderamata, serta sambutan-sambutan dari para pemangku kepentingan yang berisi pernyataan dukungan terhadap penyelenggaraan PAUD HI, termasuk di dalamnya penyerahan Akta Kelahiran untuk 2.800an anak oleh Pemerintah Kabupaten kepada 13 Kepala Desa.       Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati SBD beserta pimpinan OPD, Dandim 1629, Pengurus Gugus Tugas PAUD HI Kabupaten dam desa, Perwakilan WLF, Team SID, dan stakeholder lainnya terutama anak-anak usia dini utusan dari desa-desa dampingan SID. Program Pengembangan anak Usia Dini Holistik Integratif bertujuan untuk meningkatkan akses layanan PAUD HI yang berkualitas dan berkelanjutan pada anak usia 0-6 tahun di 13 Desa dampingan yang tersebar di 3 Kecamatan, di Kabupaten Sumba Barat Daya. Sesuai Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2013 tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif menjelaskan bahwa, Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif adalah upaya pengembangan anak usia dini yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling terkait secara simultan, sistematis, dan terintegrasi. Sementar itu, layanan stimulasi holistic mencakup layanan pendidikan, kesehatan, gizi, perawatan, pengasuhan, perlindungan, dan kesejahteraan menjadi kebijakan pengembangan anak usia dini dengan melibatkan pihak terkait, baik instansi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, tokoh masyarakat, dan orang tua. Untuk menjamin pemenuhan hak tumbuh kembang anak usia dini, diperlukan upaya peningkatan kesehatan, gizi, perawatan, pengasuhan, perlindungan, kesejahteraan dan rangsangan pendidikan yang dilakukan secara simultan, sistematis, dan menyeluruh.

Festival PAUD HI Kabupaten Sumba Barat Daya Read More »

Revitalisasi Aset Budaya Tradisional Sumba Timur

Sumba Integrated Development (SID) merevitalisasi aset budaya tradisional Marapu lewat pemberdayaan pemuda, perempuan, dan lansia di Sumba Timur. Anto Kila selaku Executive Director SID mengungkapkan alasannya dalam wawancara bersama Magdalene, (14/12). “Awalnya kami melihat jarak antara generasi muda dan tua dalam pelestarian bahasa maupun budaya. Karena di sekolah-sekolah saja sudah tidak menggunakan bahasa daerah lagi, budaya ini terancam punah,” ujarnya, mengingat pewarisan budaya Sumba dilakukan secara lisan, bukan tertulis. Karena itu, SID menjembatani kelompok lansia yang memahami budaya Sumba, dengan anak muda sebagai generasi yang mewarisi budaya tersebut. Dalam hal ini, musik tradisional dipilih sebagai medium untuk mendorong perubahan perilaku pelestarian budaya. Hal ini juga termasuk bentuk advokasi peningkatan musik tradisional. “Ketika bernyanyi, orang Sumba Timur itu menggunakan bahasa sastra seperti puisi, atau disebut lawiti. Secara tidak langsung, cara ini juga bisa digunakan sebagai kritik ketika tidak setuju dengan situasi tertentu, dan mudah sekali masuk ke masyarakat,” tuturnya. Lirik lagu yang tertulis dalam bahasa daerah itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris, sehingga hal tersebut memperkuat suara, cerita, lagu, dan kekayaan budaya masyarakat Marapu di Sumba Timur. Artinya, musik mereka dapat menjadi warisan bangsa maupun dunia. Sebenarnya, para lansia di Sumba Timur sudah memiliki kesadaran akan warisan budaya yang mereka miliki. Namun, pendekatan untuk melestarikannya secara sistematis yang belum mereka lakukan karena mereka memercayai pewarisan budaya pada keturunan merupakan hadiah dari Sang Pencipta, sehingga akan muncul dengan sendirinya. “Karena itu, dalam proses pendekatan, kami melakukan assessment partisipatif. Tetap mereka yang menilai dan menggali budaya-budaya di sekitarnya, bagaimana situasinya, apakah masih ada dan sering digunakan, atau sudah hilang. Jadi mereka yang menemukan sendiri,” ucap Anto. Hasilnya, anak-anak muda mulai terlibat dalam proses kampanye perubahan perilaku sosial berbentuk lagu yang dinyanyikan. Lagu tersebut merupakan salah satu ritual yang tidak dilakukan selama lima hingga 20 tahun.  Mereka juga menawarkan diri untuk aktif terlibat dalam kepengurusan organisasi masyarakat adat Marapu, yang sebelumnya didominasi orang tua. Selain itu, SID juga berusaha mengumpulkan 26 literatur dari peneliti yang mengobservasi budaya Sumba. Kumpulan literatur tersebut dipublikasikan dan diperbanyak dalam bentuk hard copy maupun soft copy. Ada juga arsip digital untuk melestarikan musik yang diunggah ke kanal YouTube dan disimpan di dalam flashdisk. Selain itu, sekolah-sekolah di sana juga meminta agar program SID tersebut dimasukkan ke kegiatan sekolah. Tulisan ini telah dimuat dalam majalah online Magdalene oleh Aurelia Gracia, Reporter

Revitalisasi Aset Budaya Tradisional Sumba Timur Read More »

Virginia dan Ruang Partisipasi Anak

“Saya Virginia Jevantriest Rona, saat ini saya berumur 14 tahun dan  duduk dikelas 9 SMP, di salah satu SMP Negeri Umalulu. Papa dan Mama saya adalah petani yang kesehariannya bekerja di kebun sawah. saya mengenal SID sejak saya duduk dikelas 5 SD, pada waktu itu saya diajak oleh teman–teman saya untuk mengikuti kegiatan Rumah Kreatif Anak Sabana.  waktu pertama kali saya ikut saya agak malu–malu  karena teman–teman semua pada berani dan semua mereka bisa menyampaikan pendapat mereka. Lalu banyak permainan yang diperkenalkan kepada saya dan teman – teman saya. Selesai kegiatan sore itu, saya merasa Bahagia dan senang sekali dengan kegiatan yang menarik dan ditambah fasilitator yang pintar dan bersemangat. rasa penasaran untuk ikut kegiatan lagi kuat sekali”. Virginia membuka ceritanya dengan memperkenalkan diri serta menyampaikan awal mula ia tertarik dengan kegiatan rumah kreatif anak sabana (RKAS). Menurut Virginia, ia belajar mengenal hak-haknya sebagai anak melalui program yang namanya Pendidikan Kecakapan Hidup & Literasi Keuangan (PKHLK) atau juga dikenal dengan program Aflatoun. Program ini dikembangkan oleh SID dan ChildFund Internasional di Indonesia melalui kegiatan Rumah Kreatif Anak Sabana (RKAS). Melalui RKAS ini anak-anak dibimbing oleh fasilitatir terlatih menggunakan modul PKHLK yang berisi tentang pengetahuan untuk meningkatkan kepercayaan diri anak, perilaku hidup bersih dan sehat, kemampuan memimpin, mengenal potensi diri, hak-hak anak, pengelolaan keuangan, hingga dasar-dasar kebencanaan. Anak-anak juga dibimbing untuk memahami tehnik membaca dan berhitung dengan cara yang menyenangkan dan mudah. “Saya senang dengan wadah Rumah Kreatif Anak Sabana, yang merupakan kesempatan terbaik saya dapat menggali potensi dan kemampuan diri saya, saya cukup aktif mengikuti kegiatan Rumah Kreatif Anak Sabana dan belajar menyuarakan pendapat saya. Saya juga pernah menjadi pemimpin  dan juga dapat mewakili teman–teman saya dalam mengikuti Musyawarah desa, kami dapat menyampaikan beberapa kebutuhan–kebutuhan kami yang terkait dengan keberlangsungan pendidikan kami.” Demikian penuturan Virginia tentang manfaat dari wadah kegiatan anak yang ada di desanya. Virginia termasuk anak yang aktif dalam mengikuti kegiatan di RKAS, ia pun menjadi salah satu fasilitator sebaya. Ia juga mampu menyampaikan inspirasi dan pendapatnya mewakili anak-anak di desa pada kegiatan musyawarah rencana pembangunan desa (Musrenbangdes). Menurut Virginia, pengalaman yang paling membanggakan adalah ketika ia bisa menulis surat yang ditujukan kepada Presiden Jokowi yang diserahkan kepada bapak Jenderal Purnawirawan H. Muldoko. Dalam suratnya, ia menulis tentang kegiatan Rumah Kreatif Anak Sabana, bebrapa kebutuhan perlengkapan berupa alat–alat tulis dan buku–buku bacaan. Ia juga pernah mewakili kawan–kawan Rumah Kreatif Anak Sabana untuk menyampaikan pandangannya tentang situasi Pendidikan di masa Pendemi Kegiatan ini dikuti oleh 20 anak se NTT, dengan menghadirkan narasumber pimpinan DPRD Propinsi NTT. “Saya sangat senang sekali Ketika orang dewasa dapat mendengarkan hak–hak kami dan ketika kami diberi ruang dalam menyuarakan hak kami. Saya juga mendapat kesempatan menyampaikan hak–hak saya, yakni hak pendidikan di masa pandemik. Hal inilah membuat saya sangat bangga dan bahagia.” Tutur Virginia. Virginia  berharap Pemerintah Desa terus memperhatikan  keberlanjutan dari program SID yang sudah dapat berjalan cukup baik, khususnnya agar kegiatan anak semakin diperhatikan dan fasilitasi sebagai salah satu aset desa untuk mempersiapkan generasi muda yang bermutu. “Saya merasa program PKHLK atau Aflatoun ini sangat berdampak bagi kami anak–anak Sumba di desa Patawang, yang dimulai dari Pendidikan kami, belajar kebersihan, mendukung hak – hak kami sebagai anak. Saya berharap Pemerintah desa akan terus mendukung kami.” Di akhir dari ceriteranya, Virginia menyampaikan ucapan terimakasih kepada ChildFund dan SID untuk karya-karya yang telah membawa perubahan di desa Patawang. Kehadiran SID dan ChildFund telah membawa perubahan dalam mewujudkan hak–hak anak.

Virginia dan Ruang Partisipasi Anak Read More »

Pengasuhan Responsif, Tepat Sekali

Materi yang sangat-sangat sederhana, dan orang tua mudah pahami itu”. penggalan kalimat ini dengan yakin diucapkan oleh ibu Yana. Pemilik nama lengkap Apriyana Pandarangga, S.Pd. AUD tersebut adalah seorang Asesor Badan Akreditasi Nasional (BAN) yang sudah lama malang melintang dalam dunia pendidikan anak Usia Dini di Kabupaten Sumba Timur. Ia pernah menjadi kepala TK Negeri Pembina Waingapu, Ketua IGTKI, Pengawas TK dan hingga kini aktif menjalankan tugasnya sebagai Asesor BAN. Tugas utamanya adalah mengakreditasi penyelenggaraan PAUD di Kabupaten Sumba Timur dan kabupaten lainnya di NTT, sekaligus memberikan dukungan teknis untuk peningkatan kualitas PAUD yang berada dalam wilayah kerjanya. Ibu Yana telah lama mengenal dan bekerjasama dengan SID terkait program pengembangan PAUD di desa-desa dampingan SID. Ia juga merupakan fasilitator yang sering membantu para guru PAUD dampingan SID dalam pelatihan-pelatihan yang diadakan. Sebagai seorang pegiat PAUD, ibu Yana sudah beberapa kali terlibat dalam pelatihan untuk fasilitator yang diselenggarakan oleh SID dan ChildFund. Dari semua pelatihan yang sudah pernah ia ikuti, menurutnya modul pengasuhan responsif lah yang paling bermanfaat saat ini. dengan adanya situasi pandemi covid-19 tantangan terbesarnya adalah bagaimana membantu orang tua agar bisa membimbing anak-anak mereka di rumah. Modul pengasuhan positif ini menurutnya sangat tepat sekali untuk digunakan, karena sederhana dan mudah dipahami oleh orang tua. “ya itu pengasuhan responsif itu, betul-betul bagus sekali.” Katanya sambil tertawa lebar. Ia kemudian melanjutkan “Modul ini bisa sangat bermanfaat bagi guru-guru PAUD dalam memfasilitasi orang tua agar mampu membimbing anak mereka di rumah.” Sebagai fasilitator terlatih, ibu Yana dan teman-temannya telah berbagi pengetahuan terkait modul pengasuhan responsif yang telah mereka pelajari kepada hampir seluruh PAUD, baik TK maupun kelompok bermain yang ada di Sumba Timur. Biaya pelaksanaan pelatihan terapan tersebut menurutnya dialokasikan dari anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kalau dihitung dari tahun 2018 hingga sekarang, guru-guru PAUD yang telah mereka latih jumlahnya sekitar 200 orang. “Jujur kita katakan bahwa mereka berjalan apa adanya saja” Menurut ibu Yana, awalnya hampir seluruh PAUD berjalan apa adanya saja, tanpa pengetahuan dan ketrampilan yang memadai tentang pengembangan anak usia dini. Pengetahuan yang telah dimiliki dan sering didiskusikan hanya seputar perubahan kurikulum termasuk kurikulum 2013. Sambil tersenyum ibu Yana berkata, “Dengan adanya materi-materi yang kami dapat dan bagikan dari kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh SID telah menambah wawasan guru-guru PAUD. Sedianya apa yang harus mereka lakukan, peran mereka sebagai pendidik PAUD. Salah satunya adalah modul pengasuhan responsif itu.” Ia berharap para guru PAUD yang telah mendapatkan pelatihan tentang pengasuhan responsif benar-benar menerapkan ilmu yang sudah diperoleh di PAUD masing-masing. Sehingga para orang tua mampu untuk mendampingi anak-anak mereka secara optimal dalam proses BDR.  

Pengasuhan Responsif, Tepat Sekali Read More »

Delsi dan Mimpinya Bersama Karang Taruna Desa Homba Karipit

SID memfasilitasi anak muda di desa untuk melakukan advocasi pembentukan forum orang muda atau karang taruna di 9 desa dampingan antara lain desa Mali iha, Hohawungo, Hombakaripit, Wailabubur di kabupaten Sumba Barat Daya, desa Praipaha, Praihamboli, Tanatuku, Makaminggit dan Praikarang di kabupaten Sumba Timur. Antusias anak muda dari desa-desa tersebut sangat besar sehingga pembentukan karang taruna berjalan lancar dan didukung oleh seluruh pemerintah desa. Kesadaran akan pentingnya organisasi orang muda sebagai penyalur aspirasi dan wadah partisipasi orang muda mulai tumbuh dalam diri anak -anak muda dampingan SID. Delsiana Holo salah satu duta anak SID yang menjadi pengurus Karang Taruna  Desa Homba Karipit merasakan manfaat dan perubahan signifikan setelah bergabung dan mengikuti berapa kegiatan pengembangan kapasitas yang dilakukan oleh SID bagi anak muda yang ada di desanya. Sambil sesekali mengerutkan dahi untuk mengingat-ingat kegiatan yang pernah diikutinya, kemudian ia menceritakan, “Beberapa waktu terakhir ini saya banyak kali mengikuti beberapa pertemuan dalam rangka pembentukan organisasi karang taruna di desa yang di fasilitasi oleh Staf SID, awalnya menurut saya organisasi tersebut tidak penting bagi saya, namun setelah saya diajak di beberapa sesi pertemuan maka saya baru sadar bahwa organisasi tersebut sangat penting bagi para pemuda di desa termaksud saya. Karena dengan adanya organisasi karang taruna, para pemuda bisa mengeksplorasi seluruh potensi yang ada pada diri pemuda termasuk bagaimana pemuda bisa terlibat dalam proses pembangunan desa. Setelah saya mengikuti beberapa pertemuan, saya juga di libatkan dalam kepengurusan karang taruna desa Hombakaripit sebagai wakil ketua. Saya dan pengurus karang taruna lainya di bekali dengan pengetahuan tentang organisasi dan hal itu sangat bagus.” SID membekali para pengurus karang taruna dengan kegiatan pengembangan kapasitas pengelolaan organisasi diantaranya pelatihan menejemen organisasi, penyusunan rencana kerja organisasi dan pelatihan life skill lainnya untuk meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan diri para pengurus dalam mengembangkan kegiatan mereka serta mampu berpartisipasi dalam proses perencanaan penganggaran desa. “Saya bersyukur sekali bisa berkesempatan untuk mengikuti pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen organisas serta penyusunan rencana kerja Karang Taruna. Saya sangat  bangga pada SID/ChildFund yang memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan, karena dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut saya mengalami banyak perubahan, seperti bisa membangun relasi dengan orang-orang baru, saya bisa berbicara di depan teman-teman, saya bisa mengembangkan idea tau kreatifitas yang ada dalam diri saya dan juga bisa saling menerima pendapat teman-teman.” Tuturnya sambil tersenyum sumringah. Sebagai pengurus Karang Taruna Delsi sangat aktif mengikuti berbagai kegiatan, dia sangat cakap dalam menyampaikan pendapat, ide-ide, dan hal-hal menarik lainnnya dengan penuh percaya diri. Saat ini Desi dan pengurus karang taruna lainnya merancang serta mempersiapakan beberapa kegiatan program kerja karang taruna, salah satunya adalah mengembangkan usaha produktif karang taruna di bidang warung makan yang akan dibuka di desa mereka. Wirausaha sosial  tersebut akan mereka kembangkan untuk mendukung kegiatan karang taruna.

Delsi dan Mimpinya Bersama Karang Taruna Desa Homba Karipit Read More »

Dhevi, Semangat Anak Muda Untuk Membangun Desa

Delviana Kapu Endah adalah salah satu duta anak Dampingan SID dari desa Makamenggit, kecamatan Nggaha Ori Angu, Kabupaten Sumba Timur. Remaja putri berusia 18 ini akrab disapa “Dhevi”, saat ini menjabat sebagai bendahara karang taruna desa Makamenggit,  sekaligus fasilitator pendamping kegiatan orang muda di desanya. Ketrampilan dan kepercayaan dirinya terasah setelah beberapa kali mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh SID, antara lain pelatihan kesiapan kerja, wirausaha, advokasi perencanaan dan penganggaran desa, kepemimpinan dan lain-lain. Dalam berapa kesempatan tampil di depan forum diskusi publik, Devi terlihat sangat percaya diri dan bersemangat menyampaikan pandangannya terkait perlindungan anak, partisipasi orang muda dan isu lainnya yang berhubungan dengan hak-hak anak. Ia juga merupakan salah satu anak muda penggerak di desanya yang  memiliki keinginan kuat untuk mendorong  keberpihakan pembangunan desa pada anak dan orang muda. Untuk perencanaan dan penganggaran desa tahun 2022, Devi dan teman-temannya mengusulkan dua program mereka kepada pemerintah desa Makamenggit yaitu pertanian holtikultura dan penguatan kapasitas orang muda untuk mencegah kekerasan pada anak dan perempuan. Dua program tersebut saat ini sudah dibahas hingga tahap musrenbang desa. “Saya sendiri yang mewakili karang taruna mengikuti kegiatan musrenbangdes. Kami usulkan dua program, pertanian holtikultura dan sosialisasi tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak bagi anak muda.” Demikian kata Devi. Besar harapan mereka melalui program ini nantinya mereka dapat memanfaatkan potensi anak muda di desanya untuk mengembangkan wirausaha pertanian serta membantu Kelompok perlindungan Anak yang ada di desanya untuk menciptakan desa yang ramah terhadap anak dan perempuan. Untuk memberikan contoh kepada teman-temannya, menurut Devi saat ini ia sedang mempersiapkan diri membuka usaha  dibidang kulinary. Pengetahuan yang telah ia dapatkan melalui pelatihan wirausaha yang sudah dua kali ia ikuti akan ia praktikkan dalam menjalankan bisnis rumahan tersbut. Dengan senyum khasnya Devi menceritakan bahwa ia dan teman-teman karang taruna sedang melakukan proses persiapan pembukaan satu unit usaha pangkas rambut milik karang taruna yang didukung oleh SID, mitra ChildFund di Indonesia.

Dhevi, Semangat Anak Muda Untuk Membangun Desa Read More »

Berbagi Peran dalam Mengasuh anak

Eni Ipa Hoy adalah seorang ibu muda yang baru berusia 23 tahun merupakan orang tua yang memiliki dua orang anak usia dini yaitu Jelen Tamu Ina, perempuan berusia  4 tahun  dan Eltin Hada Indah juga anak perempuan berusia  dua tahun. Saat ini, Jelen sedang mengikuti kegiatan pendidikan anak usia dini di lembaga PAUD Karunggu,  Desa Pahomba, kecamatan Nggaha Oriangu. Dalam usia yang sangat muda, Rambu Eni demikian ia biasa disapa menuturkan bahwa memiliki dua orang balita cukup merepotkannya.  Setiap hari ia harus mengurus kedua anaknya tanpa ada yang membantunya dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.  Namun demikian walau disibukan dengan urusan rumah tangga, ia tetap meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan pengasuhan responsif dan Kelompok bermain keluarga yang di selenggarakan di Lembaga PAUD. Menurutnya pengetahuan tentang pengasuhan sangat bermanfaat baginya untuk mengasuh anaknya dengan benar dan tepat.  Semuanya dapat ia lakukan dengan sabar dan penuh kasih sayang.  Ia pun secara perlahan mulai mencoba mengajak suaminya agar mau berbagi peran dalam mengurus rumah tangganya terutama dalam mengasuh kedua anaknya yang masih kecil.  Awalnya suaminya merasa keberatan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan mencuci. Namun setelah ia mengikuti sesi pengasuhan terutama dalam sesi pernikahan dan pembagian  peran orangtua  dalam keluarga, memampukannya mempengaruhi suaminya sehingga saat ini pola pikir suaminya berubah. Suaminya sudah ikut mengurusi anak-anak apabila dia ke kebun, termasuk memasak dan mengerjakan hal-hal yang dapat dikerjakan.  Rambu Eni juga mengungkapkan saat ini ia tidak lagi mengurus sendiri kedua anaknya. Rambu Eny menuturkan bahwa perubahan yang paling ia rasakan setelah mengikuti sesi sesi pengasuhan yaitu pola asuh anak yang selama ini ia abaikan. Pengetahuan yang diperoleh  telah menyadarkannya bahwa mengasuh harus dilakukan secara baik dan benar. Mengasuh anak harus dengan penuh perhatian,  kasih sayang dan sabar tanpa kekerasan.  Perhatian sebagai orang tua untuk mendukung  tumbuh kembang terutama pemenuhan Gizi dan Stimulasi menjadi hal yang utama bagi dirinya. Ketika ditanya tentang perkembangan anaknya setelah megikuti kegiatan PAUD, Rambu Eni spontan menjelaskan bahwa anaknya Jelen rajin mengikuti kegiatan PAUD dan Kelompok bermain keluarga.  Sebelum  mengikuti PAUD dan KBK Jelen termasuk anak yang sangat  pemalu,  tidak berani berbaur bersama teman sebanyanya.  Namun setelah mengikuti PAUD dan KBK ia menjadi berani, senang bermain bersama teman-temannnya sabanyanya. “Saat ini ia sudah percaya diri,  berani tampil, dapat  mengenal warna,  huruf dan angka ,   tidak malu malu untuk tampil di depan kelas.”  Ungkapnya dengan anda gembira. Di akhir ceritera ia menyampaikan ucapan terimakasih kepada fasilitator dan pendidik PAUD  yang selama ini memberikan banyak pengetahuan tentang mengasuh anak, dan membimbing anaknya sehingga anaknya boleh tumbuh dan berkembang secara optimal. Ia juga mengucapkan terimakasih kepada SID dan ChildFund yang telah mendukung program pengasuhan dan PAUD di desanya sehingga mereka memperoleh pengetahuan yang baik dan anak-anak mereka tepenuhi haknya untuk betumbuh dan berkembang.  

Berbagi Peran dalam Mengasuh anak Read More »