Sumba Integrated Development

Berita

Tantangan Literasi dan Numerasi di Sumba Timur

Dari Kemampuan Dasar Menuju Pemahaman Mendalam Berdasarkan Hasil Studi INOVASI 2025. Kemampuan literasi dan numerasi merupakan fondasi utama bagi kualitas pendidikan suatu bangsa. Anak yang mampu membaca dengan pemahaman yang baik dan menggunakan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari memiliki peluang lebih besar untuk berhasil dalam pendidikan lanjutan, dunia kerja, serta kehidupan sosial. Oleh karena itu, peningkatan literasi dan numerasi menjadi prioritas penting dalam pembangunan pendidikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Kabupaten Sumba Timur, upaya peningkatan kualitas literasi dan numerasi telah dilakukan melalui berbagai program pendidikan, salah satunya melalui kemitraan dengan program INOVASI. Studi Baseline INOVASI tahun 2025 memberikan gambaran awal mengenai kondisi kemampuan literasi dan numerasi siswa pada kelas awal sekolah dasar. Studi ini menggunakan pendekatan cross-sectional quantitative dengan melibatkan 15 sekolah dasar yang dipilih secara acak. Responden yang terlibat dalam penelitian ini cukup luas, yaitu 600 siswa kelas 1โ€“4, 60 guru kelas, 15 kepala sekolah, 575 orang tua siswa, serta 2 pengawas pendidikan. Data ini memberikan gambaran penting tidak hanya mengenai kemampuan belajar siswa, tetapi juga mengenai praktik pembelajaran, lingkungan belajar di sekolah, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan dasar di Sumba Timur.   Kemajuan pada Literasi Dasar Hasil studi menunjukkan bahwa siswa di Sumba Timur relatif berhasil dalam menguasai literasi dasar, terutama pada kemampuan mengenali huruf, suku kata, dan kata. Kemampuan ini merupakan tahap awal dalam proses belajar membaca yang sangat penting bagi perkembangan literasi anak. Namun demikian, ketika siswa dihadapkan pada kemampuan membaca yang lebih kompleks, seperti memahami hubungan antar informasi dalam teks, menarik kesimpulan, atau menginterpretasikan makna bacaan, capaian mereka masih relatif rendah. Hal ini terlihat dari proporsi siswa yang rendah pada kategori membaca integrasi dan interpretasi, yaitu kemampuan membaca tingkat tinggi yang melibatkan analisis dan pemahaman mendalam terhadap teks. Kemampuan membaca pada tingkat ini termasuk dalam kategori Higher Order Thinking Skills (HOTS), yang juga menjadi fokus dalam berbagai asesmen pendidikan seperti Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Programme for International Student Assessment (PISA).   Tantangan Nasional dalam Literasi Temuan di Sumba Timur sebenarnya mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam sistem pendidikan Indonesia. Data PISA menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional. Dalam PISA 2022, skor membaca Indonesia berada pada kisaran 359 poin, jauh di bawah rata-rata OECD yang berada di atas 480 poin. Selain itu, Bank Dunia mencatat bahwa sekitar 53% anak usia sekolah dasar di Indonesia mengalami โ€œlearning povertyโ€, yaitu tidak mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia 10 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak siswa memang mampu membaca secara mekanis, tetapi belum memiliki kemampuan memahami isi bacaan secara mendalam. Fenomena ini juga terlihat di Sumba Timur. Meskipun kemampuan membaca dasar cukup baik, kemampuan memahami teks dan menginterpretasikan informasi masih menjadi tantangan utama bagi siswa.   Pola yang Sama pada Kemampuan Numerasi Pola yang serupa juga ditemukan pada kemampuan numerasi siswa. Studi baseline menunjukkan bahwa siswa di Sumba Timur relatif berhasil dalam numerasi dasar, seperti mengenal angka dan melakukan operasi matematika sederhana. Namun ketika pembelajaran masuk pada tahap yang lebih kompleks, yaitu memahami konsep matematika dan menerapkannya dalam pemecahan masalah, capaian siswa mengalami penurunan. Kesulitan ini terlihat pada aspek knowing dan applying, yaitu kemampuan memahami konsep matematika serta menggunakan konsep tersebut dalam situasi praktis. Kemampuan ini juga termasuk dalam kategori HOTS yang menuntut siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi mampu berpikir secara logis dan analitis. Penelitian pendidikan matematika menunjukkan bahwa kesulitan ini sering terjadi ketika pembelajaran matematika terlalu menekankan prosedur perhitungan tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami konsep secara mendalam.   Praktik Pembelajaran yang Masih Berpusat pada Guru Salah satu faktor penting yang mempengaruhi rendahnya kemampuan pemahaman siswa adalah praktik pembelajaran di kelas. Studi baseline menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang digunakan oleh guru masih didominasi oleh pendekatan tradisional. Sebanyak 97% guru menggunakan metode ceramah dan 95% menggunakan diskusi dalam pembelajaran. Sebaliknya, metode yang mendorong eksplorasi dan pengalaman belajar aktif masih jarang digunakan, antara lain: Demonstrasi: 37% Eksperimen: 28% Pembelajaran berbasis proyek: 15% Role playing: 23% Kunjungan lapangan: 5% Dominasi metode ceramah menunjukkan bahwa pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher-centered learning). Menurut pakar pendidikan John Hattie, pembelajaran yang efektif terjadi ketika siswa aktif terlibat dalam proses belajar melalui eksplorasi, diskusi mendalam, dan pemecahan masalah. Pembelajaran yang hanya berfokus pada ceramah cenderung menghasilkan hafalan jangka pendek, tetapi tidak selalu menghasilkan pemahaman konseptual yang kuat.   Keterbatasan Akses terhadap Bahan Bacaan Selain metode pembelajaran, ketersediaan bahan bacaan juga menjadi faktor penting dalam pengembangan literasi siswa. Studi baseline menunjukkan bahwa hanya 28,3% ruang kelas yang memiliki pojok baca. Ketersediaan buku bacaan juga masih terbatas. Dari sekolah yang disurvei, hanya: 58,8% memiliki buku teks atau buku pelajaran. 23,5% memiliki buku cerita anak. 29,4% memiliki buku bacaan dengan teks panjang. Penelitian UNESCO menunjukkan bahwa jumlah buku yang tersedia bagi anak merupakan salah satu faktor paling kuat yang mempengaruhi perkembangan literasi. Anak yang memiliki akses terhadap berbagai bahan bacaan cenderung memiliki kosakata yang lebih luas serta kemampuan memahami teks yang lebih baik.   Keterbatasan Media Pembelajaran Media pembelajaran juga memainkan peran penting dalam membantu siswa memahami konsep. Studi baseline menunjukkan bahwa hanya 77% sekolah memiliki alat bantu literasi dan 60% memiliki alat bantu numerasi. Jenis alat bantu yang tersedia pun masih terbatas, seperti kartu huruf atau poster kata yang terdapat pada 68% kelas, sementara media pembelajaran lain seperti puzzle literasi atau pajangan karya siswa masih sangat sedikit. Padahal berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran konkret dapat membantu siswa memahami konsep abstrak dengan lebih mudah, terutama dalam pembelajaran numerasi pada kelas awal.   Peran Kepemimpinan Sekolah Kepemimpinan sekolah juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Studi baseline menunjukkan bahwa supervisi akademik oleh kepala sekolah belum dilakukan secara optimal. Data menunjukkan bahwa: 11,8% kepala sekolah melakukan supervisi setiap tahun 42,6% melakukan supervisi setiap semester 45,6% tidak pernah melakukan supervisi akademik Menurut penelitian pendidikan oleh Leithwood dan koleganya, kepemimpinan sekolah merupakan faktor kedua paling berpengaruh terhadap hasil belajar siswa setelah kualitas guru. Kepala sekolah yang aktif melakukan supervisi dan memberikan umpan balik kepada guru dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.   Hambatan Bahasa dalam Pembelajaran Bahasa juga menjadi faktor yang mempengaruhi proses

Tantangan Literasi dan Numerasi di Sumba Timur Read More ยป

Wirausaha Agrosilvopastoral Harapan Baru Bagi Anak Muda

Di Desa Mbatakapidu, Sumba Timur, sebuah perubahan nyata sedang tumbuh di tengah masyarakat melalui inisiatif Agrosilvopastoral yang dijalankan oleh Lembaga SID dan ChildFund Intenasional di Indonesia. Program ini bukan sekadar proyek pertanian atau peternakan biasa, ini merupakan harapan baru bagi pemuda putus sekolah yang ingin membangun masa depan dari potensi desa mereka sendiri. Lima anak muda terpilih yang sebelumnya tidak melanjutkan pendidikan, kini aktif terlibat dalam usaha kolektif mengelola peternakan kambing yang terintegrasi dengan kebun pangan, tanaman kayu, dan hortikultura. Di atas lahan seluas 0,5 hektare, mereka belajar membangun kandang, menanam pakan ternak, merawat 50 ekor kambing, dan menanam ratusan pohon tanaman umur panjang. Tidak hanya itu, energi surya dan air bersih kini tersedia di lokasi menunjukkan bahwa pembangunan desa bisa ramah lingkungan dan berkelanjutan.   Antusiasme tak hanya datang dari para peserta, tetapi juga dari masyarakat luas. Sosialisasi program yang digelar menarik perhatian puluhan warga, terutama kelompok perempuan desa yang menunjukkan ketertarikan tinggi untuk ikut serta. Pelatihan-pelatihan yang dilakukan, mulai dari kesehatan ternak hingga pembuatan pupuk bokashi, menjadi ruang belajar baru yang memperkuat keterampilan, kebersamaan, dan kesadaran akan pentingnya mengelola sumber daya lokal secara bijak. Meski dihadapkan pada berbagai tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, keterampilan individu, tetapi semangat gotong royong dan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan. Pemagaran lahan dengan pagar hidup dari pohon gamal, sistem monitoring ternak yang dikembangkan sendiri, hingga kolaborasi dengan tokoh masyarakat dan pemerintah desa, menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah dengan cara yang sederhana, namun berdampak besar.   Program Agrosilvopastoral ini adalah bukti bahwa denganย pendekatan yang tepat, pemuda desa tidak hanya bisa menjadi penerima manfaat, tapi juga agen perubahan yang menanam benih masa depan di tanah mereka sendiri, dengan tangan mereka sendiri. Semoga semangat ini menjalar ke desa-desa lain, menginspirasi anak muda lainnya, membangkitkan harapan baru dari akar rumput, untuk Indonesia yang lebih mandiriย danย berdaya.

Wirausaha Agrosilvopastoral Harapan Baru Bagi Anak Muda Read More ยป

Agrosilvopastoral, Pertanian Terintegrasi Bagi Anak Muda Putus Sekolah

Di Sumba Timur, tidak sedikit anak muda yang terpaksa harus putus sekolah karena berbagai hambatan sosial dan ekonomi. Namun, keterbatasan itu tidak memadamkan semangat mereka untuk bertahan dan terus berjuang menjalani hidup. Menyikapi tantangan ini, SID bekerja sama dengan ChildFund International in Indonesia memfasilitasi program kewirausahaan sosial berbasis pertanian terintegrasi bagi anak-anak muda putus sekolah. Salah satu inisiatif utama kami adalah pengembangan program peternakan kambing berbasis kelompok anak muda di Desa Mbatakapidu. Program ini melibatkan lima anak muda, dengan prioritas pada mereka yang telah putus sekolah, sebagai model pemberdayaan ekonomi yang terintegrasi dengan edukasi kewirausahaan. Melalui program ini, kami bertujuan: โ€ข Menciptakan peluang usaha yang berkelanjutan, โ€ข Meningkatkan kapasitas kewirausahaan anak muda, โ€ข Mendorong kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. Kami mengusung pendekatan agrosilvopastoral, yakni sistem pertanian terintegrasi yang menggabungkan pertanian, kehutanan, dan peternakan secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya memberikan keterampilan dan penghasilan bagi anak muda, tetapi juga melibatkan mereka secara aktif dalam aksi iklim dan pelestarianย lingkungan.

Agrosilvopastoral, Pertanian Terintegrasi Bagi Anak Muda Putus Sekolah Read More ยป

Ekohumanisme Generasi Z

“Kita tanam pohon sekarang, jangan harap hasil saat ini, tapi ini untuk menjaga sumber air bagi masa depan anak cucu kita.” Ucapan ini terdengar sayup di antara bunyi mesin pelubang tanah dan hantaman linggis pada bukit cadas di Desa Praihamboli, Sumba Timur. Sekelompok anak muda terlihat sedang menggali lubang untuk menanam pohon di dekat sumber mata air kecil di desa mereka. Aksi ini merupakan bagian dari upaya menjaga kelestarian sumber air desa yang jumlahnya sangat terbatas. Penanaman pohon ini adalah salah satu inisiatif yang dirancang oleh anggota karang taruna sebagai langkah adaptasi dan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim. Semakin meningkatnya suhu bumi, yang berpengaruh signifikan terhadap menurunnya ketersediaan air bersih termasuk di wilayah Sumba Timur, telah memotivasi mereka untuk bertindak. Agar bibit pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, mereka menerapkan teknik irigasi tetes sederhana. Teknik ini menggunakan botol bekas air mineral yang ditanam di sekitar pohon, dilubangi untuk mengalirkan air secara perlahan. Volume air yang keluar diatur melalui pengencangan tutup botol. Kegiatan ini didukung oleh SID dan ChildFund International in Indonesia melalui program Youth Agency, yang bertujuan mendorong peran aktif anak muda dalam menghadapi isu perubahan iklim.

Ekohumanisme Generasi Z Read More ยป

Pengurus PATBM Ikuti Pelatihan Pengembangan Mekanisme Pelaporan Dan Rujukan

Pengurus Kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dari tiga desa, yaitu Mbatakapidu, Tandula Jangga, dan Ndapayami, baru saja mengikuti pelatihan penting tentang pengembangan mekanisme pelaporan dan rujukan isu perlindungan anak. Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem perlindungan anak di tingkat komunitas. Mama Ayu, Ketua PATBM Desa Mbatakapidu, mengungkapkan rasa antusiasnya terhadap pelatihan ini. Ia menyebut pengalaman kali ini sangat berbeda dari pelatihan sebelumnya. “Pelatihan kali ini sangat jelas menerangkan langkah-langkah yang harus dilakukan. Kami jadi lebih paham bagaimana mendampingi anak korban kekerasan dengan benar,” ujarnya. Pelatihan ini difasilitasi oleh SID bekerja sama dengan ChildFund International in Indonesia, yang sementara memfasilitasi pembentukan kelompok PATBM di berbagai desa dampingan. Dalam pelatihan ini, peserta diberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menangani laporan kasus kekerasan anak, membuat rujukan yang tepat, mendampingi proses hukum dan pemulihan korban, hingga memastikan pemantauan serta evaluasi yang berkesinambungan. Selain itu, pelatih yang terdiri dari dua staf SID juga membagikan pengetahuan tentang dasar-dasar perlindungan anak dan konsep kesetaraan gender. Kegiatan ini diharapkan dapat memberdayakan pengurus PATBM agar lebih siap menghadapi tantangan perlindungan anak, sekaligus memperkuat sistem perlindungan di tingkat komunitas. Dengan pendekatan yang komprehensif, setiap anak di desa dampingan diharapkan dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman dan mendukung.

Pengurus PATBM Ikuti Pelatihan Pengembangan Mekanisme Pelaporan Dan Rujukan Read More ยป

Peran Anak Muda Dalam Pengurangan Risiko Bencana

“Saya sangat gembira karena para pemuda di desa ini dilibatkan dalam penilaian ketangguhan desa.” ujar Wati dengan sangat antusias. Ia merupakan salah satu peserta yang mengikuti pelatihan Penilaian Ketangguhan Desa (PKD). Aula kantor Desa Praihamboli menjadi tempat berlangsungnya pelatihan PKD yang diikuti oleh lima anggota pemerintah desa dan tiga puluh anggota karang taruna. Dalam kegiatan yang dilaksanakan selama hari tersebut, para peserta mendapat penjelasan teknis mengenai PKD, pengumpulan data, serta cara input data ke dalam sistem Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Mereka juga langsung diterjunkan untuk melakukan pengumpulan data lapangan di wilayah desa Praihamboli. Kepala Desa Praihamboli, Maria Kalita Mboru, mengapresiasi pelatihan ini. Menurutnya, kegiatan ini sangat baik karena membantu pemerintah desa memahami proses PKD, khususnya komponen-komponen yang dibutuhkan untuk memperkuat ketangguhan desa dalam menghadapi bencana. Pada kesempatan ini, peserta sepakat mengembangkan rencana aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim seperti pembuatan perangkap air hujan, penanaman tanaman umur panjang, pemagaran, dan lainnya. Desa Praihamboli merupakan salah satu desa yang ditargetkan akan menjadiย  desa tangguh bencana (Destana) kategori tangguh utama. Untuk mencapai target tersebut, Pemerintah desa akan bekerjasama dengan pemerintah kabupaten, pihak swasta, dan masyarakat desa untuk menjawab indikator-indikator yang dipersyaratkan dalam PKD. Tentang Program Ini, SID dan ChildFund International in Indonesia mendukung keterlibatan orang muda dalam proses pembangunan desa, antara lain melalui aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk pengurangan risiko bencana, pembentukan desa tangguh bencana, dan advokasi kebijakan publik.

Peran Anak Muda Dalam Pengurangan Risiko Bencana Read More ยป

MATA RAMMU, Membangun Anak usia Dini Tangguh melalui Rancang Ajar, Manajemen Bermutu, dan Pengelolaan Sumber Daya

Penyelenggaraan layanan Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkualitas di daerah-daerah tertinggal memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk generasi berkualitas di masa depan. Anak usia dini, terutama pada usia 0โ€“6 tahun, berada dalam fase perkembangan emas yang berperan besar dalam membentuk kecerdasan, karakter, serta kemampuan sosial mereka di masa mendatang. Apabila layanan PAUD berkualitas diberikan sejak dini, anak-anak di daerah tertinggal akan memiliki peluang yang lebih baik untuk mengembangkan potensi secara maksimal, sehingga mampu mengatasi keterbatasan lingkungan serta kesenjangan akses terhadap pendidikan. Dr. Maria Montessori, seorang pelopor pendidikan anak usia dini, berpendapat bahwa anak-anak pada usia dini memiliki apa yang disebut sebagai “pikiran menyerap” atau absorbent mind. Pada tahap ini, mereka menyerap informasi dari lingkungan sekitar secara cepat dan alami. Oleh karena itu, lingkungan yang aman, mendukung, dan kaya stimulasi menjadi sangat penting bagi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial mereka. Fasilitas PAUD yang berkualitas, tenaga pengajar yang terlatih, serta program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak dapat mewujudkan lingkungan yang demikian. Di daerah-daerah tertinggal, akses terhadap layanan PAUD yang berkualitas seringkali terkendala oleh terbatasnya infrastruktur, kurangnya tenaga pengajar, dan minimnya sumber daya. Namun, jika upaya bersama dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk memperkuat layanan PAUD dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang relevan, dampaknya akan sangat signifikan dalam mengurangi kesenjangan pendidikan. Sebagai bentuk dukungan, SID bekerja sama dengan Yayasan William & Lily serta Adaro Foundation untuk membantu pemerintah daerah Kabupaten Sumba Barat Daya dalam meningkatkan kualitas layanan PAUD. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat 15 PAUD dan 8 Posyandu sebagai model penerapan kurikulum 2013 atau kurikulum Merdeka, serta penyelenggaraan pengasuhan yang baik di kedua institusi tersebut. Program yang direncanakan selama 14 bulan ini diluncurkan pada tanggal 24 Oktober 2024, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan pengembangan anak usia dini di Kabupaten Sumba Barat Daya. Kolaborasi yang solid menjadi salah satu komitmen yang disepakati oleh para peserta untuk mewujudkan impian bersama, yaitu menghasilkan generasi emas Kabupaten Sumba Barat Daya yang sehat, cerdas, ceria, terlindungi dan berakhlak mulia.

MATA RAMMU, Membangun Anak usia Dini Tangguh melalui Rancang Ajar, Manajemen Bermutu, dan Pengelolaan Sumber Daya Read More ยป

Kesehatan Generasi Muda Melalui Program Kesehatan Remaja Berbasis Sekolah

SID bersama Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Sumba Timur, melaksanakan sosialisasi program kesehatan remaja berbasis sekolah kepada Pendidik dari empat sekolah yang akan menjadi model. Turut hadir, Kepala Dinas PPO dan pengawas pendamping SMAN 1 Nggaha Ori Angu. Mulai tahun 2024, SID dan ChildFund International in Indonesia akan mendukung implementasi program kesehatan remaja berbasis sekolah di wilayah dampingan. Nah, kegiatan sosialisasi ini merupakan langkah awal untuk membangun pemahaman dan komitmen bersama antara SID, Dinas PPO, serta sekolah sasaran program. ๐Œ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฉ๐š ๐ฉ๐ซ๐จ๐ ๐ซ๐š๐ฆ ๐ค๐ž๐ฌ๐ž๐ก๐š๐ญ๐š๐ง ๐ซ๐ž๐ฆ๐š๐ฃ๐š ๐›๐ž๐ซ๐›๐š๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ž๐ค๐จ๐ฅ๐š๐ก ๐ฉ๐ž๐ง๐ญ๐ข๐ง๐  ๐๐ข๐ฅ๐š๐ค๐ฌ๐š๐ง๐š๐ค๐š๐ง? ๐‘ท๐’†๐’๐’„๐’†๐’ˆ๐’‚๐’‰๐’‚๐’ ๐‘ซ๐’Š๐’๐’Š. Edukasi kesehatan di sekolah dapat membantu remaja memahami pentingnya pola hidup sehat sejak dini, yang berpotensi mencegah penyakit kronis seperti diabetes, obesitas, dan penyakit jantung di kemudian hari. ๐‘ท๐’†๐’“๐’Œ๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐‘ฒ๐’๐’ˆ๐’๐’Š๐’•๐’Š๐’‡ ๐’…๐’‚๐’ ๐‘ฌ๐’Ž๐’๐’”๐’Š๐’๐’๐’‚๐’. Remaja yang sehat secara fisik dan mental lebih mampu berkonsentrasi dan berprestasi di sekolah, yang berdampak pada kesuksesan akademis dan karir di masa depan. ๐‘ท๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’†๐’๐’•๐’–๐’Œ๐’‚๐’ ๐‘ฒ๐’†๐’ƒ๐’Š๐’‚๐’”๐’‚๐’‚๐’ ๐‘บ๐’†๐’–๐’Ž๐’–๐’“ ๐‘ฏ๐’Š๐’…๐’–๐’‘. Masa remaja adalah waktu penting untuk mengembangkan kebiasaan yang akan bertahan seumur hidup. Edukasi kesehatan di sekolah memberikan panduan dan motivasi untuk mengadopsi kebiasaan sehat. ๐‘ฒ๐’†๐’”๐’†๐’‰๐’‚๐’•๐’‚๐’ ๐‘ด๐’†๐’๐’•๐’‚๐’. Program yang mencakup kesehatan mental dapat membantu remaja mengatasi stres, depresi, dan kecemasan yang sering terjadi selama masa ini, serta mengurangi risiko perilaku berbahaya. ๐ƒ๐ซ. ๐€๐ง๐ญ๐ก๐จ๐ง๐ฒ ๐๐ข๐ ๐ฅ๐š๐ง, seorang ahli dalam kesehatan remaja dan psikologi perkembangan, menuturkan: “๐‘†๐‘โ„Ž๐‘œ๐‘œ๐‘™๐‘  ๐‘๐‘™๐‘Ž๐‘ฆ ๐‘Ž ๐‘˜๐‘’๐‘ฆ ๐‘Ÿ๐‘œ๐‘™๐‘’ ๐‘–๐‘› ๐‘๐‘Ÿ๐‘œ๐‘š๐‘œ๐‘ก๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘Ž๐‘‘๐‘œ๐‘™๐‘’๐‘ ๐‘๐‘’๐‘›๐‘ก ๐‘ค๐‘’๐‘™๐‘™-๐‘๐‘’๐‘–๐‘›๐‘”. ๐ต๐‘ฆ ๐‘Ž๐‘‘๐‘‘๐‘Ÿ๐‘’๐‘ ๐‘ ๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘๐‘œ๐‘กโ„Ž ๐‘โ„Ž๐‘ฆ๐‘ ๐‘–๐‘๐‘Ž๐‘™ ๐‘Ž๐‘›๐‘‘ ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘ก๐‘Ž๐‘™ โ„Ž๐‘’๐‘Ž๐‘™๐‘กโ„Ž, ๐‘ ๐‘โ„Ž๐‘œ๐‘œ๐‘™-๐‘๐‘Ž๐‘ ๐‘’๐‘‘ ๐‘๐‘Ÿ๐‘œ๐‘”๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘š๐‘  ๐‘๐‘Ž๐‘› ๐‘ ๐‘–๐‘”๐‘›๐‘–๐‘“๐‘–๐‘๐‘Ž๐‘›๐‘ก๐‘™๐‘ฆ ๐‘Ÿ๐‘’๐‘‘๐‘ข๐‘๐‘’ ๐‘กโ„Ž๐‘’ ๐‘Ÿ๐‘–๐‘ ๐‘˜ ๐‘œ๐‘“ ๐‘›๐‘’๐‘”๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘ฃ๐‘’ ๐‘œ๐‘ข๐‘ก๐‘๐‘œ๐‘š๐‘’๐‘  ๐‘ ๐‘ข๐‘โ„Ž ๐‘Ž๐‘  ๐‘ ๐‘ข๐‘๐‘ ๐‘ก๐‘Ž๐‘›๐‘๐‘’ ๐‘Ž๐‘๐‘ข๐‘ ๐‘’ ๐‘Ž๐‘›๐‘‘ ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘ก๐‘Ž๐‘™ โ„Ž๐‘’๐‘Ž๐‘™๐‘กโ„Ž ๐‘‘๐‘–๐‘ ๐‘œ๐‘Ÿ๐‘‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘ .”

Kesehatan Generasi Muda Melalui Program Kesehatan Remaja Berbasis Sekolah Read More ยป

“Qwarterly Meeting” Bertabur Aktor Inspiratif Penggerak Perubahan

Lima staf SID menghadiri qwarterly meeting ChildFund International in Indonesia dan lima lembaga mitra di NTT, guna membahas implementasi program pada kuartal pertama periode Juli hingga September 2024. Kegiatan kali ini bertempat di Sika, Maumere. Pertemuan ini juga melibatkan perwakilan pemerintah daerah termasuk di dalamnya BAPPEDA dan Dinas sosial provinsi NTT, serta kabupaten yang menjadi lokasi program. Pada kesempatan kali ini, ChildFund memberikan penghargaan kepada 41 orang tokoh inspiratif penggerak perubahan. Mereka berasal dari berbagai unsur masyarakat antara lain, fasilitator pengasuhan, pemerhati lingkungan hidup, paralegal perlindungan anak, wirausahawan orang muda, pemimpin muda, dan lainnya. Tentang ChildFund ChildFund International merupakan lembaga pembangunan global berfokus anak yang bekerja di 23 negara untuk menghubungkan anak-anak dengan orang-orang, sumber daya, dan lembaga yang mereka butuhkan untuk tumbuh sehat, terdidik, terampil, dan aman, di rumah, sekolah dan ranah daring. ChildFund International di Indonesia bermitra dengan 14 lembaga pemerhati anak dan beragam pemangku kepentingan untuk mempromosikan perubahan sosial yang berkelanjutan. Pada tahun fiskal 2023 dan 2024, ChildFund International di Indonesia secara langsung telah menjangkau lebih dari 2,5 juta anak dan keluarga di 8 provinsi melalui program dan layanannya.

“Qwarterly Meeting” Bertabur Aktor Inspiratif Penggerak Perubahan Read More ยป

Menjangkau 5 Juta Anak Dalam 5 Tahun

ChildFund International in Indonesia bersama 14 Lembaga Mitra menetapkan target untuk menjangkau 5 juta anak Indonesia dalam 5 tahun melalui program pemberdayaan dan perlindungan anak. Dengan lebih dari 2,5 juta anak terjangkau hingga 2024, kolaborasi ini semakin optimis bahwa target tersebut akan tercapai. Untuk menuhi sisa target tersebut, ChildFund memfasilitasi 14 mitra kerjanya dalam menyusun rencana kerja tahunan yang telah dilaksanakan pada 29 April hingga 2 Mei 2024. Program Health, Learning, Livelihood, Protection, dan Climate Action akan dikerjakan selama 2 tahun ke depan, dengan fokus pada anak dan orang muda berusia 0 hingga 24 tahun. Dalam kemitraan ini, SID akan mengembangkan program-program tersebut di 13 desa di Sumba Timur. Perencanaan tahunan ini sekaligus menjadi wadah pembelajaran bersama tentang praktik-praktik baik yang telah dilakukan di seluruh wilayah kerja ChildFund dan Mitra, tidak terkecuali tantangan, dan peluang yang ditemukan selama kurang lebih 3 tahun terakhir fase pertama program. Belajar dari pengalaman-pengalaman tersebut, berbagai strategi telah dirancang untuk meningkatkan mutu program yang akan dilaksanakan selama 2 tahun ke depan agar semakin berdampak bagi tumbuh-kembang anak.

Menjangkau 5 Juta Anak Dalam 5 Tahun Read More ยป